*HIKMAH KE-40 AL-HIKAM AL-‘ATHAIYAH*

الحكمة: ٤۰ من الحكم العطائية

،العَجَبُ كُلَّ العَجَبِ مِمَّنْ يَهْرُبُ مِمَّنْ لا انْفِكاكَ لَهُ عَنْهُ، وَيَطْلُبُ ما لا بَقاءَ لَهُ مَعَهُ (فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُور)

تڮسي: أكو ڮاووء كڠ سأ ڮاوو۲كي مراڠ ووڠكڠ ملايو سڠكيڠ ڨڠيران كڠ ديويئي أورا بيصا ڨچات سڠكيڠ ڨڠيران إيكو ياإيكو الله تعالى، لن ڮوليئ ڨركرا كڠ أورا أنا تتڨ سرتاني الله (مريڨات سيرا إيكو أورا ووطا ناڠيڠ ووطا أتيني كڠ أنا إڠ دادا)

Keajaiban yang sungguh mengherankan ialah seseorang yang berlari dari sesuatu yang tidak mungkin lepas darinya. Dan (kemudian) ia mencri sesuatu yang tak akan kekal bersama dirinya. (Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada”.(QS. Al Hajj:46)

،قلت: ما لا أنفكاك منه هو الحق تعالى وقضاؤه وقدره، وما لا بقاء له: هوالدنيا أو ما تدبره النفس وتقدِّره

Aku berkata: Yang tidak dapat engkau lepaskan diri darinya adalah Allah Yang Maha Benar lagi Maha Tinggi, beserta ketetapan dan takdir-Nya. Yang tidak kekal adalah dunia, atau apa yang diatur dan diperkirakan oleh nafsu.

،فمن أعجب العجائب أن يفر العبد من مولاه، ويتوجه بالطلب لما سواه، مع أنه لا أنفكاك له منه، ولا محيد له عنه، إذ لا وجود له إلا منه، ولا قيام له إلا به

Maka termasuk keajaiban yang paling mengherankan, seorang hamba lari dari Tuhannya dan menuju selain-Nya dengan membawa permintaan. Padahal ia tidak dapat lepas dari-Nya dan tidak dapat berpaling dari-Nya. Sebab wujudnya tidak ada kecuali dari-Nya, dan tegaknya tidak ada kecuali dengan-Nya.

،فكيف يهرب منه بترك طلب معرفته، وبالتقرب به بأمتثال أمره وأجتناب نهيه، ويطلب مالا بقاء له من حظوظ الدنيا الفانية التي إن لم تزل عنها في الحياة، زالت عنك بالممات

Bagaimana mungkin ia lari dari-Nya dengan meninggalkan usaha mengenal-Nya, dan dengan tidak mendekat kepada-Nya melalui ketaatan pada perintah dan penjauhan dari larangan-Nya? Lalu ia justru mencari sesuatu yang tidak kekal, yaitu bagian-bagian dunia yang fana. Kalau semua itu tidak lenyap darimu semasa hidup, ia pasti lenyap darimu saat mati.

:فأطلب ما يبقي دون ما يفني ولله در القائل

Maka carilah yang kekal, bukan yang fana. Alangkah indahnya ucapan orang yang berkata:

هَبِ الدُّنْيَا تُسَاقُ إِلَيْكَ عَفْوًا # أَلَيْسَ مَصِيْرُ ذَاكَ إِلٰى زُوَالٍ

Anggaplah dunia datang kepadamu dengan mudah tanpa bersusah payah, bukankah akhirnya semua itu akan sirna?

وَمَا دُنْـــــــــيَاكَ إِلَّا مِثْلُ ظِلٍّ # أَظَلَّكَ ثُمَّ آذَنَ بِارْتِحَـــــــــالِ

Duniamu tiada lain hanyalah seperti bayang-bayang, yang menaungimu sejenak, lalu bersiap untuk pergi menghilang.

:أو تقول: من العَجَب كُلَّ العجب أن يهرب العبد مما لا أنفكاك له عن قَدَر االله وقضائه، ويطلبَ مالا بقاء له من حظوظ تدبيره وأختياره؛ إذ كل ما تدبره وتبرمه فسخَه القضاءُ وهدَمَهُ

Atau engkau mengatakan: Sungguh sangat mengherankan, seorang hamba lari dari sesuatu yang tidak mungkin ia hindari, yaitu takdir dan ketetapan Allah, lalu mencari sesuatu yang tidak kekal, yaitu bagian-bagian keinginan dari pengaturan dan pilihannya sendiri. Sebab, segala sesuatu yang ia atur dan ia kuatkan akan dibatalkan dan dihancurkan oleh ketetapan Allah.

مَتٰى يَبْلُغُ الْبُنْــيَانُ يَوْمًا تَمَامَهُ # إِذَا كُنْتَ تَبْنِيْهِ وَغَيْرُكَ يَهْدِمُ

Kapankah suatu bangunan akan mencapai kesempurnaannya, jika engkau membangunnya sementara orang lain merobohkannya?

وهذا كله من عدم فتح البصيرة أو عماها، ولذلك قال تعالى: ﴿فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ﴾ [الحج: ٤٦] عن أدراك الحس؛ لأنها أدركته وحجبت به، ﴿وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ﴾ [الحج: ٤٦] عن أدراك المعنى، فلا ترى إلا الحس، ولا تحبُّ إلا أياه، ولا تطلب شيئاً سواه؛ نسأل الله عافيته وهداه

Semua itu terjadi karena basirah (mata hati) tidak terbuka atau telah buta. Karena itulah Allah Ta’ala berfirman:  ﴿فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ﴾ [al-Hajj: 46]. Maksudnya, mata kepala tidak buta dari menangkap hal-hal inderawi, sebab ia menangkapnya, bahkan terhalang olehnya. ﴿وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ﴾ [al-Hajj: 46]. Maksudnya, hati yang buta dari menangkap makna. Maka ia hanya melihat yang inderawi, hanya mencintainya, dan tidak mencari apa pun selain itu. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan petunjuk-Nya.

.قال الشيخ أبو الحسن الشاذلي -رضي االله عنه-: »عَمَي البصيرة في ثلاث إرسال الجوارح في معاصي االله والطمع في خلق االله والتصنع بطاعة االله« اهـ

Syekh Abu al-Hasan asy-Syadzili ra. berkata: “Kebutaan mata hati itu ada tiga: membiarkan anggota badan terjerumus dalam maksiat kepada Allah, menaruh harap kepada makhluk Allah, dan berpura-pura taat kepada Allah.” Kutipan selesai.