وحكي: أن امرأة كان لها زوج منافق وكانت تقول على كل شيئ من قول اوفعل باسم الله، فقال زوجها لافعل ما أخجلها به فدفع اليها صرة، وقال لها احفظيها، فوضعها في محل وغطتها فغفلها وأخذ الصرة وأخذ ما فيها ورماها في بئر في داره، ثم طلبها منها اليها صرة فجاءت الى محلها وقالت بسم الله، فأمر الله تعالى جبريل أن ينزل سريعا ويعيد الصرة الى مكانها، فوضعت يدها لتأخذها، فوجدتها كما وضعتها، فتعجب زوجها وتاب الى الله تعالى.
Dahulu, di sebuah kota, tinggal sepasang suami istri yang tampak biasa dari luar. Rumah mereka sederhana. Kehidupan mereka tenang. Tapi di dalam, ada jurang yang dalam antara dua hati.
Sang istri adalah perempuan yang hidupnya dimulai dan diakhiri dengan nama Allah. Bukan sekadar kebiasaan lisan. Bukan sekadar tradisi yang ia terima dari ibunya lalu ia jalankan tanpa pikir. Ia membaca bismillah karena ia benar-benar sadar bahwa tangannya yang bergerak, kakinya yang melangkah, matanya yang melihat, semuanya adalah titipan. Dan titipan yang baik harus dimulai dengan menyebut nama Pemiliknya. Para ulama menyebut ini al-isti’anah, memohon pertolongan Allah sebelum melakukan apa pun. Bukan memohon setelah kesulitan datang. Bukan memohon ketika sudah tidak ada jalan lain. Tetapi sebelum. Di awal. Di saat segalanya masih tampak baik-baik saja.
Suaminya? Ia melihat semua itu. Dan hatinya tidak tenang.
Perlu kita pahami sesuatu tentang nifaq, tentang kemunafikan. Al-Qur’an tidak menggambarkan orang munafik sebagai sosok yang terang-terangan jahat. Justru sebaliknya. Surah Al-Baqarah ayat 14 berkata: “Wa idzaa laqul-ladziina aamanuu qaaluu aamannaa”. Ketika bertemu orang beriman, mereka berkata: kami pun beriman. Mereka pandai menyesuaikan wajah. Yang membedakan mereka bukan perbuatan luarnya, melainkan apa yang bergolak di dalam dadanya. Dan yang bergolak di dada suami ini adalah rasa tidak tahan melihat istrinya selalu tenteram. Ia tidak bisa merumuskan alasannya. Ia hanya tahu satu hal: ia ingin membuktikan bahwa basmalah istrinya itu tidak berguna.
Maka ia merancang sebuah ujian.
Ia datang kepada istrinya dengan sebuah kantong. Isinya berharga. Wajahnya tenang, seolah ini urusan biasa. “Jagalah kantong ini,” katanya. Sang istri menerima amanah itu dengan serius, seperti ia menerima semua amanah dalam hidupnya dengan serius. Ia letakkan di tempat yang ia anggap paling aman. Ia tutup rapat. Ia simpan dengan penuh tanggung jawab.
Di sinilah suami menjalankan bagian keduanya. Ia menunggu saat istrinya lengah. Fa ghafalaha, demikian bunyi matan, ia membuatnya lupa. Ada yang menafsirkan ini sebagai kelupaan biasa, sang istri pergi ke bagian lain rumah lalu lupus sebentar. Ada yang menafsirkan ini sebagai tipu daya aktif, suami sengaja mengalihkan perhatian istrinya dengan obrolan atau keperluan lain. Yang manapun, hasilnya sama: sang istri tidak memperhatikan, dan suami mengambil kantong itu. Ia keluarkan isinya. Ia buang kantong kosong itu ke dalam sumur di halaman rumah mereka sendiri. Lalu ia kembali ke wajah normalnya, seolah tidak ada yang terjadi.
Nasihat pertama ada di sini, tersembunyi di balik tindakan suami ini. Tipu daya yang paling berbahaya bukan yang datang dari musuh yang jelas. Tipu daya yang paling berbahaya adalah yang datang dari orang yang kita percaya, dari orang yang kita anggap bagian dari diri kita. Rasulullah saw bersabda: “Al-Muslim man salimal muslimuna min lisanihi wa yadihi”. Seorang Muslim sejati adalah yang kaum Muslimin lain aman dari lisan dan tangannya. Suami dalam kisah ini menggunakan tangannya bukan untuk melindungi, melainkan untuk menjebak. Dan ia lakukan itu di dalam rumahnya sendiri.
Waktu berlalu. Kemudian datanglah saat yang ia tunggu.
“Kembalikan kantongnya,” katanya kepada istrinya.
Sang istri berdiri. Ia melangkah menuju tempat penyimpanan itu. Dan di bibirnya, seperti selalu, seperti setiap kali ia melangkah menuju apa pun, terucap: Bismillah.
Sekarang kita perlu berhenti sejenak di sini. Karena ini adalah titik paling penting dalam seluruh kisah ini. Sang istri tidak tahu kantongnya dicuri. Ia tidak tahu ada ancaman. Ia tidak sedang berdoa meminta pertolongan karena merasa dalam bahaya. Ia hanya melakukan apa yang selalu ia lakukan. Bismillah itu bukan senjata darurat. Bukan rem panik. Bukan pelampung yang ia raih ketika hampir tenggelam. Basmalah itu sudah menjadi napasnya sehari-hari, sehingga ketika Allah menggerakkan pertolongan-Nya, Ia tidak menggerakkannya sebagai respons atas kegentingan situasi, melainkan sebagai respons atas kesetiaan yang sudah berlangsung lama.
Ini yang Ibnu Atha’illah tulis dalam Al-Hikam: “Man azzahat amalahu azza nashruhu”. Siapa yang amalannya mulia, maka pertolongannya pun mulia. Pertolongan Allah kepada sang istri bukan hadiah mendadak. Ia adalah buah dari pohon yang sudah lama ditanam.
Dan buah itu jatuh pada saat itu.
Allah memerintahkan Jibril turun. Sari’an, dengan cepat. Kata ini dalam matan Arab bukan hiasan. Ia menunjukkan bahwa di sisi Allah, tidak ada birokrasi, tidak ada antrean, tidak ada prosedur yang memperlambat. Ketika hamba-Nya yang setia melangkah sambil menyebut nama-Nya, respons-Nya bukan respons yang lambat. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 186: “Ujiibud-da’wata daa’i idzaa da’aani”. Aku kabulkan permohonan orang yang memohon ketika ia memohon kepada-Ku. Bukan: Aku akan pertimbangkan. Bukan: Aku akan lihat situasinya dulu. Langsung.
Jibril turun. Kantong dikembalikan ke tempatnya. Persis seperti semula.
Tangan sang istri menjangkau masuk. Dan ia menemukannya. Kantong itu ada. Utuh. Tidak ada yang berubah, tidak ada yang hilang, tidak ada yang berbeda. Ia angkat kantong itu dan ia bawa kepada suaminya.
Bayangkan wajah suami itu saat menerima kantong dari tangan istrinya.
Ia tahu persis apa yang telah ia lakukan. Ia tahu persis kantong itu seharusnya kosong dan tergeletak di dasar sumur. Tidak ada penjelasan yang bisa ia susun. Tidak ada kebetulan yang bisa ia gunakan sebagai alibi. Ia menyaksikan sendiri, dengan mata yang sama yang tadi menyaksikan ia membuang kantong itu, bahwa ada kekuatan lain yang bekerja. Kekuatan yang tidak bisa ia akali. Kekuatan yang tidak peduli betapa rapinya rencananya.
Fa ta’ajjaba zawjuha. Maka terkagumlah suaminya.
Ini bukan kagum yang ringan. Dalam tradisi balagah Arab, ta’ajjub bukan sekadar terkejut. Ia adalah kondisi di mana akal berhenti, di mana penjelasan habis, di mana seseorang terpaksa mengakui ada realitas yang lebih besar dari jangkauan pikirannya. Suami itu berdiri di depan bukti yang ia sendiri rancang, yang kini menjadi saksi atas ketidakberdayaannya.
Dan dari situ ia bertobat.
Taba ilallahi ta’ala. Ia kembali kepada Allah.
Perhatikan baik-baik: ia tidak bertobat karena mendengar ceramah. Ia tidak bertobat karena istrinya menasihatinya. Ia tidak bertobat karena ada ancaman atau paksaan. Ia bertobat karena menyaksikan. Allah memakai tipu daya sang suami sendiri sebagai jalan untuk membuka hatinya. Rencana yang ia susun untuk mempermalukan istrinya justru menjadi cermin yang memperlihatkan kelemahan dirinya. Wa makaruu wa makarallahu wallahu khayrul maakiriina, demikian QS. Ali Imran ayat 54 berkata. Mereka menipu, dan Allah membalas tipu daya mereka. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.
Ada pelajaran yang perlu kita bawa pulang dari kisah ini, dan pelajaran itu bukan tentang kantong.
Pelajaran itu tentang bagaimana kita memulai sesuatu. Basmalah sang istri bukan sihir. Ia bukan mantra yang otomatis mengundang malaikat turun setiap kali diucapkan. Yang membuat basmalah sang istri memiliki bobot di sisi Allah adalah karena ia tidak pernah mengucapkannya dengan kosong. Setiap kali lisannya berkata bismillah, hatinya hadir. Ia sadar kepada siapa ia meminta izin untuk memulai. Ia sadar bahwa apa yang hendak ia lakukan bukan semata-mata urusannya sendiri.
Itulah yang kita sebut tawakkul, bersandar kepada Allah. Bukan tawakkul yang pasif, yang duduk menunggu tanpa bergerak. Sang istri tetap bergerak, tetap menyimpan kantong, tetap menjaga amanah. Tapi setiap gerakannya ia sandarkan kepada Allah. Dan orang yang benar-benar bersandar kepada Allah, seperti yang dijanjikan dalam QS. At-Talaq ayat 3, akan Allah cukupi urusannya. Wa man yatawakkal ‘alallahi fa huwa hasbuhu. Siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah cukup baginya.
Cukup. Bukan sekadar dibantu. Bukan sekadar dikuatkan. Hasbuhu. Allah cukup baginya.
Kisah ini berakhir dengan tobat sang suami. Tapi sesungguhnya kisah ini dimulai jauh sebelum kantong itu ada, jauh sebelum rencana jahat itu disusun. Kisah ini dimulai setiap pagi, setiap kali sang istri mengangkat tangannya untuk mulai bekerja dan bibirnya bergerak mengucapkan nama Allah. Di sanalah kisah sebenarnya berawal. Dan di sanalah pula kita perlu memulai kisah kita masing-masing, hari ini, dan setiap hari sesudahnya.
