HIKMAH KE-24 AL-HIKAM AL-‘ATHAIYAH

الحكمة: ۲٤

لَا تَسْتَغْرِبْ وُقُوعَ الأَكْدَارِ، مَا دُمْتَ فِي هَذِهِ الدَّارَ، فَإِنَّهَا مَا أَبْرَزَتْ إِلا مَا هُوَ مُسْتَحَقُّ وَصْفِهَا وَوَاجِبُ نَعْتِهَا.

تڮسي: أجا ڠڮومون سيرا سماڠسا انا كداديهان كڠ ڮاوي سوساهيڠ أتي، سأسويني كووي ايسيه أنا اِڠ عالم دنيا ايكي. أويت دنيا ايكو اورا تاهو نودوهاكي، كجابا موڠ اڤا كڠ ڤانتس دادي صفاتي لن واجب دادي ڤرلامباڠي.

Jangan heran adanya kesusahan selama kamu tinggal di rumah duniawi karena dunia ini pasti akan mengeluarkan perkara yang semestinya dan wajib sifatnya.

الأستغراب: تصيير الشيئ غريباً حتى يتعجب منه.

Al-Istighrāb (menganggap aneh): menjadikan sesuatu terasa asing, sehingga menimbulkan rasa heran terhadapnya.

والأكدار: كل ما يكدر على النفس ويؤلمها.

Al-Akdâr: segala sesuatu yang mengeruhkan jiwa dan menyakitinya.

ومستحق وصفها: ما تستحق أن توصف به.

Dan yang berhak menyandang sifat tersebut adalah apa yang layak disifati dengannya.

وواجب نعتها: ما يجب أن تنعت به.

Dan yang wajib disifatkan dengannya (na’t-nya) adalah: apa yang wajib disifatkan kepada Dzat tersebut.

قال بعضهم: الوصف يكون بالأمور اللازمة، والنعت يكون بالعوارض الطارئة، فالأمور اللازمة كالبياض والسواد والطول والقصر، والعوارض كالمرض والصحة والفرح والحزن وغير ذلك،

Sebagian ulama berkata: al-washf (deskripsi) itu terjadi karena perkara-perkara yang bersifat lazim (tetap), sedangkan an-na’at (sifat tambahan) itu terjadi karena perkara-perkara yang bersifat ‘aridh (mendadak/sementara). Adapun perkara-perkara yang bersifat lazim itu seperti putih, hitam, tinggi, dan pendek. Sedangkan perkara-perkara yang bersifat ‘aridh itu seperti sakit, sehat, gembira, sedih, dan sebagainya.

والمراد هنا بالأوصاف ما يتكرر وقوعه؛ كالموت والأمراض، وما يقع كثيرًا، وبالنعوت ما يقلُّ وقوعه في العادة؛ كالفتن والهرج والزلازل؛ لأنهم يقولون: الأوصاف لوازم، والنعوت عوارض، وقيل: شيئ واحد، وهو الأصح.

Yang dimaksud dengan al-aushaf (sifat-sifat) di sini adalah sesuatu yang berulang kejadiannya, seperti kematian dan berbagai penyakit, serta sesuatu yang sering terjadi. Adapun yang dimaksud dengan an-nu’ut (sifat-sifat tambahan) adalah sesuatu yang jarang terjadi menurut kebiasaan, seperti fitnah, huru-hara, dan gempa bumi. Sebab itulah mereka berkata: al-aushaf bersifat lazim, sedangkan an-nu’ut bersifat ‘aridh. Ada pula yang berpendapat bahwa keduanya sesungguhnya satu perkara yang sama, dan pendapat inilah yang lebih shahih (ashah).

قلت: من آداب العارف أن لا يستغرب شيئاً من تجليات الحق، ولا يتعجَّب من شيئ منها كائنةً ما كانت، جلاليةً أو جماليةً، فإذا نزلت به نوازلُ قهرية أو وقعت في هذه الدار أكدار وأغيار جلالية، فلا يستغرب وقوع ذلك؛ لأن تجليات هذه الدار جُلُّها جلالية لأنها دار أهوال، ومترلُ فُرقة وأنتقال.

Aku berkata: Termasuk adab seorang arif adalah tidak merasa aneh terhadap sesuatu pun dari tajalli-tajalli Al-Haqq, dan tidak heran terhadap sesuatu pun darinya, apa pun bentuknya, baik yang bersifat jalaliyah (keagungan) maupun jamaliyah (keindahan). Maka apabila turun kepadanya bencana-bencana yang bersifat qahriyah (paksaan), atau terjadi di alam ini kekeruhan-kekeruhan dan perubahan-perubahan yang bersifat jalaliyah, maka janganlah ia merasa aneh dengan terjadinya hal itu. Sebab tajalli-tajalli di alam ini sebagian besarnya bersifat jalaliyah, karena alam ini adalah alam ketakutan, dan tempat persinggahan perpisahan serta perpindahan.

وفي الحديث عنه صلى االله عليه وسلم أنه قال في بعض خطبه: ((أَيُّها الناسُ! إنَّ هذه الدنيا دارُ التِوَاءٍ؛ لا دَارُ اسْتِوَاءٍ ومَنْزِلُ تَرَحٍ لا مَنْزِلُ فَرَحٍ فَمَنْ عَرَفَهَا لمْ يَفْرَحْ لِرَجَاءٍ ولَمْ يَحْزَنْ لِشَقَاءٍ

Diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda dalam salah satu khutbahnya:

“Wahai manusia! Sesungguhnya dunia ini adalah negeri yang miring, bukan negeri yang lurus. Ia adalah tempat tinggal kesedihan, bukan tempat tinggal kegembiraan. Barangsiapa mengenal hakikatnya, ia tidak akan bergembira karena harapan yang tercapai, dan tidak akan bersedih karena penderitaan yang menimpa.”

 

Ta’ala menciptakan dunia sebagai negeri ujian, dan akhirat sebagai negeri kesudahan. Ujian dunia dijadikan-Nya sebab bagi pahala akhirat, dan pahala akhirat dijadikan-Nya pengganti dari ujian dunia. Allah mengambil untuk memberi, dan menguji untuk membalas.

وإِنَّهَا لَسَرِيعَةُ الذَّهَابِ وشِيكَةُ الانْقِلابِ فَاحْذَرُوا حَلاوَةَ رَضَاعِهَا لِمَرَارَةِ فِطَامِهَا واهْجُرُوا لَذِيذَ عَاجِلِهَا لِكَرِيهِ آجِلِهَا

Sesungguhnya dunia amat cepat berlalu dan amat mudah berbalik. Maka waspadalah terhadap manisnya susuan dunia, karena di baliknya ada pahitnya masa sapih. Tinggalkanlah kenikmatan dunia yang segera, karena di baliknya ada keburukan yang akan datang.

ولا تَسْعُوا في عُمْرَانِ دَارٍ وقَدْ قَضَى اللهُ خَرَابَهَا ولا تُوَاصِلُوهَا وقَدْ أَرَادَ اللهُ مِنْكُمُ اجْتِنَابَهَا فَتَكُونُوا لِسَخَطِهِ مُتَعَرِّضِينَ ولِعُقُوبَتِهِ مُسْتَحِقِّينَ))

Janganlah kalian bersusah payah membangun negeri yang telah Allah tetapkan kehancurannya. Janganlah kalian terus bergantung padanya, padahal Allah menghendaki kalian menjauhinya. Sebab jika demikian, kalian akan menjadi orang yang menghadapkan diri pada murka-Nya, dan berhak menerima siksa-Nya.”

وقال الجنيد -رضي الله عنه-: ليس أستبشع مما يرد على من العالم؛ لأني أصَّلْت أصلًا وهو أن الدار دارهم وغم وبلاء وفتنة، وأن العالم كله شر.

Al-Junaid -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Tidak ada sesuatu pun yang menimpaku dari dunia ini yang aku anggap ganjil. Sebab aku telah menetapkan suatu kaidah dasar. Kaidah itu adalah bahwa dunia ini adalah negeri duka, kesusahan, dan fitnah. Dan bahwa alam semesta ini seluruhnya adalah keburukan.”

ومن حكمه: إنه يتلقاني بكل ما أكره، فإن تلقاني بما أحبُّ، فهو فضلٌ وإلا فالأصل هو الأولُ، وفي ذلك قيل:

Di antara hikmah-Nya: sesungguhnya Dia menyambutku dengan segala hal yang aku benci. Maka jika Dia menyambutku dengan apa yang aku cintai, itu adalah karunia tambahan semata. Namun jika tidak, maka yang menjadi pokok tetaplah yang pertama (yakni yang dibenci). Dan mengenai hal itu, dikatakan:

يُمَـــــثِّلُ ذُو اللُّبِّ فِيْ لُبِّه # شَــــــــدَائِدَهُ قَبْلَ أَنْ تَنْزِلَا

Orang yang berakal membayangkan dalam benaknya berbagai kesulitan, sebelum kesulitan itu benar-benar turun menimpanya.

فَإِنْ نَزَلَتْ بَغْتَةً لَمْ تَــرُعْهُ # لما كَانَ فِيْ نَفْسِــــــــــهٖ مَثَلًا

Maka jika ia (musibah) turun secara tiba-tiba, ia tidak akan mengejutkannya, karena hal itu sudah terbayang dalam dirinya sebagai suatu perumpamaan (yang telah ia gambarkan sebelumnya dalam benaknya).

رأى الْأَمْرَ يُفْضي إلى آخَر # فصَــــيِّر أٰخـــــــــــــرَهُ أوَّلًا

Ia melihat bahwa suatu perkara pasti akan menuju kepada akibat yang lain, maka jadikanlah akibat itu sebagai permulaannya.

وَذُو الْجَـــهْلِ يَأْمَنُ أَيَّامَهُ # وَيَنْسٰى مَصَارِعَ مَنْ قَدْ خَلَا

Dan orang yang bodoh itu merasa aman terhadap hari-harinya, serta lupa akan tempat-tempat kebinasaan orang-orang yang telah berlalu (mendahului).

فَإِنْ دَهَمَتْهُ صُــرُوْفُ الزَّمَا # نِ بِبَعْضِ مَصَائِبِهٖ أَعْـــــوَلًا

Maka apabila giliran-giliran zaman tiba-tiba menimpanya dengan sebagian musibahnya, ia pun meraung (menangis dengan suara keras).

وَلَوْ قَدَّمَ الْحُــــــزْمَ مِنْ نَفْسِهٖ # لَعَلَّمَهُ الصَّبْرَ عِنْــــدَ الْبَلا

Seandainya keteguhan hati ia dahulukan atas dirinya sendiri, niscaya keteguhan itu akan mengajarkannya kesabaran ketika ditimpa bala.

قال أبو سليمان الداراني لأحمد بن أبي الحواريّ: يا أحمد جوعٌ قليل، وعريٌ قليل، وذلّ قليل، وصبر قليل، وقد أنقضت عنك أيام الدنيا اهـ.

Abu Sulaiman ad-Darani berkata kepada Ahmad bin Abi al-Hawari, “Wahai Ahmad, lapar sedikit, kekurangan sandang sedikit, hina sedikit, dan sabar sedikit, maka sungguh telah berlalu bagimu hari-hari dunia.” Selesai.

فلا تستغرب أيها العارف ما يقع بك أو لغيرك من الأكدار ما دمت مقيمًا في هذه الدار؛ لأنها ما برز فيها من التجليات الجلالية إلا ما هو مستحق أن تتصف به وواجب أن تنعت به، فلا تستغرب شيئًا، ولا تتعجب من شيئ، بل الواجب عليك أن تعرف االله في الجلال والجمال والحلوة والمرة.

Maka janganlah engkau merasa aneh, wahai orang yang arif, terhadap apa yang menimpamu atau menimpa orang lain berupa berbagai kekeruhan (kesusahan hati), selama engkau masih menetap di alam ini. Sebab, tidaklah tampak di dalamnya tajalli-tajalli keagungan (al-tajalliyāt al-jalāliyyah), kecuali apa yang memang layak engkau sandang dan wajib engkau sifati dengannya. Maka janganlah engkau merasa aneh terhadap sesuatu apa pun, dan janganlah engkau heran terhadap sesuatu apa pun. Bahkan, yang wajib atasmu adalah mengenal Allah dalam keagungan dan keindahan-Nya, dalam manis dan pahit-Nya.

وأما إن كنت لا تعرفه إلا في الجمال فهذا هو مقام العوام، والمعرفة في الجلال هو السكون والأدب والرضى والتسليم.

Adapun jika engkau tidak mengenal-Nya kecuali dalam sifat Jamal (keindahan), maka ini adalah maqam orang-orang awam. Sedangkan mengenal dalam sifat Jalal (keagungan) adalah ketenangan, adab, ridha, dan penyerahan diri (taslim).

فينبغي للفقير أن يكون كعشب السمار، إذا جاءت حملة الوادي حني رأسه، وإذا ذهبت رفع رأسه.

Maka sudah sepatutnya bagi seorang faqir untuk menjadi seperti rumput sammar. Apabila banjir bah datang dari lembah, ia tunduk merunduk kepalanya. Dan apabila banjir itu telah pergi, ia kembali mengangkat kepalanya.

وكما لا تستغرب وقوع الأكدار بحيث لا تحزن ولا تخف ولا تجزع، كذلك لا تتعجب من وقوع المسار وهو الجمال بحيث لا تفرح ولا تبطر، فإن الجلال مقرون بالجمال، والجمال مقرون بالجلال، يتعاقبان تعاقب الليل والنهار.

Sebagaimana engkau tidak boleh heran atas datangnya kekeruhan hidup, sehingga engkau tidak bersedih, tidak takut, dan tidak berkeluh kesah karenanya, demikian pula engkau tidak boleh takjub atas datangnya kelapangan, yaitu keindahan (jamal), sehingga engkau tidak bergembira secara berlebihan dan tidak sombong karenanya. Sebab keagungan (jalal) itu senantiasa bergandengan dengan keindahan (jamal), dan keindahan itu senantiasa bergandengan dengan keagungan. Keduanya datang silih berganti, sebagaimana silih bergantinya malam dan siang.

والعارف يتلون مع كل واحد منهما، لا يستغرب شيئاً ولا يتعجب من شيئ، إذ كل ما يبرز من عنصر القدرة كله واحد،

Seorang yang arif akan menyesuaikan diri mengikuti keduanya. Ia tidak heran terhadap apa pun, dan tidak takjub terhadap apa pun, karena segala sesuatu yang muncul dari sumber qudrah itu pada hakikatnya satu adanya.

وبهذا وقع التفريق بين الصادق والصديق، لأن الصديق لا يتعجب من شيئ ولا يتردد في شيئ وعد به، بخلاف الصادق فقط فإنه مهما رأى شيئاً مستغرباً تعجب منه، وإذا وعد بشيئ قد يتردد في امتثاله،

Dengan inilah letak perbedaan antara seorang yang shadiq (jujur) dengan seorang yang shiddiq (sangat benar keimanannya). Sebab seorang shiddiq tidak takjub terhadap apa pun, dan tidak ragu dalam memenuhi janji yang telah diikrarkan kepadanya. Berbeda halnya dengan seorang yang hanya shadiq saja. Sebab ia, kapan pun melihat sesuatu yang mengherankan, akan takjub karenanya. Dan apabila dijanjikan sesuatu, terkadang ia masih ragu dalam menunaikannya.

وقد وصف االله تعالى السيدة مريم بالصديقية ولم يصف السيدة سارة  بها، لأنها لما بشرت بالولد على وجه خرق العادة أستغربت وقالت: ﴿اِنَّ هٰذَا لَشيئ عَجِيْبٌ، هود: ٧۲﴾ فلذلك قالت لها الملائكة: ﴿اَتَعْجَبِيْنَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ، هود: ٧٣﴾

Allah Ta’ala telah menyifati Sayyidah Maryam dengan sifat shiddiqiyyah, namun tidak menyifati Sayyidah Sarah dengan sifat tersebut. Sebab Sayyidah Sarah, tatkala diberi kabar gembira akan memperoleh anak dengan cara yang di luar kebiasaan, merasa heran dan berkata: “Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang ajaib.” (QS. Hud: 72). Maka karena itulah para malaikat berkata kepadanya: “Apakah engkau merasa heran terhadap ketetapan Allah?” (QS. Hud: 73)

 بخلاف مريم فلم تتعجب وإنما سألت سؤال أستفهام فقط أو سألت عن وقت ذلك أو كيفيته هل بالتزوج أو بغيره، واالله تعالى أعلم.

Berbeda dengan Maryam, ia tidak merasa heran, melainkan hanya bertanya sebagai bentuk permintaan penjelasan, atau bertanya tentang waktu terjadinya hal itu, atau tentang caranya, apakah dengan pernikahan atau dengan cara lain. Wallahu ta’ala a’lam (Allah Yang Mahatinggi lebih mengetahui).

ثم ذكر الأدب الثامن وهو أن يكون تصرفه باالله والله ومن االله وإلى االله وهو مقام الصدق الذي هو لب الأخلاص وأخلاص خواص الخواص فقال:

Kemudian beliau menyebutkan adab yang kedelapan, yaitu hendaknya tasharruf (tindak-tanduk) nya itu bersama Allah, dengan Allah, dari Allah, dan menuju kepada Allah. Inilah maqam shidq (kejujuran/kebenaran) yang merupakan inti dari ikhlas, dan ikhlasnya khawashul khawash (orang-orang istimewa di antara yang istimewa). Beliau berkata: