
الحكمة: ۳٩ من الحكم العطائية
.إِنْ لَمْ تُحَسِّنْ ظنَّكَ بهِ لأجلِ وَصْفِهِ، فحَسِّنْ ظنَّكَ بهِ لأجْلِ معاملتِهِ مَعَكَ، فهَلْ عوَّدكَ إلاَّ حَسَنًا؟ وهَلْ أسدى إليْكَ إلاّ مِنَنًا؟
تڮسي: يين سيرا أورا بيصا امباڮوسي ڨۑانا سيرا مراڠ الله كرانا أراه باڮوسي صفتي الله، مڠكا سيرا سوڨايا امباڮوساكي ڨۑانا سيرا مراڠ الله كرانا أناني أوليهي ۑراووڠي الله مراڠ سيرا، مڠكا أڨاطه الله تعالى أورا ماريڠ ڨاكولينان مراڠ سيرا كجابا كڠ باڮوس كاڠڮو سيرا؟ مڠكا أڨاطه الله تعالى أورا ناطا مراڠ سيرا إڠ ڨيرا۲ كنوڮراهان؟.
Jika kau tidak bisa berbaik sangka kepada Allah karena kebaikan sifat-sifat-Nya, berbaik sangkalah kepada-Nya atas kebaikan perlakuan-Nya terhadapmu. Bukankah Dia selalu memberimu yang baik-baik dan mengaruniaimu berbagai kenikmatan?
قلت: الناس في حسن الظن باالله على قسمين خواص وعوام
Saya berkata: Manusia dalam berhusnuzan kepada Allah terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan khusus (khawas) dan golongan awam.
،أما الخواص فحسن ظنهم باالله تعالى ناشيء عن شهود جماله ورؤية كماله فحسن ظنهم باالله لا ينقطع سواء واجههم بجماله، أو بجلاله؛ لأن أتصافه تعالى بالرحمة والرأفة والكرم والجود لا ينقطع
Adapun kaum khawas, husnuzan mereka kepada Allah Ta’ala bersumber dari penyaksian (syuhud) terhadap keindahan-Nya dan pandangan atas kesempurnaan-Nya. Karena itu, husnuzan mereka kepada Allah tidak pernah terputus, baik Allah menampakkan keindahan-Nya kepada mereka maupun keagungan-Nya. Sebab, sifat-sifat Allah Ta’ala berupa rahmat, kasih sayang, kemurahan, dan kedermawanan tidak pernah terputus.
.فإذا تجلى لهم بجلاله أو قهريته، علموا ما في طي ذلك من تمام نعمته، وشمول رحمته، فغلب عليهم شهود الرحمة والجمال، فدام حسن ظنهم على كل حال
Ketika Allah menampakkan diri kepada mereka dengan keagungan atau sifat kekuasaan-Nya yang menundukkan (qahriyyah), mereka tahu apa yang tersimpan di balik itu, yaitu kesempurnaan nikmat-Nya dan keluasan rahmat-Nya. Maka penyaksian atas rahmat dan keindahan lebih kuat menguasai hati mereka. Dengan demikian, husnuzan mereka tetap terjaga dalam segala keadaan.
وأما العوام، فحسن ظنهم باالله ناشيء عن شهود أحسانه، وحسن معاملته وأمتنانه، فإذا نزلت بهم قهرية أو شدة، نظروا إلى سالف إحسانه، وحسن ما أسدى إليهم من حسن لطفه وأمتنانه، فقاسوا ما يأتي على ما مضى، فتلقوا ما يرد عليهم بالقبول والرضى، وقد يضعف هذا الظن بضعف النظر والتفكر، ويقْوَى بقوتهما، بخلاف الأول، فإنه ناشيء عن شهود الوصف، والوصف لا يتخلف.
Adapun orang awam, husnuzan mereka kepada Allah muncul dari penyaksian mereka atas kebaikan-Nya, perlakuan-Nya yang baik, dan anugerah-Nya. Ketika cobaan yang memaksa atau kesulitan menimpa mereka, mereka menengok kebaikan Allah yang telah lalu dan kelembutan serta anugerah-Nya yang indah, yang telah Dia limpahkan kepada mereka. Mereka lalu mengukur apa yang akan datang dengan apa yang telah berlalu. Maka mereka menerima segala yang menimpa dengan penerimaan dan keridaan. Husnuzan ini bisa melemah ketika perenungan dan pemikiran melemah, dan menguat ketika keduanya menguat. Hal ini berbeda dengan husnuzan golongan pertama, karena husnuzan mereka muncul dari penyaksian atas sifat Allah, dan sifat Allah tidak pernah berubah.
والثاني ناشيء عن شهود الفعل، وهو يتخلف، فحسِّنْ ظنك به لوجود معاملته معك بلطفه ومننه، فهل عودك الحق تعالى الأبرا حسنًا ولطفًا جميلًا؟ وهل أسدى إليك؛ أي: أوصل إليك إلا مننا كبيرة ونعمًا غزيرة؟
Sebab yang kedua timbul dari persaksian (kesadaran) terhadap perbuatan Allah, dan sebab itu bisa saja tidak terpenuhi. Maka baikkanlah prasangkamu kepada-Nya, karena Dia memperlakukanmu dengan kelembutan dan karunia-Nya. Bukankah Allah Yang Mahabenar lagi Mahatinggi telah membiasakanmu dengan kebaikan dan kelembutan yang indah? Bukankah Dia telah memberikan kepadamu, yakni menyampaikan kepadamu, kecuali karunia yang besar dan nikmat yang melimpah?
قال رسول االله صلى االله عليه وسلم: »أَحِبُّوا اللهَ لِمَا يَغْذُوكم به من نِعَمِه، وأَحِبُّوني لحُبِّ اللهِ، وأَحِبُّوا أهْلَ بَيْتي لحُبِّي
Rasulullah ﷺ bersabda: “Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang Dia limpahkan kepadamu sebagai santapan hidup. Cintailah aku karena cinta kepada Allah. Cintailah keluargaku (Ahlulbait) karena cintaku.”
وقال الشيخ أبو الحسن -رضي االله عنه -: »إنا لا نحب إلا االله، فقال رجل: أبى ذلك جدك يا سيدي بقوله: »جُبِلَتِ الْقُلُوْبُ عَلٰى حُبِّ مَنْ أَحْسَنَ إِلَيْهَا
Syekh Abu al-Hasan radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya kami tidak mencintai kecuali Allah.” Lalu seorang laki-laki berkata, “Kakekmu, wahai tuanku, menolak hal itu dengan sabdanya: ‘Hati manusia diciptakan dengan tabiat mencintai siapa pun yang berbuat baik kepadanya.'”
.فقال الشيخ أبو الحسن: »إِنَّا لَمَّا لَمْ نَرَ مُحْسِنًا غَيْرَ االلهِ، لَمْ نُحِبَّ سِوَاهُ« اهـ
Syekh Abu al-Hasan berkata: “Sesungguhnya kami, ketika tidak melihat seorang pun yang berbuat baik selain Allah, tidak mencintai siapa pun selain-Nya.” Kutipan selesai.
وقال أيضاً -رضي االله عنه-: قرأت ليلة: ﴿قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ﴾ إلى أن بلغت فيها ﴿مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ﴾، فقيل لي: »شر الوسواس وسواسٌ يدخُلُ بينك وبين حبيبك، يذكرك أفعالك السيئة، وينسيك أفعالك الحسنة، ويكَثِّر عندك ذاتَ الشِّمال، ويقلِّلُ عندك ذات اليمين، ليعدلَ بك عن حسن الظن باالله وكرمه إلى سوء الظن باالله ورسوله، فاحذروا هذا الباب، فقد أُخذ منه خلقٌ كثير من العُبَّاد والزهاد وأهل الطاعة والسَّداد« اهـ.
Beliau (semoga Allah meridai beliau) juga berkata: “Pada suatu malam aku membaca firman Allah: “Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan manusia”, sampai aku tiba pada ayat: “dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi”. Lalu dikatakan kepadaku: ‘Kejahatan pembisik ialah bisikan yang masuk di antara dirimu dan Kekasihmu. Ia mengingatkanmu pada perbuatan burukmu dan melupakan perbuatan baikmu. Ia memperbanyak sisi kiri dalam pandanganmu dan menyedikitkan sisi kanan. Tujuannya ialah memalingkanmu dari berbaik sangka kepada Allah dan kemurahan-Nya menuju berburuk sangka kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka waspadalah terhadap pintu ini. Sungguh banyak manusia telah terjerumus melaluinya, baik dari kalangan ahli ibadah, ahli zuhud, ahli ketaatan, maupun orang-orang yang lurus.'” Selesai.
.وقال -رضي االله عنه- أيضًا: »العارف من عرف شدائد الزمان في الألطاف الجارية من االله عليه، وعرف إساءته في إحسان االله إليه، ﴿ فَاذْكُرُوْٓا اٰلَاۤءَ اللّٰهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ﴾ [الاعراف: ٦٩] اهـ
Beliau, semoga Allah meridainya, juga berkata: “Orang arif adalah orang yang mengetahui kerasnya cobaan zaman di tengah limpahan karunia Allah yang terus mengalir kepadanya. Ia juga menyadari keburukan dirinya di tengah kebaikan Allah kepadanya. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah agar kamu beruntung. (QS. Al-A’raf [7]: 69).” Selesai.
:وإذا كان الحق تعالى ما عودك إلا الإحسان، وما أسدى إليك إلا الأمتنان، فمن العجب أن تتركه وتطلب ما سواه، وإلى ذلك أشار بقوله
Jika Allah Yang Mahabenar tidak pernah membiasakanmu kecuali dengan kebaikan, dan tidak pernah melimpahkan kepadamu kecuali anugerah nikmat, maka sungguh mengherankan jika engkau meninggalkan-Nya dan mencari selain-Nya. Hal itu diisyaratkan oleh perkataannya:

