
BANJARKEMANTREN. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) ranting Banjarkemantren menggelar kegiatan Khotmul Quran di komplek makam Mbah Mego yang berada di wilayah dusun Pandean pada Ahad (11/6). Kegiatan tersebut merupakan agenda rutin sekali dalam dua bulan dari LDNU Banjarkemantren yang dilaksanakan secara bergantian di dua komplek makam sesepuh desa, yaitu makam Mbah Mego dan makam Sayyid Ahmad Basyaiban atau Mbah Sunduh. Komplek makam Mbah Mego sendiri berada di dusun Pandean di samping persawahan yang pada sisi utara merupakan batas.
Pagi-pagi sekali Rois Syuriah PRNU Banjarkemantren, Kiai Muhajir tiba di lokasi bersama Cak Khusni Mubarok yang juga Sekretaris ISHARI NU Banjarkemantren untuk memulai pelaksanaan khotmul Quran tersebut. Cak Khusni menyiapkan berbagai peralatan sound system yang memang menjadi keahlian tambahan beliau yang didapatkan ketika nyantri dan khidmah di Tambak Beras. Terlihat sangat cekatan beliau menyiapkan peralatan itu, sehingga tidak lama berselang mulai terdengar pembacaan tawassul dan ayat-ayat suci al-Quran.
Sedangkan di tempat yang sama, Kiai Muhajir mulai melantunkan bacaan ayat-ayat suci al-Quran. Tidak ketinggalan, Ustadz Fudzi yang saat ini khidmah sebagai ketua Tanfidziyah PRNU Banjarkemantren sudah di lokasi dan juga memulai ritualnya dengan membaca al-Quran. Di sisi utara pemakaman tersebut terlihat beberapa penggarap sawah yang melakukan berbagai aktifitas di tengah-tengah sawah garapannya. Ketika sinar mentari waktu isyroq menerpa pagar komplek pemakaman tersebut, telah terdengar alunan-alunan merdu bacaan al-Quran yang mengangkasa seiring dengan mulai tibanya wedang kopi, teh, dan beberapa makanan ringan lainnya.
Pilihan dakwah melalui khataman al-Quran di pemakaman sesepuh desa ini bukan sebatas keputusan yang bersifat sporadis tanpa tujuan. Islam memiliki keagungan nilai-nilai universal yang termaktub dalam al-Quran, sementara di sisi lain konteks sosial-kultural masyarakat memiliki kekhasan dan dinamikanya tersendiri. Nah, pada konteks dakwah diperlukan berbagai terobosan sehingga misi perbaikan umat agar menggapai kebahagiaan duniawi-ukhrawi tercapai. Khataman di komplek makam sesepuh desa merupakan cara sederhana menginfiltrasikan dua sisi tersebut. Sehingga antara misi inklusifitas nilai Islam dalam al-Quran terwadahi, dan di sisi lain misi pelestarian budaya dan social order di tengah masyarakat juga tercapai.
Ustadz Fudzil sendiri menyatakan bahwa kegiatan rutin tersebut memang menjadi bagian dari gerakan dakwah, oleh sebab itu pihak yang mengandle kegiatan ini adalah LDNU. “Kegiatan rutin ini merupakan garapan dulur-dulur di LDNU, karena memang memiliki misi dakwah”, ujarnya.(c)

A’wan MWC NU Buduran | Tukang Sapu Langgar
Mahabbah gak kenal wayah