HIKMAH KE-16 (bagian: 5) AL-HIKAM

!كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْئٌ، وَهُوَ أَظْهَرُ مِنْ كُلِّ شَيْئٍ؟

أڤا تينمو إڠ عقل أوڤما الله إيكو دي أليڠي دينيڠ لياني؟ سدڠ الله إيكو لوويه ڤرتيلا كاتيمباڠ أڤا باهي كڠ دادي مخلوقي الله.

Bagaimana bisa digambarkan ada suatu perkara yang bisa menghalang-halangi Allah SWT?, padahal Dia paling jelas daripada segala sesuatu?

 

S Y A R A H

إذ لا وجود للأشياء مع وجوده ولا ظهور لها مع ظهوره وعلى تقدير ظهورها فلا وجود لها من ذاتها فلولا ظهوره في الأشياء ما وقع عليها أبصار:

Sebab, segala sesuatu tidak ada di hadapan wujud-Nya. Segala sesuatu tidak tampak di hadapan keagungan-Nya. Kalaupun segala sesuatu tampak, ia tidak memiliki wujud esensial dari dirinya sendiri. Jika Dia tidak menampakkan diri-Nya pada segala sesuatu, niscaya mata manusia tidak akan pernah bisa melihatnya.

مَنْ لَا وُجُوْدَ لِذَاتِهٖ مِن ذَاتِهٖ # فَوُجُوْدُهُ لَوْلَاهُ عَيْنُ مُحَالِ

Siapa yang eksistensi zat-Nya tidak berasal dari zat-Nya sendiri, maka keberadaannya tanpa Dia adalah suatu kemustahilan yang nyata.

فالعبد في حالة الحجاب تكون نفسه وجودها عنده ضرورياً ووجود الحق تعالى عنده نظرياً فإذا عرف الحق وفني عن نفسه وتحقق بزوالها صار عنده وجود الحق ضرورياً ووجود نفسه نظرياً بل محال ضروري.

Ketika seorang hamba berada dalam kondisi terhijab (terhalang dari kebenaran), keberadaan dirinya terasa niscaya bagi dia, sedangkan keberadaan Allah Yang Mahatinggi terasa bersifat teoretis. Namun, ketika dia telah makrifat (mengenal) Allah, fana dari dirinya, dan membuktikan sirnanya diri tersebut, maka keberadaan Allah menjadi niscaya bagi dia, sedangkan keberadaan dirinya sendiri menjadi bersifat teoretis, bahkan mustahil secara niscaya.

قال أبو الحسن الشاذلي رضي االله عنه إنا لننظر إلى االله ببصر الإيمان والإيقان فأغنانا عن الدليل والبرهان وأنا لا نري أحداً من الخلق فهل في الوجود أحد سوي الملك الحق وان كان ولا بد فكالهباء في الهواء إن فتشتهم لم تجدهم شيئًا اهـ.

Abu al-Hasan al-Syadzili—semoga Allah meridtainya—berkata: Kami benar-benar memandang Allah dengan mata iman dan keyakinan, sehingga hal itu membuat kami tidak lagi membutuhkan dalil dan bukti. Kami juga tidak melihat seorang pun dari makhluk. Apakah ada di alam wujud ini selain Raja Yang Maha Benar? Jika makhluk itu harus ada, maka mereka bagaikan debu di udara. Jika Anda memeriksa mereka, Anda tidak akan mendapati mereka sebagai sesuatu. Selesai.

زاد في »لطائف المنن« ومن أعجب العجب أن تكون الكائنات موصلة إلى االله، فليت شعري هل لها وجود معه حتي توصل إليه؟! أو هل لها من الوضوح ما ليس له حتى تكون هي المظهرةَ له؟! وإن كانت الكائنات موصلة له، فليس ذلك لها من حيث ذاتها، لكن هو الذي ولاها رتبة التوصيل فوصلت فما وصل إليه غير إلهيته، ولكن الحكيم هو واضع الأسباب، وهي لمن وقف معها، ولا ينفذ إلى قدرته عين الحجاب، فظهور الحق أجلي من كل ما ظهر؛ إذ هو السبب في ظهور كل ما ظهر، وما اختفى إلا من شدة ما ظهر.

Dalam kitab “Lathaif al-Minan”  ditambahkan:

Termasuk keajaiban yang paling mengherankan adalah keberadaan makhluk-makhluk menjadi perantara yang mengantarkan kepada Allah. Duhai, seandainya aku tahu, apakah makhluk-makhluk itu memiliki eksistensi di samping-Nya sehingga mereka dapat mengantarkan kepada-Nya?! Atau, apakah makhluk-makhluk itu memiliki kejelasan yang tidak dimiliki oleh-Nya sehingga merekalah yang menampakkan-Nya?!

Jika makhluk-makhluk itu menjadi perantara yang mengantarkan kepada-Nya, hal itu bukan karena hakikat zat mereka sendiri. Akan tetapi, Dialah yang menganugerahkan kedudukan perantara tersebut kepada mereka, sehingga mereka dapat mengantarkan. Maka, tidak ada yang dapat mengantarkan kepada-Nya selain sifat ketuhanan-Nya sendiri. Namun, Zat Yang Mahabijaksana adalah Pencipta sebab-sebab, dan sebab-sebab itu berlaku bagi orang yang tertahan padanya.

Penghalang yang kasat mata tidak akan mampu menembus kekuasaan-Nya. Kehadiran Sang Kebenaran (Al-Haqq) jauh lebih nyata daripada segala sesuatu yang tampak. Sebab, Dia adalah alasan di balik penampakan segala sesuatu yang tampak. Dia tidak tersembunyi, melainkan karena begitu terangnya kejelasan-Nya yang tampak.

۞وَمِنْ شِدَّةِ الظُّهُوْرِ الخَفَاء۞

“Dan di antara kejelasan yang sangat, terdapat ketersembunyian.”

وإلى هذا المعني أشار الرفاعيُّ بقوله:

يَا مَنْ تَعَاظَمَ حَتَّى رَقَّ مَعْنَاهُ # ولا تَرَدَّى رِداءَ الكِبْرِ إلَّا هُوَ

“Wahai Zat Yang Maha Agung hingga menjadi lembut makna-Nya. Dan tidak patut mengenakan jubah kesombongan kecuali Dia.”

أي: يَا مَنْ تَعَاظَمَ في ظهوره حتى خفي معناه.

Yakni: Wahai Dzat yang teramat nyata dalam penampakan-Nya hingga makna-Nya menjadi tersembunyi.