
الحكمة: ۲٥
.ماَ تَوَقَّفَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِرَبِّكَ وَلَا تَيَسَّرَ مَطْلَبٌ أَنْتَ طَالِبُهُ بِنَفْسِكَ
.تڮسي: أورا باكال أڠيل ڤنجالؤ كڠ سيرا جالؤ كانتي سوميندين مراڠ ڤڠيران سيرا، لن أورا باكال ڮامڤاڠ ڤنجالؤ كڠ سيرا جالؤ كانتي ڠندلاكي اواء سيرا ديوي
Sebuah harapan tidak akan terhenti jika dirimu menggapainya dengan bersandar pada Tuhanmu. Sebaliknya, tidak akan mudah menggapai sebuah harapan jika hanya mengandalkan dirimu sendiri.
التوقف: الحبس والتعذر، والمطلب ما يطلب قضاؤه، والتيسر: التسهيل.
At-Tawaqquf artinya tertahan dan tidak dapat dilaksanakan. Al-Mathlab artinya sesuatu yang dituntut untuk ditunaikan. At-Taysur artinya kemudahan.
قلت: إذا عرضت لك حاجة من حوائج الدنيا والآخرة، وأردت أن تُقضي لك سريعًا، فأطلبها باالله، ولا تطلبها بنفسك، فإنك إذا طلبتها باالله، تيسَّر أمرها، وسهل قضاؤها، وإن طلبتها بنفسك، صعُب قضاؤها، وتعسَّر أمرها؛ ولا يتوقف ويحبس أمرٌ طلبته بربك؛ ولا يتيسر ويسهُل أمرٌ طلبته بنفسك.
Aku berkata: Apabila engkau dihadapkan pada suatu keperluan, baik keperluan dunia maupun akhirat, dan engkau menghendaki agar keperluan itu segera terpenuhi, maka mintalah dengan Allah, dan janganlah engkau memintanya dengan mengandalkan dirimu sendiri. Sesungguhnya apabila engkau memintanya dengan Allah, niscaya urusannya menjadi mudah, dan pemenuhannya menjadi lancar. Namun apabila engkau memintanya dengan mengandalkan dirimu sendiri, niscaya pemenuhannya menjadi sulit, dan urusannya menjadi berat. Suatu perkara yang engkau mintakan kepada Tuhanmu tidak akan terhenti dan tertahan, dan suatu perkara yang engkau mintakan dengan mengandalkan dirimu sendiri tidak akan menjadi mudah dan lancar.
قال تعالى حاكيًا عن سيدنا موسى -عليه السلام-: ﴿قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهِ اسْتَعِيْنُوْا بِاللّٰهِ وَاصْبِرُوْا اِنَّ الْاَرْضَ لِلّٰهِ يُوْرِثُهَا مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، الأعراف: ۱۲٨
Allah SWT berfirman mengisahkan tentang Nabi Musa -alaihissalam-: “Musa berkata kepada kaumnya, ‘Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi ini milik Allah, diwariskan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.'” (QS. Al-A’raf: 128)
فكل من أستعان باالله وصبر في طلب حاجته كانت العاقبة له وكان من المتقين وقال تعالى: ﴿وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ، الطلاق: ٣﴾ أي كافيه كل ما أهمه
Maka barangsiapa memohon pertolongan kepada Allah dan bersabar dalam mencari apa yang dibutuhkannya, niscaya kesudahan yang baik akan menjadi miliknya, dan ia termasuk golongan orang-orang yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya” (QS. Ath-Thalaq: 3), yakni Allah mencukupi segala sesuatu yang meresahkannya.
وقال صلى االله عليه وسلم لبعض أصحابه، وهو سويد بن غفلة: ((لَا تَطْلُبِ الْإِمَارَةَ؛ فَإِنَّكَ إِنْ طَلَبْتَهَا، وُكِّلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أَتَتْكَ مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا))
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada salah seorang sahabatnya, yaitu Suwaid bin Ghaflah: “Janganlah engkau meminta jabatan kepemimpinan, karena jika engkau memintanya, engkau akan diserahkan kepadanya (tanpa pertolongan Allah). Namun jika jabatan itu datang kepadamu tanpa engkau memintanya, engkau akan ditolong dalam menjalankannya.”
وعلامة الطلب باالله هو الزهد في ذلك الأمر، والاشتغال باالله عنه، فإذا جاء وقته تكون بإذن االله.
Tanda meminta dengan Allah adalah bersikap zuhud terhadap perkara tersebut, dan menyibukkan diri dengan Allah sehingga berpaling darinya. Maka apabila waktunya telah tiba, perkara itu akan terwujud dengan izin Allah.
وعلامة الطلب بالنفس هو الحرص والبطش إليه، فإذا تعذر عليه، انقبض وتغير عليه، فهذا ميزان من كان طلبه باالله، وطلبه بنفسه، فمن طلب حوائجه باالله، قُضيت مَعْنًى وأن لم تُقْضَ حِسًّا، ومن طلب حوائجه بنفسه، خاب سعيُه وضاع وقتُه، وأن قضيت نَهْمَتُه وحاجتُه.
Tanda seseorang yang mencari sesuatu dengan mengandalkan dirinya sendiri adalah munculnya sikap rakus dan memaksakan diri terhadapnya. Maka apabila hal itu tidak tercapai, ia akan merasa sempit hati dan berubah sikapnya.
Inilah timbangan yang membedakan antara orang yang permintaannya disandarkan kepada Allah, dengan orang yang permintaannya disandarkan kepada dirinya sendiri. Barangsiapa memohon segala kebutuhannya kepada Allah, maka kebutuhan itu akan terpenuhi secara maknawi, sekalipun belum terpenuhi secara lahiriah. Sebaliknya, barangsiapa memohon kebutuhannya dengan mengandalkan dirinya sendiri, maka usahanya akan sia-sia dan waktunya akan terbuang, sekalipun keinginan dan kebutuhannya itu pada akhirnya terpenuhi.
وها هنا ضابط يعرف به أهل العناية من أهل الخذلان، وأهل الولاية من أهل الخسران، ذكره الشيخ أبو الحسن الشاذلي -رضي االله عنه- فقال:
Di sini terdapat suatu tolok ukur yang dengannya dapat dikenali ahli ‘inayah (yang mendapat perhatian Allah) dari ahli khidzlan (yang ditelantarkan), dan ahli wilayah (kewalian) dari ahli khusran (kerugian). Tolok ukur ini disebutkan oleh Syekh Abu Hasan asy-Syadzili radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
إذا أكرم االله عبدًا في حركاته وسكناته، نصب له العبودية لله، وستر عنه حظوظ نفسه، وجعله يتقلب في عبوديته، والحظوظ عنه مستورة مع جري ما قُدِّر له، ولا يلتفت إليها كأنه في معزل عنها.
Apabila Allah memuliakan seorang hamba dalam segala gerak dan diamnya, Dia menegakkan baginya penghambaan kepada Allah, dan menutupi darinya bagian-bagian hawa nafsunya. Dia menjadikan hamba itu senantiasa berputar dalam penghambaannya, sementara bagian-bagian nafsunya tertutup darinya, meskipun apa yang telah ditakdirkan baginya tetap berjalan. Ia tidak menoleh kepada bagian-bagian nafsu itu, seakan-akan ia berada terpisah darinya.
وإذا أهان االلهُ عبدًا في حركاته وسكناته، نصب له حظوظ نفسه، وسترَ عنه عبوديته، فهو يتقلب في شهواته، وعبوديةُ االله عنه بمعزل، وأن كان يجري عليه شيئ منها في الظاهر.
Dan apabila Allah menghinakan seorang hamba dalam segala gerak dan diamnya, Dia menegakkan baginya bagian-bagian hawa nafsunya, dan menutupi darinya penghambaannya kepada Allah. Maka hamba itu pun berputar dalam syahwatnya, sedangkan penghambaannya kepada Allah berada jauh terpisah darinya, meskipun sebagian daripadanya tampak berjalan pada lahirnya.
قال: وهذا باب من الولاية والأهانة.
Beliau berkata: “Ini termasuk bab tentang kewalian dan kehinaan.”
وأما الصديقيَّة العظمي والولايةُ الكبرى، فالحظوظ والحقوق كلها سواء عند ذوي البصيرة؛ لأنه بالله فيما يأخذ ويترك اهـ. نقله الشيخ زروق في بعض شروحه.
Adapun kesiddiqiyyahan yang agung dan kewalian yang besar, maka seluruh hazh (bagian pribadi) dan huquq (hak-hak) adalah sama saja di sisi orang-orang yang memiliki bashirah (ketajaman mata hati). Sebab, ia senantiasa bersama Allah dalam apa yang ia ambil dan apa yang ia tinggalkan. Selesai. Dinukil oleh Syekh Zarruq dalam sebagian syarahnya.
والحاصل: أن تصرفات العارف كلها باالله، وتصرفات غيره كلها بالنفس، ولو كانت باالله فالعمل باالله يوجب القربة، والعمل الله يوجب المثوبة،
Kesimpulannya: seluruh tindakan orang yang arif itu bersama Allah (billâh), sedangkan seluruh tindakan orang selainnya adalah dengan nafsu. Sekalipun tindakan itu karena Allah (lillâh), maka beramal bersama Allah mewajibkan kedekatan, sedangkan beramal karena Allah mewajibkan pahala.
العمل باالله صاحبُه داخل الحجاب في مشاهدة الأحباب، والعمل لله يوجب الثواب من وراء الباب،
Pelaku amal billâh berada di dalam hijab, dalam keadaan menyaksikan para kekasih Allah. Adapun amal lillâh mewajibkan pahala dari balik pintu.
العمل باالله من أهل التحقيق، والعمل لله من أهل التشريع،
Amal billâh adalah milik ahli hakikat (tahqîq). Amal lillâh adalah milik ahli syariat (tasyrî’).
العمل لله من أهل قوله تعالى: ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ﴾ والعمل باالله من أهل قوله تعالى: ﴿وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ﴾.
Amal lillâh adalah milik golongan firman Allah Ta’ala: “Hanya kepada-Mu kami menyembah” (إِيَّاكَ نَعْبُدُ). Adapun amal billâh adalah milik golongan firman Allah Ta’ala: “Dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan” (وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ).
قال شيخ شيوخنا سيدي علي -رضي االله عنه-: ((بين العمل باالله والعمل لله ما بين الدينار والدرهم)) اهـ. وباالله التوفيق.
Guru dari para guru kami, Sayyidi Ali -semoga Allah meridhainya-, berkata: “Perbedaan antara beramal bersama Allah dan beramal karena Allah itu, ibarat perbedaan antara dinar dan dirham.” Selesai. Wallahu al-Muwaffiq (hanya kepada Allah kita memohon taufik).
النجاح في النهايات وسببه
Kesuksesan itu terletak pada akhirnya, dan sebabnya
ومن كان علمه باالله كان راجعًا إليه في كل شيئ، ومعتمدًا عليه في كل حال، وإليه أشار بقوله:
Barangsiapa pengetahuannya tertuju kepada Allah, niscaya ia senantiasa kembali kepada-Nya dalam segala perkara, dan senantiasa bersandar kepada-Nya dalam setiap keadaan. Kepada makna itulah beliau memberi isyarat melalui perkataannya:


Saran, kritik, masukan, arahan dan bimbingan sangat diharapkan dari segenap pembaca yang budiman. Mugio dados ilmu ingkang manfaat, amiiin ya Robbal’alamiiin