
الحكمة: ٤۲ من الحكم العطائية
لَا تَصْحَبْ مَنْ لا يُنْهِضُكَ حالُهُ وَلا يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقالُهُ.
تڮسي: سيرا أجا ككانچان كارو ووڠكڠ تيڠكاهي أورا بيصا اڠڮريڮاهاكي سيرا مراڠ عبادة لن أوچڨاني أورا نودوهاكي سيرا مراڠ الله.
Jangan bersahabat dengan orang yang keadaannya tidak membuatmu bangkit dan ucapannya tidak menunjukimu kepada Allah.
قلت: الذي ينهضك حاله: هو الذي إذا رأيته ذكرت االله فقد كنت في حال الغفلة، فلما رأيته نهض حالك إلى اليقظة، أوكنت في حالة الرغبة، فلما رأيته نهض حالك إلى الزهد، أو كنت في حالة الاشتغال بالمعصية، فلما رأيته نهض حالك إلى التوبة، أو كنت في حالة الجهل بمولاك، فنهضت إلى معرفة من تولاك، وهكذا.
Aku berkata: Orang yang keadaannya membangkitkanmu (mengingatkanmu kepada Allah) adalah orang yang jika engkau melihatnya, engkau mengingat Allah. Padahal sebelumnya engkau berada dalam keadaan lalai, maka ketika engkau melihatnya, keadaanmu bangkit kepada kesadaran (kewaspadaan). Atau engkau berada dalam keadaan terlalu cinta dunia (raghbah), maka ketika engkau melihatnya, keadaanmu bangkit kepada kezuhudan. Atau engkau sedang sibuk dengan kemaksiatan, maka ketika engkau melihatnya, keadaanmu bangkit kepada tobat. Atau engkau berada dalam keadaan bodoh (tidak mengenal) Tuhanmu, maka engkau bangkit menuju pengenalan terhadap Zat yang menguasaimu (Allah), dan begitu seterusnya.
والذي يدلك على االله مقاله: هو الذي يتكلم باالله، ويدل على االله، ويغيب عما سواه؛
Orang yang menunjukkanmu kepada Allah lewat ucapannya adalah orang yang berbicara karena Allah, menunjukkan (jalan) kepada Allah, dan terlepas (pikirannya) dari selain-Nya.
إذا تكلم، أخذ بمجامع القلوب، وإذا سكت، أنهضَكَ حالُه إلى علام الغيوب،
Jika dia berbicara, ucapannya akan memikat dan menguasai hati. Jika dia diam, perilakunya (haal) akan membangkitkan semangatmu menuju (Allah) Yang Maha Mengetahui hal-hal gaib.
فحالُه يصدِّقُ مقالَه، ومقالُه موافقٌ لعلمه، فصحبةُ مثلِ هذا أكسيرٌ يَقْلِب الأعيان،
Maka, perilakunya membenarkan ucapannya, dan ucapannya selaras dengan ilmunya. Bersahabat dengan orang seperti ini bagaikan elixir (obat penawar/pengubah) yang mampu mengubah hakikat benda.
وهو مفهوم من قول الشيخ: »لا تصحب من لا ينهضك حاله إلخ« أي: بل اصحبْ من ينهضك حالُه، وبذلك يدلُّك على االله مقاله.
Hal ini dipahami dari perkataan sang Syekh: ‘Janganlah kamu bersahabat dengan orang yang perilakunya tidak membangkitkan semangatmu… dsb.’ Artinya: Tetapi bersahabatlah dengan orang yang perilakunya membangkitkan semangatmu, dan dengan demikian, ucapannya akan menunjukkanmu kepada Allah.
والصحبة في طريق التصوف أمر كبير في السير إلى االله تعالى حسبما جرت به عادة االله تعالى وحكمته، حتى قال بعضهم: »من لا شيخ له، فالشيطان شيخه«
Dan persahabatan (menemani guru) dalam jalan tasawuf merupakan perkara yang sangat besar (penting) dalam perjalanan menuju Allah Ta’ala, sebagaimana yang telah berlaku pada ketetapan (adat) dan hikmah Allah Ta’ala. Sampai-sampai sebagian ulama berkata: ‘Barangsiapa yang tidak memiliki syekh (guru spiritual), maka setanlah gurunya’.
وقال آخر: »الأنسان كالشجرة النابتة في الخلاء، فإن لم تقطَع وتُقَلَّمْ كانت دكارة«.
Dan yang lain berkata: ‘Manusia itu seperti pohon yang tumbuh di tanah lapang (alam terbuka); jika tidak dipotong dan dipangkas, ia akan menjadi liar (tidak teratur/tidak berbuah).’
وقال الشيخ أبو العباس المرسي -رضي االله عنه-: » كُلُّ من لا شيخ له في هذا الشَّأْنِ، لَا يُفْرَح بِهٖ«.
Dan Syekh Abu al-Abbas al-Mursi —semoga Allah meridtainya— berkata: ‘Setiap orang yang tidak memiliki syekh (guru spiritual) dalam urusan (tarekat/tasawuf) ini, maka (keadaannya) tidaklah menggembirakan.’
ومن شروط الشيخ أربعة:
۱. علم صحيح،
۲. وذوق صريح،
۳. وهمة عالية،
٤. وحالة مرضية.
Dan di antara syarat-syarat seorang Syekh (guru spiritual) ada empat:
- Ilmu yang sahih (benar/mendalam),
- Rasa (spiritual) yang jernih/murni,
- Tekad (cita-cita) yang tinggi,
- Keadaan (spiritual) yang diridai.
فالعلم الصحيح: هو ما يتقن به فرضه.
Maka ilmu yang benar (shahih) itu adalah: ilmu yang dengannya seseorang dapat menunaikan kewajibannya dengan sempurna/baik.
ولا بد أن يكون عالمًا بالمقامات والمنازل التي يقطعها المريد، وبغرور النفس ومكايدها، قد سلك ذلك على يد شيخ كامل وذاق ذلك ذوقًا لا تقليدًا وهو المراد بالذوق الصريح.
Dan dia (Syekh) haruslah seorang yang mengetahui maqam-maqam (tingkatan spiritual) dan manzilah-manzilah (kedudukan) yang dilalui oleh seorang murid (pencari Tuhan), serta memahami tipu daya nafsu dan makar-makarnya. Ia telah menempuh jalan tersebut di bawah bimbingan seorang syekh (guru) yang sempurna, dan telah merasakan hal itu secara langsung melalui pengalaman spiritual (dzauq), bukan sekadar ikut-ikutan (taqlid); dan itulah yang dimaksud dengan rasa yang nyata (adz-dzauq ash-sharih).
والهمة العالية: هي المتعلقة باالله دون ما سواه.
Dan cita-cita (tekad) yang tinggi itu adalah yang selalu bergantung (terikat) kepada Allah, bukan kepada selain-Nya.
والحالة المرضية: هي الأستقامة بقدر الأستطاعة.
Keadaan yang diridai itu ialah istikamah sesuai dengan batas kemampuan.
ولا بد أن يكون جامعًا بين حقيقة وشريعة، وبين جذب وسلوك، فيجذبه بجذب القلوب، وبسلوكه يخرجها من حالة الجذب إلى البقاء، فالسالك فقط ظاهري لا يجذب ولا يحقِّق، والمجذوب فقط لا يسير ولا يوصِل، وفساد صحبته أكثر من نفعها.
Dan dia (Syekh) haruslah memadukan antara hakikat dan syariat, serta antara jadzb (tarikan spiritual) dan suluk (perjalanan spiritual). Dengan jadzb-nya, dia menarik hati (para murid), dan dengan suluk-nya, dia mengeluarkan hati tersebut dari kondisi jadzb menuju kondisi baqa’ (kemapanan spiritual). Maka, orang yang hanya menjalani suluk saja (salik) hanyalah bersifat lahiriah; ia tidak bisa menarik (hati murid) dan tidak bisa mewujudkan hakikat. Sebaliknya, orang yang hanya mengalami jadzb saja (majdzub) tidak bisa berjalan dan tidak bisa mengantarkan (murid ke tujuan). Bahkan, dampak buruk berteman dengannya lebih banyak daripada manfaatnya.
قال في »أصول الطريقة«: »ومن فيه خمس لا تصح مشيخته:
۱. الجهل بالدين،
۲. وأسقاط حرمة المسلمين،
۳. ودخول ما لا يعني،
٤. وأتباع الهوى في كل شيء،
٥. وسوء الخلق من غير مبالات« اهـ.
فصحبة مثل هذا ضرر محض، وإليه أشار بقوله:
Beliau berkata dalam kitab ‘Ushul ath-Thariqah’: ‘Dan barangsiapa yang memiliki lima perkara ini, maka tidak sah kemursyidannya (tidak layak menjadi guru spiritual):
- Bodoh (tidak paham) tentang agama,
- Menjatuhkan/meremehkan kehormatan sesama muslim,
- Ikut campur dalam urusan yang tidak penting bagi dirinya,
- Mengikuti hawa nafsu dalam segala hal, dan
- Berakhlak buruk tanpa peduli (tidak merasa bersalah).’ Selesai kutipan.
Maka, bersahabat (berguru) dengan orang yang seperti ini adalah bahaya/kerugian murni. Dan kepadanyalah beliau mengisyaratkan dengan perkataannya:

