HIKMAH KE-29 AL-HIKAM AL-‘ATHAIYAH

الحكمة: ۲۹ من الحكم العطائية

شَتَّانَ بَينَ مَنْ يَسْتَدِلُّ بِهِ أَوْ يَسْتَدِلُّ عَلَيِهِ. المُسْتَدِلُّ بِهِ عَرَفَ الحَقَّ لأَهْلِهِ، فأَثْبَتَ الأَمْرَ مِنْ وُجودِ أَصْلِهِ. وَالاسْتِدْلالُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الوُصولِ إليَهِ، وَإلّا فَمَتى غابَ حَتّى يُسْتَدَلَّ عَلَيْهِ؟! وَمَتى بَعُدَ حَتّى تَكونَ الآثارُ هِيَ الَّتي تُوْصِلُ إلَيْهِ؟!

تڮسي: أدوه باڠت، انتارانى ووڠكڠ نودوهاكي كبيه مخلوق كنطي كأڮوڠاني الله، لن ووڠكڠ ڮاوي دليل مراڠ كأڮوڠاني الله كنطي سكابيهي عالم، يين ووڠكڠ اڠڮونأكي دليل كأڮوڠاني الله مراڠ لياني إيكو وروه حق مراڠ كڠ كأڮوڠان حق، نتڨاكي ڨركرا سڠكيڠ صفة وجودي أصلي، يين أنا ووڠ ڮاوي دليل كنطي أناني كبيه مخلوق إيكو كرانا ووڠ إيكو دوروڠ وصول مراڠ الله. لن لمون أورا مڠكونو، إڠ موڠصا كاڨن الله تعالى سمار سهيڠڮا ڨرلو دي دليلي ڠاڠڮو ڨركارا كڠ ۑاطا؟ لن كاڨن الله تعالى أدوه سهيڠڮا لابت۲تي الله إيكو ڨركارا كڠ نكأكي مراڠ الله؟

Betapa jauh bedanya antara orang yang berdalil bahwa ‘adanya Allah menunjukan adanya alam’, dengan orang yang berdalil bahwa ‘adanya alam menunjukkan adanya Allah’. orang yang berdalil dengan adanya Allah menunjukkan adanya alam’ itu mengerti betul bahwa kebenaran adalah bagi sang pemilik, sehingga ia menetapkan segala perkara dengan merujuk kepada asalnya (Allah). sedangkan orang yang berdalil adanya alam menunjukkan adanya Allah’ adalah karena ia tidak sampai kepada-Nya. Kapan Allah gaib sehingga diperlukan bukti untuk mengetahui keberadaan-Nya.? Dan bilakah Dia itu jauh, sehingga benda-benda alamlah yang mengantar kita kepada-Nya.

شتان بمعنى بعد وأفترق، ولا تكون إلا في إفتراق المعاني دون الحسيات.

Kata “syattaan” bermakna jauh dan berpisah, dan lafaz ini tidak digunakan kecuali untuk perpisahan makna-makna, bukan untuk perpisahan hal-hal yang bersifat inderawi.

قلت: اعلم أن الحق تعالى سبحانه لما أراد أن يتجلى بأسرار ذاته وأنوار صفاته أظهر بقدرته قبضة من نوره الأزلي، فأقتضت القدرة ظهور آثارها وشهود أنوارها، وأقتضت الحكمة إسدال حجابها وإظهار أستارها، فلما أفرغت القدرة نورها في مظاهر الكون أسدلت عليها الحكمة رداء الصون ، فصارت الأكوان كلها نورًا في حجاب مستور.

Aku berkata: Ketahuilah, bahwa Allah Yang Mahabenar lagi Mahasuci, tatkala berkehendak untuk bertajalli dengan rahasia-rahasia Zat-Nya dan cahaya-cahaya Sifat-Nya, Dia menampakkan dengan kekuasaan-Nya segenggam dari cahaya-Nya yang azali. Maka kekuasaan itu menuntut tampaknya jejak-jejaknya dan tersaksikannya cahaya-cahayanya, sedangkan hikmah menuntut diturunkannya hijab dan ditampakkannya tirai-tirainya. Maka tatkala kekuasaan mencurahkan cahaya-Nya ke dalam mazhahir (bentuk-bentuk yang tampak) alam semesta, hikmah pun menyelubunginya dengan jubah pemeliharaan. Maka jadilah seluruh alam semesta ini cahaya yang tersembunyi di balik hijab.

ثم إن الحق سبحانه قسم الخلق على قسمين وفرقهم فرقتين: قسم أختصهم بمحبته وجعلهم من أهل ولايته، ففتح لهم الباب، وكشف لهم الحجاب فأشهدهم أسرار ذاته، ولم يحجبهم عنه بأثار قدرته، وقسم أقامهم لخدمته، وجعلهم من أهل حكمته، أسدل عليهم حجاب الوهم، وغيب عنهم نور العلم والفهم، فوقفوا مع ظواهر القشور ولم يشهدوا بواطن النور، مع شدة الظهور، فسبحان من أخفي سره بحكمته، وأظهر نوره بقدرته.

Kemudian sesungguhnya Allah Yang Mahabenar membagi makhluk menjadi dua golongan dan memisahkan mereka menjadi dua kelompok: satu golongan Dia khususkan dengan cinta-Nya dan Dia jadikan mereka termasuk ahli wilayah-Nya. Maka Dia bukakan bagi mereka pintu, Dia singkapkan bagi mereka hijab, sehingga Dia perlihatkan kepada mereka rahasia Zat-Nya, dan Dia tidak menghijab mereka dari-Nya dengan bekas-bekas kekuasaan-Nya. Golongan yang lain Dia tempatkan untuk berkhidmat kepada-Nya, dan Dia jadikan mereka termasuk ahli hikmah-Nya. Dia turunkan atas mereka hijab wahm (ilusi), dan Dia gaibkan dari mereka cahaya ilmu dan pemahaman. Maka mereka berhenti pada yang lahir dari kulit dan tidak menyaksikan yang batin dari cahaya, padahal kejelasan itu begitu nyata. Maka Mahasuci Dzat yang menyembunyikan rahasia-Nya dengan hikmah-Nya, dan menampakkan cahaya-Nya dengan kekuasaan-Nya.

فأما أهل المحبة وهم أهل الولاية والعرفان، من أهل الشهود والعيان، فهم يستدلون بالنور على وجود الستور، فلا يرون إلا النور، وبالحق على وجود الخلق فلا يجدون إلا الحق، وبقدرته على حكمته فوجدوا قدرته عين حكمته، وحكمته عين قدرته، فغابوا بشهود الحق عن رؤية الخلق، إذ محال أن تشهده وتشهد معه سواه.

Adapun ahli mahabbah, yaitu ahli wilayah dan makrifat, dari kalangan ahli syuhud dan penglihatan langsung, mereka berdalil dengan cahaya atas adanya hijab, sehingga mereka tidak melihat kecuali cahaya. Mereka berdalil dengan al-Haqq atas adanya makhluk, sehingga mereka tidak mendapati kecuali al-Haqq. Mereka berdalil dengan kekuasaan-Nya atas hikmah-Nya, sehingga mereka mendapati kekuasaan-Nya adalah hikmah-Nya itu sendiri, dan hikmah-Nya adalah kekuasaan-Nya itu sendiri. Maka mereka lenyap dalam penyaksian al-Haqq dari memandang makhluk, karena mustahil engkau menyaksikan-Nya sekaligus menyaksikan selain-Nya bersama-Nya.

وأما أهل الخدمة من أهل الحكمة فهم يستدلون بظهور الستور على وجود النور، وبالخلق على وجود الحق، غابوا عنه في حال حضوره، وحجبوا عنه بشدة ظهوره.

Adapun ahli khidmah dari kalangan ahli hikmah, mereka berdalil dengan tampaknya hijab atas adanya cahaya, dan dengan makhluk atas adanya al-Haqq. Mereka lenyap dari-Nya dalam keadaan kehadiran-Nya, dan mereka terhijab dari-Nya justru karena kejelasan-Nya yang sangat nyata.

قال بعض العارفين: أثبت االله تعالى للعامة المخلوق فأثبتوا به الخالق، وأثبت للخاصة نفسه فأثبتوا به المخلوق اهـ.

Sebagian ahli makrifat (al-‘arifin) berkata: Allah ta‘ala menetapkan makhluk bagi orang awam, maka mereka mengenal Sang Pencipta melalui makhluk itu. Dan Allah menetapkan diri-Nya sendiri bagi orang-orang khusus, maka mereka mengenal makhluk melalui-Nya. Demikian ucapan beliau.

فشتان: أي فرق كبير بين من يستدل به على ظهور أثره، وبين من يستدل بظهور أثره على وجوده.

Maka sungguh jauh berbeda, yakni terdapat perbedaan besar, antara orang yang berdalil dengan Allah atas munculnya jejak (atsar)-Nya, dengan orang yang berdalil dengan munculnya jejak-Nya atas keberadaan-Nya.

لأن من يستدل به عرف الحق وهو الوجود الحقيقي لأهله: أي لمن هو أهل له ويستحقه وهو االله الواجب الوجود، الملك المعبود. وأثبت الأمر وهو القدم للوجود الحقيقي من وجود أصله: وهو الجبروت الأصلي القديم الأزلي، يعني أن من عرف االله حتى صار عنده ضروريًا عرف الوجود إنما هو االله، وأنتقى عنه وجود ما سواه، وأثبت القدم لأوله ومنتهاه.

Sebab barangsiapa berdalil dengannya, niscaya ia mengenal al-Haqq, yaitu wujud hakiki bagi ahlinya: yakni bagi siapa yang berhak dan layak atasnya, yaitu Allah Yang Wajib Wujud-Nya, Raja Yang Disembah. Dan ia menetapkan perkara, yaitu keqadiman, bagi wujud hakiki dari wujud asalnya: yaitu jabarut asli yang qadim lagi azali. Maksudnya, barangsiapa mengenal Allah hingga hal itu menjadi suatu keniscayaan baginya, niscaya ia mengetahui bahwa wujud itu tiada lain hanyalah Allah, dan ia meniadakan darinya wujud selain-Nya, serta menetapkan keqadiman bagi permulaan dan penghabisannya.

أو تقول عرف الحق وهو الوجود الأصلي لأهله وهو االله تعالى.  وأثبت الأمر وهو الوجود الفرعي من وجود أصله أي الحقه بأصله، فإذا ألتحق الفرع بالأصل صار الجميع جبروتيّا أصليّا.

Atau dapat pula dikatakan: ia mengenal al-Haqq, yaitu wujud asli bagi ahlinya, yaitu Allah ta‘ala. Ia pun menetapkan perkara itu, yaitu wujud far‘i (cabang), berangkat dari wujud asalnya, artinya ia menyambungkan cabang tersebut kepada asalnya. Maka apabila cabang telah tersambung dengan asalnya, jadilah keseluruhannya jabarut asli.

ويحتمل أن يكون معناهما واحدًا، ويكون التقدير عرف الوجود الحقيقي لأهله، وأثبت ذلك الأمر من أصله، كقولك: عرفت هذا الحكم وأثبت به من أصله واالله تعالى أعلم.

Dimungkinkan pula bahwa makna keduanya sesungguhnya satu, sehingga maksud yang dikandung adalah: ia mengenal wujud hakiki bagi ahlinya, dan ia menetapkan perkara tersebut berangkat dari asalnya. Seperti ucapanmu: “Aku mengetahui hukum ini dan aku menetapkannya berdasarkan asalnya.” Wallahu ta‘ala a‘lam.

وأما من يستدل عليه فلبعده عنه في حال قربه منه، ولغيبته عنه في حال حضوره معه بعده الوهم، وغيبه عدم الفهم، وإلا فمتى غاب حتى يستدل عليه، إذ هو أقرب إليك من حبل الوريد ومتى بعد حتى تكون الآثار الوهمية هي التي توصل إليه: ﴿وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ، الحديد: ٤﴾

Adapun orang yang mencari dalil atas keberadaan-Nya, hal itu terjadi karena jauhnya dirinya dari-Nya, padahal ia sesungguhnya dekat dengan-Nya. Ketidakhadirannya dari-Nya, padahal Dia hadir bersamanya, semata karena kejauhan itu hanyalah wahm (persangkaan yang keliru), dan ketidakhadirannya itu hanyalah karena tiadanya pemahaman.

Jika bukan demikian, kapan Dia pernah gaib sehingga perlu dicari dalil atas-Nya? Sebab Dia lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu sendiri. Dan kapan pula Dia pernah jauh, sehingga jejak-jejak wahm itulah yang mengantarkan kepada-Nya?

﴿وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ﴾ (الحديد: ٤)

Dan Dia bersama kalian di mana pun kalian berada”

إذ أثر القدرة هو عينها، فالصفة لا تفارق الموصوف، إذ لا قيام لها إلا به، ولا ظهور لها إلا منه، وسيأتي له في المناجاة: إلهي كيف يُستَدلّ عليك بما هو في وجوده مفتقر إليك، أيكون لغيرك ما ليس لك حتى يكون هو المظهر لك؟ متى غبت حتى تحتاج إلى دليل يدل عليك؟ ومتى بعدت حتى تكون الآثار هي التي توصل إليك؟ واالله تعالى أعلم.

Sebab bekas kekuasaan itu adalah kekuasaan itu sendiri, maka sifat tidak pernah berpisah dari yang disifati. Sifat tidak berdiri kecuali dengan yang disifati, dan tidak tampak kecuali dari yang disifati. Penjelasan ini akan datang pula dalam munajat beliau: “Ya Tuhanku, bagaimana Engkau dibuktikan dengan sesuatu yang keberadaannya sendiri butuh kepada-Mu? Adakah bagi selain-Mu sesuatu yang tidak Engkau miliki, sehingga ia menjadi penampak bagi-Mu? Kapan Engkau gaib, sehingga perlu dalil yang menunjukkan-Mu? Kapan Engkau jauh, sehingga bekas-bekas ciptaan itulah yang mengantar seseorang kepada-Mu?” Wallahu ta’ala a’lam.

ولما كان المستدلون باالله قد وسع االله عليهم دائرة العلوم، وفتحت لهم مخازن الفهوم، بخلاف المستدلين عليه قد قتر االله عليهم أرزاق العلم، بوجود حجاب الوهم، أشار إلى ذلك بقوله:

Dan karena orang-orang yang berdalil dengan Allah (al-mustadillun billah) telah diluaskan oleh Allah cakupan ilmu mereka, dan telah dibukakan bagi mereka gudang-gudang pemahaman, berbeda halnya dengan orang-orang yang berdalil kepada Allah (al-mustadillun ‘alaihi) yang telah disempitkan oleh Allah rezeki ilmu mereka, karena adanya hijab wahm (tabir persangkaan), maka beliau mengisyaratkan hal tersebut dengan ucapannya: