
الحكمة: ۱٨
.إِحَالَتُكَ الْأَعْمَالَ عَلىَ وُجُوْدِ الْفَرَاغِ مِنْ رُعُوْنَاتِ النَّفْسِ
تڮسى: أوليه سيرا ۑـماياني عمل سارانا سيرا نوجو ڠاڠڮور إيكو تيمبول سڠكيڠ كومڤروڠي نفس سيرا.
Menunda-nunda untuk melakukan amal ibadah padahal ada waktu senggang, merupakan sebagian ekspresi kebodohan.
الإحالة على الشيئ: هو تسليطه وإغراؤه عليه، والمراد هنا: توقف الأمر عليه؛ بحيث لا يتوجه له حتى يتيسر وجوده، والفراغ من الشيئ: خلوه منه: وفراغ القلب: خلوه مما يشغله، وفراغ الجوارح: خلوها من الأشغال، والرعونة: نوع من الحمق.
Al-ihālah ‘alā asy-syai’ (menyandarkan sesuatu kepada yang lain): yaitu mengarahkan dan mendorongnya kepada hal tersebut. Yang dimaksud di sini adalah bergantungnya suatu perkara kepadanya, sehingga perkara itu tidak dapat terwujud kecuali setelah hal tersebut tersedia. Adapun al-farāgh min asy-syai’ (kekosongan dari sesuatu): yaitu kosongnya sesuatu dari hal itu. Farāgh al-qalb (kekosongan hati): yaitu kosongnya hati dari segala hal yang menyibukkannya. Farāgh al-jawāriḥ (kekosongan anggota badan): yaitu kosongnya anggota badan dari berbagai kesibukan. Sedangkan ar-ra’ūnah (kedunguan): adalah salah satu bentuk kebodohan.
.من آداب العارف أن يكون كامل العقل، ثاقب الذهن
Di antara adab seorang arif (yang mengenal Allah) adalah memiliki akal yang sempurna dan pikiran yang tajam.
.ومن علامة العقل إنتهاز الفرصة في العمل، ومبادرةُ العمر من غير تسويف ولا أمل؛ إذ ما فات منه لا عوض له، وما حصل لا قيمة له
Di antara tanda kecerdasan akal adalah memanfaatkan kesempatan dalam beramal, serta bersegera menggunakan usia tanpa menunda-nunda dan tanpa berangan-angan panjang; sebab apa yang telah berlalu darinya tidak ada penggantinya, dan apa yang telah diperoleh tidak ada nilainya (jika disia-siakan).
.وفي الحديث عن رسول االله صلى االله عليه وسلم أنه قال: ألا وأن من علامة العقل التجافي عن دار الغرور والإنابة إلى دار الخلود والتزود لسكني القبور والتأهب ليوم النشور
.وقال صلى االله عليه وسلم: «الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْأَحْمَقُ مَنِ اتَّبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى االلهِ الْأَمَانِيَّ» اهـ
Dan dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya di antara tanda kecerdasan (akal) seseorang adalah menjauhkan diri dari negeri tipu daya (dunia), kembali menuju negeri keabadian (akhirat), mempersiapkan bekal untuk kediaman di kubur, serta bersiap-siap menghadapi hari kebangkitan.”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan (mengendalikan) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, namun tetap berangan-angan mendapatkan (ampunan dan rahmat) dari Allah.” Selesai.
.و الكَيِّس هو العاقل. ودان نفسه: حاسبها
Al-Kayyis adalah orang yang berakal. Dan ‘dana nafsahu’ bermakna: ia menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri.
وفي صحف إبراهيم -عليه السلام-: وعلى العاقل ما لم يكن مغلوبًا على عقله أن تكون له ساعات: ساعةٌ يناجي فيها ربه -عز وجل- وساعةٌ يحاسب فيها نفسه، وساعة يتفكر فيها في صنع االله -عز وجل- وساعة يخلو فيها بحاجته من المطعم والمشرب
Dan di dalam shuhuf (lembaran-lembaran) Ibrahim -‘alaihissalam-: Hendaknya orang yang berakal, selama tidak dikalahkan oleh akalnya, memiliki beberapa waktu: waktu untuk bermunajat kepada Rabb-nya -‘azza wa jalla-, waktu untuk menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, waktu untuk merenungkan ciptaan Allah -‘azza wa jalla-, dan waktu untuk menyendiri memenuhi kebutuhannya berupa makan dan minum.
.وعلى العاقل أن لا يكون ظاعنًا إلا لثلاث: تزوُّد لمعاد، أو مَرَمَّةٍ لمعاشٍ أو لذَّةٍ من غير مُحَرَّم، وعلى العاقل أن يكون بصيرًا بزمانه مقبلًا على شأنه، حَفَّاظًا للسانه
Orang yang berakal hendaknya tidak bepergian kecuali untuk tiga hal: mencari bekal untuk akhirat, memperbaiki sarana penghidupan, atau mencari kesenangan yang tidak diharamkan. Dan orang yang berakal hendaknya cerdas memahami zamannya, senantiasa fokus pada urusannya, serta pandai menjaga lisannya.
.ومن حسب كلامه من عمله قل كلامه إلا فيما يعنيه اهـ
Barang siapa yang memperhitungkan ucapannya sebagai bagian dari amalnya, niscaya ia akan sedikit berbicara, kecuali dalam perkara yang bermanfaat baginya. Selesai (اهـ).
فاحالتك الأعمال وتأخيرها إلى وقت آخر تكون فيه فارغ القلب أو القالب من علامة الرعونة، والحمق وهو غرور، ومن أين لك أن تصل إلى ذلك الوقت، والموت هاجم عليك من حيث لا تشعر؟ وعلى تقدير وصولك إليه لا تأمن من شغل آخر يعرض لك، وفراغ الأشغال من حيث هو نادرٌ لقوله -عليه السلام- «نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»
Menunda-nunda amal dan mengakhirkannya ke waktu lain, dengan harapan hati atau badanmu akan kosong dari kesibukan, adalah tanda kedunguan dan kebodohan, sebab hal itu hanyalah tipuan belaka. Dari mana kau tahu bahwa kau akan sampai pada waktu tersebut, sedangkan maut bisa menyerangmu dari arah yang tak kau sadari?
Seandainya pun kau sampai pada waktu itu, kau tetap tidak akan aman dari kesibukan lain yang menghadang, karena waktu luang dari segala kesibukan itu sangatlah jarang terjadi. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
“Ada dua nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
.أي كثير من الناس فقدوهما وغبنوا فيهما إذ كثير منهم لا تجده إلا مشغولاً بدنياً أو مفتوناً بهوًى، أو مريضًا مبتلًى
Yakni, kebanyakan manusia telah kehilangan keduanya dan merugi karenanya. Sebab, kebanyakan mereka tidak engkau dapati kecuali dalam keadaan sibuk dengan urusan dunia, terfitnah oleh hawa nafsu, atau sakit yang menimpanya.
ومفهوم الكثير أن القليل من الناس رزقهم االله الصحة والفراغ، فإن عمروهما بطاعة مولاهم فقد شكروا وربحوا ربحاً عظيماً وإن ضيعوهما، فقد خسروا خسرانًا مبينًا، وكفروا بهااتين النعمتين فجدير أن تسلبا عنهم، وهو أيضاً من علامة الخذلان
Dan sudah dimaklumi oleh banyak orang bahwa hanya sedikit dari manusia yang dikaruniai oleh Allah kesehatan dan waktu luang. Maka, apabila keduanya diisi dengan ketaatan kepada Tuhannya, sungguh mereka telah bersyukur dan meraih keuntungan yang besar. Namun apabila keduanya disia-siakan, sungguh mereka telah merugi dengan kerugian yang nyata, serta telah mengingkari kedua nikmat tersebut. Maka pantaslah bila kedua nikmat itu dicabut dari mereka, dan hal itu pun termasuk tanda kehinaan (al-khidzlān).
«وسيأتي من كلام الشيخ: «الخذلان كُلُّ الْخِذْلَان أن تَقِلَّ عَوَائِقُكَ ثُمَّ لَا تُقبِلُ عليه
Dan akan datang dari perkataan Sang Syekh: “Kelalaian yang sebenar-benarnya kelalaian adalah ketika rintangan-rintanganmu berkurang, namun engkau tetap tidak menghadap kepada-Nya.”
.فالواجب على الإنسان أن يقطع علائقه وعوائقه، ويخالف هواه، ويبادر إلى خدمة مولاه، ولا ينتظر وقتًا آخر؛ إذ الفقير ابن وقته، فلا تجده مشغولًا إلا بفكرة أو نظرة، أو ذكر أو مذاكرة، أو خدمة شيخ يوصله إلى مولاه
Maka wajib bagi seorang insan untuk memutuskan segala keterikatan dan penghalangnya, menyalahi hawa nafsunya, serta bersegera dalam berkhidmat kepada Tuhannya, tanpa menunggu waktu yang lain. Sebab seorang faqir adalah anak dari waktunya; maka tidaklah engkau dapati dirinya sibuk kecuali dengan pemikiran atau perenungan, dengan dzikir atau muzakarah, ataupun dengan berkhidmat kepada seorang syaikh yang mengantarkannya kepada Tuhannya.
.وقد قلت: لبعض الإخوان الفقير الصديق ليس له فكرة ولا هدرة إلا في إلا في الحضرة أو ما يوصله للحضرة، واالله تعالى أعلم
Aku pernah berkata kepada sebagian ikhwan (saudara): ‘Seorang faqir yang sejati (shiddiq) tidak memiliki pikiran maupun perkataan, kecuali tentang hadirat (Ilahi) atau apa saja yang mengantarkannya kepada hadirat tersebut.’ Wallahu ta’ala a’lam.
:ثم ذكر الأدب الثالث وهو إقامته حيث أقامه االله فقال
Kemudian beliau menyebutkan adab yang ketiga, yaitu menetapnya (dirinya) di tempat Allah menempatkannya, maka beliau berkata:


Saran, kritik, masukan, dan bimbingan sangat diharapkan dari segenap pembaca yg budiman. Mugio dados ilmu ingkang manfaat amiiin ya Robbal alamiiin, 🤲