DI BAWAH TELAPAK KAKI, DI CELAH YANG LUKA

Oleh: Abu Atiq

Manusia sering mencari kemuliaan di tempat yang tinggi: di jabatan, di prestasi, di pujian orang banyak. Pandangan itu wajar. Namun ada petunjuk yang justru mengajak pandangan ke arah lain—ke tempat yang sederhana, yang jarang dibicarakan, yang sering dilalui tanpa diperhatikan.

Seorang lelaki datang kepada Nabi صلى الله عليه وسلم meminta izin untuk berjihad. Beliau menanyakan ibunya. Ketika dijawab bahwa ibunya masih hidup, beliau bersabda:

اِلْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ عِنْدَ رِجْلَيْهَا

“Tetaplah di sisinya, karena surga itu di dekat kedua kakinya.”¹

Dalam resepsi umat, makna ini kemudian dikenal luas lewat ungkapan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu. Intinya tetap sama: arah kemuliaan tidak selalu ke medan yang ramai, melainkan ke sisi orang yang menopang kehidupan dengan cara yang sering tak terlihat.

Kalimat ini tidak sedang menggambarkan ibu sebagai orang yang sempurna. Ia juga tidak menuntut anak menjadi manusia tanpa salah. Ia lebih seperti peta: bahwa sesuatu yang sangat berharga kadang ada di tempat yang rendah, dan bahwa penghormatan yang paling berarti bukanlah upacara, melainkan kehadiran yang tulus di sisi orang yang pernah menopang langkah.

Surga, dalam isyarat ini, tidak diletakkan di puncak pencapaian. Ia diletakkan di dekat kaki—tempat yang jarang dipandang, tetapi menahan berat perjalanan. Ada pelajaran sederhana di situ: jalan menuju yang baik kadang dimulai dari kesediaan untuk merendah. Bukan merendahkan diri, melainkan mengerti di mana nilai yang sesungguhnya berada.

Al-Ghazālī mengingatkan bahwa perjalanan batin tidak hanya soal amal yang tampak, tetapi juga soal membersihkan hati dari kotoran yang sering dianggap kecil.² Dalam kerangka itu, berbakti kepada ibu bukan sekadar sopan santun. Ia menjadi latihan meletakkan ego di tempat yang tepat: di dekat yang menopang, sebelum seseorang merasa sudah cukup kuat untuk berdiri sendiri.

Namun hubungan yang paling dekat jarang bebas dari luka. Ada kata yang tertahan. Ada harapan yang tidak terucap. Ada penyesalan yang datang terlambat. Dari satu sisi, mungkin tidak ada niat menyakiti. Dari sisi yang lain, rasa itu tetap terasa. Karena itu, pesan hadis ini tidak berhenti pada penghormatan formal. Ia juga menyentuh hal yang lebih halus: keberanian mendekati yang sakit, bukan menjauh karena sibuk, karena gengsi, atau karena merasa sudah dewasa.

Di sinilah perlu ditegaskan batasnya. Menunduk kepada ibu bukan berarti membenarkan segala sikap, dan bakti bukan alat untuk menutup mata pada luka yang merusak. Ada hubungan yang perlu dilembutkan; ada pula luka yang perlu dijaga batasnya agar seseorang tidak menghapus dirinya sendiri atas nama penghormatan. Kerendahan yang dimaksud di sini adalah kerendahan yang menumbuhkan adab, bukan kerendahan yang menghilangkan martabat.

Di celah ketegangan itulah terdengar pesan lain yang saling mengisi. Dalam resepsi modern atas puisi Jalāluddīn Rūmī, dikenal luas rumusan:

“The wound is the place where the Light enters you.”

“Luka adalah tempat di mana cahaya masuk kepadamu.”³

Ini bukan ajakan mencari luka, apalagi memuji penderitaan. Yang dimaksud lebih sederhana: ada retakan yang justru membuka ruang bagi sesuatu yang lebih jernih untuk masuk. Cahaya tidak selalu datang lewat hidup yang utuh. Kadang ia masuk lewat rasa bersalah yang tidak ditutup-tutupi, lewat rindu yang akhirnya diakui, lewat maaf yang semula sulit diucapkan.

Ibnu ‘Aṭā’illāh as-Sakandarī menyinggung paradoks yang mirip: bahwa penutupan suatu pintu kadang justru menjadi bagian dari pembukaan jalan lain, dan bahwa yang tampak menyempit bisa menjadi ruang belajar bagi yang membacanya dengan tenang.⁴ Luka dalam hubungan dengan ibu, jika tidak ditutup oleh keangkuhan, bisa menjadi pintu seperti itu—tempat seseorang belajar kerendahan yang tidak selalu diajarkan oleh keberhasilan.

Di luar tradisi Islam, Leonard Cohen menulis baris yang hampir berjabat tangan dengan citra itu: ada retakan pada segala sesuatu, dan lewat retakan itulah cahaya masuk.⁵ Perbedaannya tetap perlu dijaga. Cohen berbicara dalam bahasa lagu modern; Rumi dibaca dalam horizon cinta dan patah hati spiritual; hadis berbicara dalam kerangka bakti dan arah hidup. Mereka tidak menyusun satu ajaran yang sama. Namun ada irisan yang sulit diabaikan: kemuliaan tidak selalu lahir dari yang utuh. Kadang ia lahir dari kesediaan menunduk, dan dari kejujuran tidak menutup yang retak.

Hadis tentang ibu menunjuk ke arah kerendahan: melihat ke tempat yang menopang. Rumi menunjuk ke arah keterbukaan: tidak menutup luka dengan alasan, pembelaan, atau jarak yang dibuat-buat. Yang satu berbicara tentang ke mana langkah diarahkan. Yang lain tentang bagaimana hati tetap diberi ruang untuk jernih. Keduanya bertemu di satu titik: ada surga yang didekati dengan menunduk, dan ada cahaya yang masuk lewat celah.

Ini bukan undangan untuk tenggelam dalam rasa bersalah. Menengok hubungan dengan ibu perlu dilakukan dengan tenang: melembutkan diri tanpa menghancurkan diri, memperbaiki hubungan tanpa berlebihan menuduh diri sendiri. Ada anak yang sudah berusaha sebisanya. Ada ibu yang juga membawa luka dan keterbatasannya sendiri. Niat, sejarah batin, dan penilaian akhir berada dalam ilmu Allah. Yang bisa dilakukan manusia hanyalah merapikan apa yang masih sanggup ia rapikan.

Ada empat jalan kelembutan yang dapat ditempuh.

Pertama, kehadiran—bentuk paling sederhana dari “berada di dekat yang menopang.” Tidak selalu dengan hadiah besar atau kata-kata indah, tetapi dengan waktu yang benar-benar diberikan. Di zaman yang penuh kesibukan, duduk di sisi ibu tanpa terburu-buru kadang lebih berarti daripada janji yang muluk. Kehadiran mengatakan bahwa kaki yang menopang tidak dilupakan hanya karena anak sudah mampu berjalan sendiri.

Kedua, mendengarkan sebelum menjelaskan—cara masuk ke celah tanpa langsung menutupnya dengan pembelaan. Banyak jarak lahir bukan dari niat buruk, melainkan dari terlalu cepatnya seseorang membela diri. Ibu, seperti manusia lain, membawa sejarah yang tidak seluruhnya terucap. Mendengarkan dengan sabar sering lebih sulit daripada memberi, justru karena ia menuntut ego untuk diam sejenak.

Ketiga, memperbaiki yang masih bisa diperbaiki—agar luka tidak dibiarkan gelap tanpa arah. Hak yang tertunda ditunaikan. Kata yang melukai dimintakan maafnya. Jarak yang terlalu lama didekati kembali dengan rendah hati, tanpa memaksa hasil yang berada di luar kemampuan. Nabi صلى الله عليه وسلم mengingatkan agar kezaliman terhadap sesama—meski soal kehormatan atau perkara yang dipandang kecil—diselesaikan sebelum datang hari ketika harta tidak lagi berguna.⁶ Dalam hubungan dengan ibu, peringatan itu terasa paling dekat, sekaligus paling mudah ditunda.

Keempat, menjaga sikap ke depan—agar celah lama tidak terus diperbarui oleh kelalaian yang sama. Berbicara lebih pelan ketika lelah. Tidak menunda kebaikan yang masih sempat dikerjakan. Menjaga kata agar ambisi anak tidak menginjak kelembutan ibu. Jika kehadiran dan maaf membuka jalan, penjagaan sikaplah yang merawat agar jalan itu tidak rusak kembali.

Empat jalan ini bukan rumus kaku. Kehadiran menuntun ke bawah yang menopang. Mendengarkan dan memperbaiki menjaga agar luka bisa menjadi celah yang terbuka pada cahaya, bukan jurang yang dibiarkan melebar. Menjaga sikap merawat perjalanan agar penghormatan tidak hanya menjadi kenangan singkat, melainkan adab yang berulang.

Maka, di bawah telapak kaki ibu ada ajakan untuk merendah; dan di celah luka—baik yang tersimpan pada anak maupun yang tersembunyi pada ibu—ada kemungkinan bahwa retakan itu, jika tidak ditutup oleh keangkuhan, bisa menjadi tempat masuknya cahaya. Surga tidak selalu ditemukan dengan menengadah, dan terang tidak selalu datang lewat yang utuh. Keduanya sering dimulai dari kerendahan yang jujur, serta keberanian menjaga hati tetap terbuka di hadapan orang yang paling pantas menerima kelembutan itu.

Catatan Kaki:

  1. an-Nasā’ī, Sunan an-Nasā’ī, Kitāb al-Jihād; juga diriwayatkan Aḥmad dan Ibnu Mājah dari jalur Mu‘āwiyah bin Jāhimah, dengan lafaz “Ilzamhā fa-inna al-jannata ‘inda rijlaihā.” Ungkapan populer “surga di bawah telapak kaki ibu” merupakan resepsi makna yang sejalan dengan hadis ini, meski redaksinya tidak selalu identik dalam setiap jalur riwayat.
  2. Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, pembahasan tentang tahdhīb al-akhlāq dan penyucian hati; semangat yang sama juga hidup dalam literatur adab tentang birr al-wālidayn.
  3. Rumusan Inggris ini dikenal luas dalam resepsi modern atas Rūmī dan tidak dimaksudkan di sini sebagai kutipan filologis ketat dari Matsnawī. Maknanya dibaca sebagai pantulan tema Rūmī tentang keretakan batin sebagai kemungkinan masuknya cahaya.
  4. Ibnu ‘Aṭā’illāh as-Sakandarī, al-Ḥikam al-‘Aṭā’iyyah, khususnya ḥikmah-ḥikmah tentang paradoks penutupan dan pembukaan pintu dalam tarbiah Ilahi.
  5. Leonard Cohen, Anthem: “There is a crack, a crack in everything / That’s how the light gets in.”
  6. al-Bukhārī, no. 2449, dari Abū Hurairah RA.