
الحكاية الرابعة والثلاثون: في الزهد والصدق والعدل
HIKAYAH YANG KE-TIGA PULUH EMPAT: [“ZUHUD, JUJUR DAN ADIL”]
حكي: أن الملك كسرى كان أعدل الملوك، قيل: إن رجلا اشترى دارا من رجل اخر، فوجد المشترى فيها كنزا فمضى إلى البائع وأخبره به، فقال له البائع: إنما بعتك دارا لا أعرف فيها كنزا فهو لك، فقال المشترى: لابد أن تأخذه فإنه ليس داخلا فيما اشتريت. فطال الجدال بينهما فتحاكما إلى ملك كسرى.
Diceritakan bahwa Raja Kisra adalah raja yang paling adil di antara para raja. Dikisahkan bahwa seorang lelaki membeli sebuah rumah dari lelaki lain. Lalu pembeli itu menemukan harta karun di dalamnya. Ia pun mendatangi penjual dan memberitahukan hal itu kepadanya. Penjual berkata, “Aku hanya menjual rumah kepadamu, aku tidak mengetahui adanya harta karun di dalamnya, maka itu menjadi milikmu.” Pembeli berkata, “Engkau harus mengambilnya, sebab harta itu bukan termasuk apa yang aku beli.” Perdebatan antara keduanya pun berlangsung lama, hingga akhirnya mereka mengadukan perkara itu kepada Raja Kisra.
فلما وقفا بين يديه وذكرا له أمر الكنز أطرق مليا، ثم قال لهما: هل معكما أولاد؟ فقال البائع: إن لي ولدا ذكرا بالغا، وقال المشتري: إن لي بنتا بالغة. فقال كسرى لهما: أمرتكما أن تزوجا الابن بالبنت ليكون بينهما صلة وقرابة وأنفقا ذلك الكنز في مصالحهما ففعلا ذلك امتثالا لأمر الملك.
Ketika keduanya berdiri di hadapannya dan menceritakan perkara harta karun tersebut, sang raja terdiam sejenak sambil menundukkan kepala. Kemudian ia bertanya kepada keduanya, “Apakah kalian berdua memiliki anak?” Penjual menjawab, “Aku memiliki seorang anak laki-laki yang telah dewasa.” Pembeli menjawab, “Aku memiliki seorang anak perempuan yang telah dewasa.” Kisra berkata kepada keduanya, “Aku perintahkan agar anak laki-laki itu dinikahkan dengan anak perempuan itu, supaya terjalin hubungan kekerabatan di antara kalian, dan gunakanlah harta karun itu untuk kemaslahatan keduanya.” Maka keduanya pun melaksanakan hal itu sebagai bentuk kepatuhan terhadap perintah sang raja.
وقيل: إنه ولى عاملا على بعض البلاد فأرسل له العامل زيادة على الخراج المعتاد في كل سنة، فلما بلغ ذلك كسرى أمر برد الزيادة إلى أصحابها وأمر بصلب ذلك العامل. وقال: كل ملك أخذ من رعيته شيئا ظلما لايفلح أبدا وترتفع البركة من أرضه ويكون وبالا عليه.
Dikisahkan pula bahwa Kisra pernah mengangkat seorang pejabat untuk memimpin suatu negeri. Pejabat itu kemudian mengirimkan kepadanya kelebihan pajak di luar jumlah yang biasa dipungut setiap tahun. Ketika hal itu sampai kepada Kisra, ia memerintahkan agar kelebihan tersebut dikembalikan kepada pemiliknya, dan ia memerintahkan agar pejabat itu disalib. Ia berkata, “Setiap raja yang mengambil sesuatu dari rakyatnya dengan cara zalim, ia tidak akan pernah beruntung. Keberkahan akan hilang dari negerinya, dan hal itu akan menjadi bencana baginya.”
.ثم قال: الملك بالملك، والملك بالجند، والجند بالمال، والمال بعمارة البلاد، وعمارة البلاد بالعدل في الرعية والسلام
Kemudian ia berkata, “Kerajaan tegak dengan raja, raja tegak dengan bala tentara, bala tentara tegak dengan harta, harta tegak dengan kemakmuran negeri, dan kemakmuran negeri tegak dengan keadilan terhadap rakyat serta perdamaian.”
.وقال بعض الحكماء لما سئل: أيما أفضل للملك الشجاعة أو العدل؟ فقال: إذا عدل الملك لايحتاج إلى الشجاعة، والله المعين
Berkata salah seorang dari Ulama’ ahli hikmah: “Manakah yang lebih utama bagi seorang raja, keberanian ataukah keadilan?” Ia menjawab, “Apabila seorang raja telah berbuat adil, maka ia tidak lagi memerlukan keberanian.” Wallahu a’lam, dan Allah-lah sebaik-baik penolong.


Saran, kritik, masukan, arahan, dan bimbingan sangat diharapkan dari segenap pembaca yang budiman. Mugio dados ilmu ingkang manfaat, amiiin ya Robbal’alamiiin