
الحكاية الثلاثون: في عفة النفس
HIKAYAH YANG KE-TIGA PULUH: {“JIWA YANG BERSIH”}
حكي: أن يزيد بن معاوية رأى إمرأة جميلة على حائط فهويها، وكانت امرأة عدى بن حاتم وكانت ذات جمال وكمال، وكان اسمها أم خالد فمرض بسببها ولازم الفراش، فصار الناس يدخلون عليه ليعودوه ولايعرفون ما به من العلة ولم يفش سره إلى أحد
Diceritakan: bahwa Yazid bin Mu’awiyah melihat seorang perempuan cantik di atas tembok, lalu ia jatuh cinta kepadanya. Perempuan itu adalah istri Adi bin Hatim, seorang wanita yang memiliki kecantikan dan kesempurnaan, bernama Ummu Khalid. Yazid pun jatuh sakit karenanya dan terus terbaring di tempat tidur. Orang-orang mulai berdatangan menjenguknya, namun tidak ada yang mengetahui penyakit apa yang dideritanya, karena ia tidak membocorkan rahasianya kepada siapa pun.
فقال عمرو بن العاص: هذا الأمر لايوقف عليه الا من جهة والدته فتخلو به وتسأله شأنه. فأرسلوا لها لتفعل ذلك، فخلت به وسألت عن شأنه ولم تزل به حتى أفشى سره إليها
Amr bin Ash lalu berkata, “Perkara ini hanya bisa diketahui melalui ibunya. Biarlah ibunya berdua saja dengannya dan menanyakan keadaannya.” Maka mereka pun mengutus ibunya untuk melakukan hal itu. Sang ibu kemudian berdua saja dengan Yazid dan menanyakan keadaannya, terus mendesaknya hingga akhirnya Yazid membocorkan rahasianya kepadanya.
.فأخبرت والدته أباه معاوية، فقال لعمرو بن العاص: ما الحيلة في ذلك؟ فقال له: ابذل الأموال والخلع حتى يرد علينا زوجها من المدينة. ففعل ذلك قصد زوجها عدى بن حاتم من المدينة إلى دمشق
Ibunya kemudian menyampaikan hal itu kepada ayah Yazid, yaitu Mu’awiyah. Mu’awiyah pun berkata kepada Amr bin Ash, “Apa siasat untuk mengatasi hal ini?” Amr bin Ash menjawab, “Berikanlah harta dan hadiah-hadiah, agar suaminya kembali kepada kita dari Madinah.” Mu’awiyah pun melakukan hal itu, sehingga suaminya, Adi bin Hatim, berangkat dari Madinah menuju Damaskus.
فلما دخل على معاوية وهب له أموالا كثيرة وخلع عليه، فلما خرج قال معاوية لعمرو: ما الحيلة بعد هذا؟
Ketika Adi masuk menemui Mu’awiyah, Mu’awiyah memberinya harta yang banyak dan mengenakan jubah kehormatan kepadanya. Setelah Adi keluar, Mu’awiyah bertanya kepada Amr, “Apa siasat selanjutnya?”
،فقال له: إذا دخل عليك غدا فقل له: هل لك زوجة؟ نعم، فاضرب يدك على وجهك ولا تجبه
Amr menjawab, “Besok, jika dia masuk menemuimu, tanyakan kepadanya, ‘Apakah kamu punya istri?’ Jika dia menjawab, ‘Ya,’ tepukkan tanganmu ke wajahmu, lalu diamlah, jangan memberinya jawaban apa pun.”
،فلما دخل على معاوية سأله وفعل ما تقدم، فخرج عدي فإذا عمرو على الباب فسأله عدي عما فعل الخليفة
Keesokan harinya, Adi masuk menemui Mu’awiyah. Mu’awiyah menanyakan hal itu kepadanya dan melakukan persis seperti yang telah disarankan Amr. Adi pun keluar dengan kebingungan. Ternyata Amr sudah menunggu di pintu. Adi bertanya kepadanya tentang sikap khalifah tadi.
،فأظهر من نفسه أنه اغتنم بذلك وقال له يا عدي، ان الخليفة أراد أن يزوجك بنته ويعطيك مالا كثيرا وتعرف ان بنات الملوك لاتدخل على ضرائر
Amr pun berpura-pura seolah memanfaatkan kesempatan itu. Ia berkata, “Wahai Adi, sesungguhnya khalifah hendak menikahkanmu dengan putrinya dan memberimu harta yang banyak. Namun kamu tentu tahu, putri-putri raja tidak sudi dimadu.”
فقال لعمرو: فكيف الحيلة؟
Adi bertanya, “Lalu apa siasatnya?”
فقال له: إذا دخلت عليه غدا وسألك فقل له: يا أمير المؤمنين ليس لي زوجة.
Amr menjawab, “Besok, jika kamu menemuinya dan dia bertanya, katakan saja, ‘Wahai Amirul Mukminin, aku tidak punya istri.'”
فلما دخل عدي على معاوية سأله: هل لك زوجة؟ فقال: لا، فقال له معاوية: قل إن كان لي زوجة فهي طالق بائن، فقال ذلك، فقال معاوية لكتابه: اكتبوا ما قال عدي، فكتبوه.
Ketika Adi menemui Mu’awiyah, Mu’awiyah bertanya, “Apakah engkau punya istri?” Adi menjawab, “Tidak.” Mu’awiyah berkata, “Ucapkanlah, ‘Jika aku punya istri, maka ia tertalak ba’in.'” Maka Adi pun mengucapkannya. Mu’awiyah lalu berkata kepada para juru tulisnya, “Tulislah apa yang diucapkan Adi.” Maka mereka pun mencatatnya.
ثم بعد انقضاء عدتها بعث معاوية إلى أبي هريرة وأعطاه أموالا كثيرة وبعثه إلى المدينة لخطبة أم خلد، فلما دخل المدينة لقيه عبد الله ابن عمر فسأله عن حاله وعن مجيئه، فقص عليه خبره، فقال: هل تذكرني لها؟ قال: نعم
Setelah masa iddah istri Adi berakhir, Mu’awiyah mengutus Abu Hurairah dan memberinya harta yang banyak, lalu mengutusnya ke Madinah untuk melamar Ummu Khalid. Ketika Abu Hurairah tiba di Madinah, Abdullah bin Umar menemuinya dan menanyakan keadaannya serta maksud kedatangannya. Abu Hurairah pun menceritakan perihalnya. Abdullah bin Umar berkata, “Apakah engkau akan menyebut namaku kepadanya?” Abu Hurairah menjawab, “Ya.”
.ثم لقيه عبد الله بن الزبير فسأله فأخبره، فقال: هل تذكرني لها؟ قال: نعم، ثم مر بالحسين فقال مثل ذلك
Kemudian Abdullah bin Zubair menemuinya dan menanyakan hal yang sama, maka Abu Hurairah pun memberitahunya. Abdullah bin Zubair berkata, “Apakah engkau akan menyebut namaku kepadanya?” Abu Hurairah menjawab, “Ya.” Kemudian ia bertemu dengan Husain, dan Husain pun berkata demikian pula.
فلما دخل أبو هريرة على أم خالد أخبرها أن زوجها عديا بت طلاقها، وأن معاوية أرسله إلى خطبتها لابنه يزيد، ثم قال لها: وقد خطبك عبد الله بن عمر وعبد الله بن الزبير والحسين بن علي، فقالت له: أخبر عن أحوالهم، فقال لها: أحدهم له دنيا وليس له دين وهو يزيد، وأخران لهما دين ودنيا وهما عبد الله بن عمر وعبد الله بن الزبير، وأخر له دين وليس له دنيا وهو الحسين
Ketika Abu Hurairah masuk menemui Ummu Khalid, ia mengabarkan kepadanya bahwa suaminya, Adi, telah menceraikannya secara pasti (talak bain), dan bahwa Mu’awiyah mengutusnya untuk melamarnya bagi putranya, Yazid. Kemudian ia berkata kepadanya, “Sungguh, engkau juga telah dilamar oleh Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, dan Husain bin Ali.” Ummu Khalid berkata kepadanya, “Kabarkan kepadaku perihal keadaan mereka.” Ia pun menjawab, “Salah seorang dari mereka memiliki dunia namun tidak memiliki agama, yaitu Yazid. Dua orang lainnya memiliki agama sekaligus dunia, yaitu Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Zubair. Dan yang terakhir memiliki agama namun tidak memiliki dunia, yaitu Husain.”
،فقالت له: زوجني ممن شئت منهم، فقال لها: الأمر إليك، فقالت: لو لم تأتني لكنت بعثت اليك لمشورتك، فكيف وأنت المبعوث، فقال لها: والله لا أقدم أحدا على فم قبله رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الحسين
Ummu Khalid pun berkata, “Nikahkanlah aku dengan siapa saja yang engkau kehendaki di antara mereka.” Abu Hurairah berkata, “Perkara ini terserah kepadamu.” Ummu Khalid berkata, “Andai engkau tidak datang kepadaku, niscaya aku akan mengutus seseorang kepadamu untuk meminta pendapatmu. Bagaimana mungkin aku tidak meminta pendapatmu, sedangkan engkaulah yang diutus?” Maka Abu Hurairah berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mendahulukan siapa pun atas mulut yang pernah dicium oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yaitu Husain.”
،فزوجه بها ودفع له الاموال وعاد إلى معاوية وأخبره بالخير فقال معاوية: صرفت أموالنا إلى غيرنا؟ فقال له: إنك لم ترثها عن آبائك، وإنما أموال الله ورسوله فصرتها لولده
Maka ia pun menikahkannya dengan Husain, dan menyerahkan harta kepadanya, lalu kembali kepada Mu’awiyah dan mengabarkan kabar tersebut. Mu’awiyah berkata, “Engkau alihkan harta kami kepada selain kami?” Abu Hurairah menjawab, “Sesungguhnya harta itu bukanlah warisan dari nenek moyangmu. Harta itu adalah harta Allah dan Rasul-Nya, dan aku hanya mengalihkannya kepada putra beliau (Rasulullah).”
ثم لما لم يحصل لعدي تزويج بنت الخليفة جاء إلى المدينة الشريفة وجلس عند الحسين وتنفس الصعداء، فقال له الحسين: لعلك تذكرت أم خالد؟ قال نعم، فدعا بها وقال لها: هل لمستك؟ قالت: لا، فأنت طالق وتزوجي بعدي، واعلم أني ليس لي غرض، وانما فعلت ذلك رحمة بك، ولذا قيل:
Kemudian, tatkala Adi tidak berhasil menikahi putri khalifah, ia datang ke Madinah Al-Munawwarah dan duduk di sisi Husain sambil menghela nafas panjang. Husain pun berkata kepadanya, “Barangkali engkau teringat akan Ummu Khalid?” Ia menjawab, “Benar.” Maka Husain memanggil Ummu Khalid dan bertanya kepadanya, “Apakah aku pernah menyentuhmu?” Ia menjawab, “Tidak.” Husain berkata, “Kalau begitu, engkau tertalak. Menikahlah engkau setelah ini dengan Adi. Ketahuilah, aku tidak memiliki maksud tertentu dalam hal ini. Aku hanya melakukannya sebagai bentuk kasih sayang kepadamu.”
Oleh karena itu, dikatakanlah:
أنعمي أم خالد ۞ رُبَّ ساع لقاعد
“Bersenang-senanglah, wahai Ummu Khalid, karena banyak orang yang bersusah payah demi orang lain yang hanya duduk berpangku tangan.”


Saran, kritik, masukan, arahan, dan bimbingan sangat diharapkan dari segenap pembaca yg budiman. Mugio dados ilmu ingkang manfaat, Amiiin ya Robbal’alamiiiin