
الحكاية الثامنة والعشرون: في التجلد في الطاعة
HIKAYAH YANG KE-DUA PULUH DELAPAN: {“SABAR DALAM TAAT”}
حكي: عن بعض الصالحين قال: كنت طائفا بالبيت وإذا رجل ساجد، وهو يقول: ماذا فعلت يا سيدي في أمر عبدك المحروم؟ وكلما مررت عليه أسمعه يقول ذلك، فلما فرغت من الطواف وفرغ من سجوده سألته عن ذلك، فقال لي: اعلم أنا كنا في بلاد الروم نغير عليهم في قلاعهم فجمع صاحب جيشنا جمعا كثيرا وخرج إلى بلادهم فاختار صاحب الجيش منا عشرة فرسان وأنا منهم وبعثنا طليعة فأتينا مفازة فرأينا نحو الستين كافرا، ثم نظرنا إلى مفازة اخرى فإذا نحو ستمائة أيضا، فرجعنا إلى صحب جيشنا فأخبرناه، فبعث إليهما جيشا من المسلمين فأخذوهم جميعا، فقال لنا صاحبنا: إنكم مباركون فأخرجوا طليعة في الليل على العادة، فخرجنا فوقعنا في ألف فارس فأخذونا جميعا أسرى ثم قدموا بنا إلى ملك الروم فأمر بحبسنا، ثم بلغه أن المسلمين قتلوا أسراهم وفيهم ابن عم الملك، فاغنم بذلك غما عظيما ثم أمر بقتلنا فعصبوا أعيننا، فقال الواقف على رأس الملك: إن في عصب أعينهم تخفيفا عليهم، فاكشف عن أعينهم فنظرت إلى الواقف على رأس الملك وهو لابس الديباج مكللا بالذهب، كان رجلا مسلما عندنا فارتد ولحق بدار الكفر فلم أقدر أن أكلمه، ثم نظرنا إلى جهة السماء فرأينا عشر جوار، مع كل واحدة منديل وطبق وفوقهم عشرة أبواب مفتحة من السماء، فبدأ السياف في قتلنا واحدا لعد واحد، فصار كلما قتل وادا منا تنزل إليه جاريته فتأخذ روحه وتلفها في المنديل وتضعها على الطبق وتصعد بها من باب من تلك الابواب، وكنت أنا في آخرهم، فلما انتهى الأمر إلي تقدمت جاريتي إلي لتفعل بروحي كما فعل أصحابها، فلما أراد السياف قتلي قال الواقف على رأس الملك أيها الملك، اذا قتلتهم جميعا فمن بخبر المسلمين بقتلهم؟ فاترك هذا ليخبر المسلمين، فتركني من القتل فولت الجارية عني وهي تقول: محروم محروم، فلذلك أتضرع هنا وأقول: يا رب ماذا صنعت في أمر المحروم؟ فقال لي: لاتيأس، فضل الله تعالى كبير.
HIKAYAH KE-28
Dikisahkan dari sebagian orang saleh, ia berkata: “Ketika aku sedang melakukan tawaf di Baitullah, tiba-tiba aku melihat seorang pria yang sedang bersujud sambil meratap: ‘Wahai Tuhanku, apa yang Engkau perbuat terhadap urusan hamba-Mu yang terhalang (dari rahmat-Mu) ini?’ Setiap kali aku melewatinya, aku selalu mendengarnya mengucapkan kata-kata itu.”
Setelah aku selesai tawaf dan ia pun selesai dari sujudnya, aku bertanya kepadanya tentang hal itu. Ia bercerita kepadaku:
“Ketahuilah, dahulu kami berada di negeri Romawi untuk menyerang benteng-benteng mereka. Pemimpin pasukan kami mengumpulkan tentara dalam jumlah besar dan berangkat ke negeri mereka. Ia memilih sepuluh ksatria di antara kami, termasuk aku, lalu mengutus kami sebagai pasukan pengintai (thali’ah).
Kami sampai di sebuah padang luas dan melihat sekitar 60 orang kafir. Kemudian kami melihat ke padang lain, ternyata ada sekitar 600 orang lagi. Kami kembali melapor kepada pemimpin pasukan, lalu ia mengirim tentara Muslim hingga berhasil menawan mereka semua. Pemimpin kami berkata: ‘Kalian adalah orang-orang yang membawa berkah, pergilah lagi sebagai pengintai di malam hari seperti biasa.’
Kami pun berangkat, namun tiba-tiba kami terkepung oleh 1.000 ksatria musuh. Mereka menawan kami semua dan membawa kami ke hadapan Raja Romawi, lalu raja memerintahkan agar kami dipenjara.
Tak lama kemudian, sampai kabar kepada raja bahwa kaum Muslimin telah membunuh tawanan mereka, dan di antara yang terbunuh adalah sepupu sang raja. Raja sangat berduka dan murka, lalu memerintahkan agar kami semua dibunuh. Mereka pun menutup mata kami.
Namun, seseorang yang berdiri di dekat raja berkata: ‘Menutup mata mereka justru meringankan penderitaan mereka, maka bukalah penutup mata itu.’ Aku pun melihat orang yang berdiri di dekat raja tersebut; ia memakai pakaian sutra bertahtakan emas. Ternyata ia adalah seorang pria yang dulunya Muslim di kalangan kami, namun murtad dan melarikan diri ke negeri kafir. Aku tidak sanggup bicara padanya.
Lalu kami menengadah ke langit. Kami melihat sepuluh bidadari, masing-masing membawa kain sapu tangan dan nampan. Di atas mereka, tampak sepuluh pintu langit yang terbuka.
Algojo mulai membunuh kami satu per satu. Setiap kali salah satu dari kami terbunuh, turunlah seorang bidadari kepadanya, mengambil ruhnya, membungkusnya dengan kain, meletakkannya di atas nampan, lalu membawanya naik melalui salah satu pintu langit tersebut.
Aku adalah orang terakhir yang tersisa. Ketika giliranku tiba, bidadariku pun mendekat untuk memperlakukan ruhku sebagaimana rekan-rekannya yang lain. Namun, saat algojo hendak menebas leherku, orang yang berdiri di dekat raja tadi berkata:
‘Wahai Baginda Raja, jika engkau membunuh mereka semua, lalu siapa yang akan memberi tahu kaum Muslimin tentang kematian mereka? Biarkanlah orang ini hidup agar dia bisa menyampaikan kabar tersebut.’
Maka raja pun membatalkan hukuman matiku. Melihat itu, bidadari yang menantiku berpaling pergi sambil berkata: ‘Terhalang… terhalang (Mahrum)…’
Itulah sebabnya aku bersimpuh di sini sambil memohon: ‘Wahai Tuhanku, apa yang Engkau perbuat terhadap urusan orang yang terhalang ini?'”
Lalu orang saleh itu berkata kepadaku: “Janganlah berputus asa, sesungguhnya karunia Allah Ta’ala itu sangatlah besar.”


Saran, kritik, masukan, arahan, dan bimbingan sangat diharapkan dari segenap pembaca yg budiman. Mugio dados ilmu ingkang manfaat amiiin ya Robbal alamiiin, 🤲