
الحكمة: ۳٨ من الحكم العطائية
لَا تَرْفَعَنَّ إلى غَيْرِهِ حاجَةً هُوَ مُوْرِدُها عَلَيْكَ. فَكَيْفَ يَرْفَعُ غَيْرُهُ ما كانَ هُوَ لَهُ واضِعًا؟! مَنْ لا يَسْتَطيعُ أَنْ يَرْفَعَ حاجَةً عَنْ نَفْسِهِ فَكَيْفَ يَسْتَطيعُ أنْ يَكونَ لَها عَنْ غَيْرِهِ رَافِعًا؟!
تڮسي: هي مريد! سيرا أجا ڠاتوراكي حاجة سيرا مراڠ لياني الله كفقيران لن بلاء كڠ سيرا أدڨي إيكو الله كڠ نكأكي مراڠ سيرا، أڨا بيصا لياني الله ڠيلاڠاكي أڨا كڠ دي ديليه أنا إڠ أواء سيرا؟ ووڠكڠ أورا بيصا ڠيلاڠاكي حاجتي سڠكيڠ أوائي ديوي ناليكا حاجة إيكو تمورون، أڨا بيصا سڠكيڠ ووڠ ليا؟
Jangan keluhkan hajatmu kepada selain Allah karena Dialah yang menghadirkan hajat itu padamu. Bagaimana bisa orang lain mengangkat sebuah hajat yang diletakkan oleh-Nya? Orang yang tak bisa memenuhi hajatnya, bagaimana mampu memenuhi hajat orang lain?
[لَا تَرْفَعَنَّ إلى غَيْرِهِ حاجَةً هُوَ مُوْرِدُها عَلَيْكَ]
Jangan keluhkan hajatmu kepada selain Allah karena Dialah yang menghadirkan hajat itu padamu.
قلت: قد علمت أن ما سوى الحق خيال وهمي لا حقيقة لوجوده، فإذا أنزل االله بك حاجة؛ كفاقة أو شدة أو غير ذلك من العوارض، فإنزلْها باالله، وأجعلها تحت مشيئة االله، وغب عنها في ذكر االله، ولا تلتفت إلى ما سواه تعلقًا ولا تملقًا؛ ففي الحديث: “من لم يسئل االله يغضب عليه
Aku berkata: Engkau telah mengetahui bahwa segala sesuatu selain Allah Yang Maha Benar hanyalah khayalan semu yang tidak memiliki hakikat keberadaan. Maka apabila Allah menimpakan suatu hajat kepadamu, seperti kefakiran, kesulitan, atau cobaan lainnya, hadapkanlah hajat itu kepada Allah, letakkanlah di bawah kehendak-Nya, dan lupakanlah ia dalam berzikir kepada-Nya. Janganlah berpaling kepada selain-Nya, baik karena bergantung maupun karena menjilat. Sebab dalam hadis disebutkan: “Barang siapa tidak memohon kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.”
.وقال أبو علي الدقاق: من علامة المعرفة أن لا تسأل حوائجك كلها إلا من االله، قَلَّتْ أو جَلَّتْ، مثل موسى -عليه السلام- أشتاق إلى رؤيته فقال: ﴿رَبِّ أَرِنِيْ أَنْظُرْ إِلَيْكَ﴾ [الاعراف: ۱٤۳]
Abu Ali ad-Daqqaq berkata: “Salah satu tanda makrifat adalah engkau tidak memohon seluruh kebutuhanmu kecuali kepada Allah, baik kecil maupun besar. Seperti Nabi Musa ‘alaihissalam yang rindu untuk melihat-Nya, lalu berkata: ‘Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ (QS. Al-A’raf [7]: 143).”
.وأحتاج يومًا إلى رغيف فقال: ﴿رَبِّ إِنِّيْ لِمَآ أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٍ﴾ [القصص: ۲٤] اهـ
:ثم تعجب ممن رفع أحكام الحق إلى غيره مع عجزه وضعفه، فقال
Dan (Nabi Musa) pernah membutuhkan sepotong roti pada suatu hari, lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat membutuhkan kebaikan apa pun yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashash: 24). Selesai kutipan.
Kemudian ia heran terhadap orang yang mengadukan ketetapan Allah kepada selain-Nya, padahal ia sendiri lemah dan tidak berdaya. Lalu ia berkata:
.[فَكَيْفَ يَرْفَعُ غَيْرُهُ ما كانَ هُوَ لَهُ واضِعًا؟!]
Bagaimana bisa orang lain mengangkat sebuah hajat yang diletakkan oleh-Nya?
.قلت: من قلة حياء الأنسان أن يرفع إلى غيره ما أنزله عليه الحق تعالى من أحكام قهره، مع علمه تعالى بإحسانه وبره، وعدم أنفكاك لطفه عن قدره
Aku berkata: Termasuk tanda sedikitnya rasa malu pada manusia ialah mengadukan kepada selain Allah apa yang telah Allah Ta’ala turunkan kepadanya berupa ketetapan-Nya yang bersifat memaksa. Padahal ia tahu bahwa Allah Ta’ala Maha Baik dan Maha Dermawan dalam kebajikan-Nya, dan bahwa kelembutan-Nya tidak pernah terlepas dari takdir-Nya.
قال الشيخ أبو الحسن الشاذلي -رضي االله عنه-: »أيست من نفع نفسي لنفسي فكيف لا أيأس من نفع غيري لها ورجوت االله لغيري فكيف لا أرجوه لنفسي؟
Syekh Abu al-Hasan asy-Syadzili radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah putus asa dari kemampuan diriku memberi manfaat bagi diriku sendiri. Maka bagaimana mungkin aku tidak putus asa dari kemampuan orang lain memberi manfaat bagi diriku? Aku berharap kepada Allah untuk orang lain. Maka bagaimana mungkin aku tidak berharap kepada-Nya untuk diriku?”
وقال بعض العارفين من المكاشفين -رضي االله نهم-: »قيل لي في نوم كاليقظة، أو يقظةٍ كالنوم: لا تبديَنَّ فاقة فأضاعفها عليك مكافأة لسوء أدبك وخروجك إلى حد عبوديتك، سبكتك بالفاقة لتصيرَ بها ذهبًا خالصًا فلا تزيغن بعد السَّبْكِ، وسَمْتك بالفاقة، وحكمت لنفسي بالغِنى، فإن وصلتَها بي، وصلتك بالغنى وأن صلتها بغيري، قطعت عنك موادَّ معونتي، وحسمْتُ أسبابَكَ من أسبابي طردًا لك عن بابي، فمن وكلتُهُ إليَّ مَلَك، ومن وكلتُه إليه هلك« اهـ.
Sebagian orang arif yang mendapat kasyaf, semoga Allah meridai mereka, berkata: “Dikatakan kepadaku dalam tidur yang serupa jaga, atau jaga yang serupa tidur: Janganlah engkau menampakkan kefakiran (kebutuhan), sebab Aku akan melipatgandakannya atasmu sebagai balasan atas buruk adabmu dan atas kelancanganmu melampaui batas penghambaanmu. Aku telah memurnikanmu dengan kefakiran agar engkau menjadi emas murni, maka janganlah engkau menyimpang setelah dimurnikan. Aku telah menandaimu dengan kefakiran, dan Aku telah menetapkan kekayaan bagi Diri-Ku. Jika engkau menyambungkan kefakiran itu kepada-Ku, Aku akan menyambungkanmu dengan kekayaan. Jika engkau menyambungkannya kepada selain-Ku, Aku akan memutus darimu sumber-sumber pertolongan-Ku dan memotong sebab-sebabmu dari sebab-sebab-Ku, sebagai pengusiran bagimu dari pintu-Ku. Barang siapa Kuserahkan kepada-Ku, ia beroleh kemuliaan (kekuasaan), dan barang siapa Kuserahkan kepada selain-Ku, ia binasa.” Demikian (kutipan selesai).
:ثم بين وجه التعجب فقال
[مَنْ لا يَسْتَطيعُ أَنْ يَرْفَعَ حاجَةً عَنْ نَفْسِهِ فَكَيْفَ يَسْتَطيعُ أنْ يَكونَ لَها عَنْ غَيْرِهِ رَافِعًا؟!]
Orang yang tak bisa memenuhi hajatnya, bagaimana mampu memenuhi hajat orang lain?
.قلت: من عجز عن أصلاح نفسه، فكيف يقدر أن يصلح غيره؟ ضعف الطالب والمطلوب
Aku berkata: Siapa yang tidak mampu memperbaiki dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia mampu memperbaiki orang lain? Lemahlah orang yang mencari dan yang dicari.
.قال بعضهم: »من أعتمد على غير االله فهو في غرور لأن الغرور ما لا يدوم ولا يدوم شيء سواه وهو الدائم القديم الذي لم يزل ولا يزال وعطاؤه وفضله دائمان فلا تعتمد إلا على من يدوم لك منه العطاء والفضل« اهـ
Sebagian ulama berkata: “Barang siapa bersandar kepada selain Allah, maka ia berada dalam tipu daya. Sebab tipu daya itu adalah sesuatu yang tidak kekal, dan tidak ada sesuatu pun yang kekal selain Dia. Dialah Yang Maha Kekal lagi Maha Dahulu, yang senantiasa ada dan akan terus ada. Pemberian dan karunia-Nya pun kekal. Maka janganlah bersandar kecuali kepada Zat yang pemberian dan karunia-Nya kekal bagimu.” Selesai kutipan.
:ثم أن الأعتماد على االله، ورفع الحوائج إليه، والرجوع في كل النوازل إليه، سببه حسن الظن به؛ كما أشار إليه بقوله
Kemudian, sesungguhnya bersandar kepada Allah, mengadukan segala hajat kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya dalam setiap musibah itu bersumber dari husnuzan (persangkaan baik) kepada-Nya, sebagaimana yang Beliau isyaratkan dalam ucapannya:

