IDUL ADHA, KHIDMAH, DAN KRISIS KETELADANAN GENERASI DIGITAL NU

Ada sebuah pertanyaan yang perlu kita ajukan sebelum memotong hewan kurban tahun ini. Pertanyaan itu bukan tentang syarat sah kurban, bukan tentang jenis hewan yang boleh disembelih, dan bukan tentang cara membagi dagingnya. Pertanyaan itu lebih sederhana dan lebih berat dari semua itu: mengapa Ibrahim mau?
Ibrahim bukan orang yang tidak punya apa-apa. Ia sudah tua. Ia menunggu anak itu selama puluhan tahun. Ismail bukan sekadar anak, ia adalah bukti bahwa Allah mendengar doa yang paling lelah sekalipun. Dan ketika Ismail sudah cukup besar untuk berjalan bersamanya, untuk membantu dan menemani, Allah meminta Ibrahim untuk meletakkan pisau di leher anak itu.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat [37]: 102).³
Kita perlu duduk lama di sini. Ismail tidak berteriak. Tidak lari. Tidak meminta waktu untuk berpikir. Ia menjawab dengan tenang, dengan kalimat yang di dalamnya tidak ada ego, tidak ada kepentingan diri, tidak ada negosiasi. Ia menyerahkan lehernya bukan karena pasrah tanpa pikir, melainkan karena ia sudah tahu: ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya, dan keselamatan diri bukan satu-satunya hal yang perlu dijaga di dunia ini.
Inilah yang kita sebut kurban. Bukan sekadar menyembelih. Bukan sekadar berbagi daging. Kurban adalah momen ketika seseorang memilih untuk meletakkan sesuatu yang paling ia cintai demi sesuatu yang lebih besar dari cinta itu sendiri.
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj [22]: 37).¹
Yang sampai adalah apa yang ada di dalam dadamu ketika pisau itu diangkat. Apakah kamu sungguh-sungguh? Apakah kamu ikhlas? Atau kamu hanya menjalankan ritual karena sudah tiba waktunya? Pertanyaan itu tidak berubah dari zaman Ibrahim sampai hari ini. Yang berubah hanya konteksnya.
Hari ini kita hidup di zaman di mana kamera ada di mana-mana. Di mana setiap kegiatan sosial hampir selalu diikuti dengan pertanyaan: sudah difoto belum? Sudah diposting belum? Berapa yang like? Ini bukan tuduhan kepada siapa pun secara khusus, karena kita semua hidup dalam arus yang sama. Tapi ini adalah sebuah kenyataan yang perlu kita akui dengan jujur: ada sesuatu yang telah bergeser dalam cara kita memahami apa artinya berbuat baik.
Manuel Castells, seorang sosiolog yang menulis tentang masyarakat di era jaringan digital, mengamati bahwa di zaman seperti ini keberadaan seseorang sering kali ditentukan oleh visibilitasnya, seberapa banyak ia terlihat, seberapa jauh jangkauan suaranya di ruang maya.² Ini bukan salah teknologinya. Teknologi hanyalah cermin. Yang perlu kita tanya adalah: apa yang kita cari di depan cermin itu?
Jika kita jujur, jawabannya sering kali adalah pengakuan. Kita ingin diketahui sudah berbuat baik. Kita ingin ada yang melihat bahwa kita peduli. Dan ini adalah godaan yang sangat manusiawi, sangat wajar, dan sangat berbahaya jika kita tidak waspada.
Berbahaya bukan karena memposting kegiatan sosial itu dosa. Berbahaya karena ketika pengakuan menjadi tujuan, maka kegiatan yang tidak mendapat pengakuan perlahan akan ditinggalkan. Pengabdian yang sunyi, yang tidak bisa difoto, yang tidak menghasilkan engagement, akan terasa tidak penting. Dan di sinilah krisis keteladanan itu sesungguhnya bermula, bukan dari kekurangan orang yang mau tampil, melainkan dari kekurangan orang yang mau bekerja tanpa penonton.
Nahdlatul Ulama lahir dari tradisi yang memahami ini jauh sebelum ada media sosial.
Di dalam pesantren, ada sebuah nilai yang namanya khidmah. Kata ini sering diterjemahkan sebagai pelayanan, tapi terjemahan itu terlalu pendek. Khidmah bukan sekadar melayani. Khidmah adalah orientasi hidup. Ia adalah cara pandang yang menempatkan kemanfaatan bagi orang lain sebagai ukuran keberhasilan seseorang, bukan jabatan, bukan kekayaan, dan bukan seberapa terkenal namanya.
وَيَنْبَغِي أَنْ يَقْصِدَ بِعِلْمِهِ وَتَعَلُّمِهِ وَتَعْلِيمِهِ وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى، وَالْعَمَلَ بِهِ، وَإِحْيَاءَ الشَّرِيعَةِ، وَتَنْوِيرَ الْقُلُوبِ
KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, menulis dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim dengan kalimat yang berat dan jelas: seorang penuntut ilmu hendaknya meniatkan belajar, mengajar, dan ilmunya semata-mata karena Allah, untuk diamalkan, menghidupkan syariat, serta menerangi hati manusia.⁵ Bukan untuk menunjukkan kepandaian. Bukan untuk membangun nama. Bukan untuk mendapatkan posisi. Ilmu adalah jalan, bukan tujuan. Dan jalan itu mengarah ke satu tempat: manfaat bagi umat.
Ini bukan nilai yang mudah dipertahankan di zaman sekarang.
Banyak anak muda NU hari ini cerdas, aktif, dan penuh semangat. Mereka menulis tentang Islam di media sosial, membuat konten dakwah, menghadiri forum-forum keagamaan, dan vokal menyuarakan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Semua itu baik. Semua itu perlu. Tapi ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri dengan tenang: apakah semua aktivitas itu juga hadir di tanah, di tengah masyarakat, di tempat-tempat yang tidak ada kameranya?
Apakah kita juga mau duduk bersama warga yang tidak punya nama besar? Apakah kita juga mau mengerjakan hal-hal kecil yang tidak ada yang memperhatikan? Apakah kita juga mau hadir ketika tidak ada yang akan memuji kehadiran kita?
Kuntowijoyo pernah menulis bahwa nilai-nilai kenabian tidak hanya berkaitan dengan kesalehan seseorang secara pribadi, tetapi juga mencakup tiga dimensi yang tidak bisa dipisahkan: memanusiakan manusia, membebaskan yang tertindas, dan menjaga agar semua itu bersandar kepada Allah, bukan kepada kepentingan siapa pun.⁴ Tiga dimensi itu tidak bisa dikerjakan dari balik layar saja. Ia butuh kehadiran fisik, kehadiran hati, dan seringkali kehadiran yang tidak ada yang mencatat.
Maka di sinilah Idul Adha menjadi lebih dari sekadar hari raya.
Tradisi kurban kolektif di lingkungan Nahdliyin adalah salah satu laboratorium terbaik untuk melatih semua nilai itu sekaligus.⁶ Ketika panitia kurban bekerja dari pagi sampai sore di bawah terik matahari, memotong, membersihkan, menimbang, mengemas, dan mendistribusikan daging kepada mereka yang berhak, di sana tidak ada panggung. Tidak ada sorotan. Tidak ada yang tepuk tangan. Yang ada hanya pekerjaan, keringat, dan rasa tanggung jawab kepada sesama.
Dan justru di sanalah kurban yang sesungguhnya terjadi. Bukan hanya kurban hewan, tapi kurban waktu, kurban kenyamanan, kurban keinginan untuk terlihat hebat.
Robert Greenleaf, seorang pemikir yang menulis tentang kepemimpinan, mengatakan bahwa pemimpin yang sejati adalah mereka yang pertama-tama hadir sebagai pelayan bagi masyarakat.⁷ Bukan pemimpin yang paling lantang suaranya, bukan yang paling banyak pengikutnya, bukan yang paling sering tampil. Tapi yang paling bisa diandalkan ketika ada pekerjaan yang harus dikerjakan, terutama pekerjaan yang tidak ada yang mau mengerjakan karena tidak ada yang akan melihat.
Dalam tradisi NU, ini bukan teori. Ini sudah dipraktikkan oleh para kiai dan ulama pesantren selama puluhan tahun. Mereka mengabdikan hidup untuk dakwah dan pendidikan, bukan karena ada yang membayar mahal, bukan karena ada media yang meliput, tapi karena mereka memahami bahwa itulah gunanya hidup.
Kita yang muda ini mewarisi tradisi yang berat dan mulia itu. Dan tantangan kita bukan lebih ringan dari tantangan mereka, hanya berbeda bentuknya.
Tantangan kita adalah mempertahankan kedalaman di tengah keramaian. Memastikan bahwa di balik semua aktivitas yang terlihat di layar, ada kerja nyata yang tidak terlihat. Memastikan bahwa semangat yang kita tunjukkan di forum-forum dan di media sosial juga hadir ketika tidak ada yang melihat.
Idul Adha tahun ini, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri sebelum menyaksikan penyembelihan: sudahkah saya menyembelih sesuatu dari dalam diri saya? Sudahkah saya meletakkan pisau di leher ego yang ingin selalu terlihat? Sudahkah saya bersedia mengerjakan sesuatu yang tidak ada yang akan tahu bahwa saya mengerjakannya?
Sejarah tidak dibangun oleh mereka yang paling ramai di ruang publik. Sejarah dibangun oleh mereka yang rela bekerja dalam sunyi, menjaga amanah di tengah godaan untuk tampil, dan tetap melayani meski tidak ada yang bertepuk tangan.
Ibrahim mengangkat pisaunya bukan di depan penonton. Ia melakukannya di sebuah tempat yang sepi, bersama seorang anak yang ikhlas, di hadapan Allah yang Maha Melihat. Dan itulah yang membuat peristiwa itu abadi sampai hari ini, bukan karena ada yang mendokumentasikannya, tapi karena dilakukan dengan sepenuh hati.

Footnote:
¹ Al-Qur’an, QS. Al-Hajj [22]: 37.
² Manuel Castells, The Rise of the Network Society (Oxford: Blackwell Publishing, 2010), 407.
³ Al-Qur’an, QS. Ash-Shaffat [37]: 102.
⁴ Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), 89.
⁵ KH. Hasyim Asy’ari, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim (Jombang: Maktabah Turats al-Islami, t.t.), 18.
⁶ Clifford Geertz, The Religion of Java (Chicago: University of Chicago Press, 1960), 147.
⁷ Robert K. Greenleaf, Servant Leadership (New York: Paulist Press, 1977), 7.