
بسم الله الرحمن الرحيم
﴿يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ، البقرة: ۲٦٩﴾
يقول العبد الفقير إلى مولاه، الغني به عما سواه، أحمد بن محمد بن عجيبة الحسنى لطف االله به وحباه.
إن أولى ما عُقِد عليه الجَنان. ونطقَت به ألسنة الفصاحة والبيان. وخطَّت به أقلام البَنان؛ حمدُ الفتَّاحِ العليمِ الكريمِ المنَّان.
الحمد الله الذي ملأ قلوب أوليائه بمحبته، واختص أرواحهم بشهود عظمته، وهيأ أسرارهم لحمل أعباء معرفته؛ فقلوبهم في روضات جنات معرفته يحبرون، وأرواحهم في رياض ملكوته يتنـزَّهون، وأسرارُهم في بحار جبروته يسبحون؛ فاستخرجت أفكارهم يواقيت العلوم، ونطقت ألسنتهم بجواهر الحكم ونتائج الفهوم، فسبحان من اصطفاهم لحضرته، واختصهم بمحبته، فهم بين سالك ومجذوب، ومحب ومحبوب، أفناهم في محبة ذاته، وأبقاهم بشهود آثار صفاته.
والصلاة والسلام على سيدنا ومولانا محمد منبع العلوم والأنوار، ومعدن المعارف والأسرار، ورضى االله تعالى عن أصحابه الأبرار، وأهل بيته الأطهار.
Adapun setelah membaca basmalah, hamdalah, shalawat dan salam atas Baginda Nabi Muhammad SAW., keluarga, sahabat tabi’in, tabi’it tabi’in, beserta pengikut setianya sampai hari kiamat. Sebelum, dan bersama segala sesuatu: ilmu tasawuf merupakan ilmu yang paling mulia kedudukannya, paling agung posisi serta kebanggaannya, dan paling terang cahayanya bagai matahari dan bulan purnama. Bagaimana bisa tidak demikian? Ilmu tasawuf adalah inti sari syariat, jalan hidup tarekat, dan sumber pancaran cahaya hakikat. Kitab paling agung yang pernah ditulis dalam bidang tasawuf adalah Al-Hikam Al-Atha’iyyah. Kitab ini memuat anugerah spiritual dan rahasia ketuhanan. Pemikiran suci serta rahasia ketuhanan yang perkasa menyuarakan untaian hikmah tersebut. Saya mendengar guru dari guru kami, Maulana Al-Arabi—semoga Allah meridtainya—berkata: “Saya mendengar Al-Faqih Al-Bannani berkata”: “Untaian hikmah Ibnu Atha’illah hampir saja menjadi wahyu. Jika salat boleh membaca selain Al-Qur’an, tentu kalimat-kalimat dalam kitab Al-Hikam ini sangat layak dibaca, atau seperti yang beliau ucapkan”.
Guru kami yang arif, yang telah mencapai makrifat, sang peneliti yang sempurna, Sayyidi Muhammad al-Buzidi al-Hasani, telah meminta saya untuk menyusun sebuah syarah (penjelasan) tingkat menengah. Penjelasan ini berfungsi untuk menerangkan makna dan mengukuhkan struktur teks. Dalam menyusunnya, saya bersandar pada daya dan kekuatan Allah, serta pada pintu-pintu khazanah ilmu dan hikmah-Nya yang Dia bukakan, atau pada ucapan para ulama kaum sufi yang selaras dengan hikmah tersebut. Maka, saya memenuhi permintaan beliau dan mengabulkan keinginan tersebut, dengan harapan karya ini dapat memberikan kepuasan serta membawa manfaat yang luas.
“Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada-Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku kembali”. (QS. Hud: 88)
Dan saya menamainya: [Iqadz al-Himam fi Syarh al-Hikam]. Semoga Allah menjadikannya tulus ikhlas untuk mencari ridha-Nya Yang Agung, demi kedudukan Nabi kita Al-Musthafa Yang Mulia, atas beliau selawat paling utama dan salam paling suci.
Sebagai pengantar buku ini, kami menyajikan dua pendahuluan:
Salah satunya: mengenai definisi tasawuf, objek kajiannya, pencetusnya, namanya, sumber pengambilannya, hukum syariatnya, gambaran masalahnya, keutamaannya, hubungannya dengan ilmu lain, serta buah hasilnya.
Mukadimah kedua: Biografi Syekh dan penyebutan kebaikan-kebaikannya.
Definisi-definisi Tasawuf:
Adapun batasannya, Al-Junayd berkata: Fana adalah saat Al-Haqq (Allah) mematikan dirimu darimu, dan menghidupkanmu dengan-Nya.
Dia juga berkata: berada bersama Allah tanpa perantara.
Dikatakan: Masuk ke dalam setiap akhlak yang mulia, dan keluar dari setiap akhlak yang hina.
Ada yang mengatakan: itu adalah akhlak mulia yang tampak pada zaman yang mulia bersama kaum yang mulia.
Dikatakan: Tasawuf dibangun di atas tiga perkara: berpegang teguh pada kefakiran dan rasa butuh (kepada Allah), merealisasikan kedermawanan dan mendahulukan orang lain, serta meninggalkan mengatur-atur (kemauan diri) dan memilih (pilihan sendiri).
Dikatakan: berpegang teguh pada kebenaran, dan lepas harapan dari apa yang ada di tangan makhluk.
Dikatakan: dzikir dengan kebersamaan, wujud dengan pendengaran, dan amal dengan keteladanan.
Dikatakan: Tetap menjaga harga diri di pintu sang kekasih, meskipun diusir.
Dikatakan: Kejernihan kedekatan hadir setelah kekeruhan kejauhan.
Dan dikatakan: Duduk bersama Allah tanpa kegundahan.
Dan dikatakan: Itu adalah keterjagaan dari memandang alam semesta.
Tanda seorang sufi sejati adalah ia memilih kefakiran setelah kekayaan, memilih kehinaan setelah kemuliaan, dan memilih kesunyian setelah ketenaran.
Tanda seorang sufi palsu adalah dia merasa berkecukupan setelah miskin, merasa mulia setelah hina, dan menjadi populer setelah tersembunyi. Hal ini dinyatakan oleh Abu Hamzah al-Baghdadi.
Al-Hasan bin Mansur berkata: Seorang sufi adalah sosok yang tunggal secara esensi, ia tidak diterima oleh siapa pun, dan ia tidak menerima siapa pun.
Dikatakan bahwa seorang sufi itu laksana bumi. Segala hal yang buruk dicampakkan ke atasnya, namun tidak ada yang tumbuh darinya melainkan keindahan semata. Di atas bumi itu pula berjalan orang yang taat maupun orang yang bermaksiat. Dan mereka juga berkata: Di antara segala keburukan yang paling buruk adalah seorang sufi yang kikir.
Asy-Syibli berkata: Seorang sufi adalah orang yang terputus dari makhluk dan terhubung dengan Al-Haq (Allah). Hal ini berdasarkan firman-Nya Ta’ala: ‘Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku.’ (QS. Taha: 41)
Kemudian dia juga berkata: Kaum Sufi adalah anak-anak dalam pangkuan Al-Haqq.
Dikatakan: Seorang sufi tidak ditampung oleh bumi, dan tidak dipayungi oleh langit. Artinya: Ia tidak dibatasi oleh alam semesta.
Syekh Zarruq—semoga Allah meridainya—berkata: Tasawuf telah didefinisikan, digambarkan, dan dijelaskan dalam sekitar dua ribu cara. Semua cara itu kembali pada ketulusan menghadap kepada Allah Ta’ala. Semua itu hanyalah sudut pandang di dalamnya. Allah lebih mengetahui.
Kemudian beliau berkata: Perbedaan pendapat pada satu hakikat yang sama, jika jumlahnya banyak, menunjukkan jauhnya pencapaian pemahaman menyeluruh terhadap hakikat tersebut.
Selanjutnya, jika perbedaan itu kembali pada satu asal yang mencakup seluruh pendapat di dalamnya, maka ungkapan tentang hakikat tersebut disesuaikan dengan apa yang dipahami darinya. Seluruh pendapat yang ada berpijak pada rincian-rincian hakikat itu. Pertimbangan setiap individu didasarkan pada contoh aktualnya, baik secara ilmu, amal, kondisi spiritual (hal), rasa (dzauq), maupun aspek lainnya. Perbedaan pandangan dalam tasawuf termasuk dalam kategori ini.
Oleh karena itu, Al-Hafiz Abu Nu’aim —rahimahullah— menyertakan sebuah perkataan yang sesuai dengan kondisi spiritual (hal) masing-masing tokoh dalam sebagian besar biografi ulama di kitab Hilyah beliau, lalu berkata: Dan dikatakan bahwa tasawuf adalah begini. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang yang memiliki bagian dari ketulusan orientasi spiritual (sidq at-tawajjuh), ia memiliki bagian dari tasawuf. Tasawuf setiap orang adalah ketulusan orientasi spiritualnya, maka pahamilah. Selesai kutipan.
Beliau juga menyatakan bahwa kaidah ketulusan orientasi spiritual terikat oleh syarat. Syarat tersebut harus sesuai dengan aspek yang diridai oleh Allah Yang Mahaluhur dan melalui cara yang Dia ridai. Sebuah perkara yang bersyarat tidak akan sah tanpa adanya syarat tersebut. Allah tidak meridai kekufuran bagi hamba-Nya, maka realisasi iman menjadi sebuah keharusan. Jika kamu bersyukur, Dia meridai kesyukuranmu, maka pengamalan Islam menjadi sebuah kewajiban. Oleh karena itu, tidak ada tasawuf tanpa fikih, karena hukum lahiriah Allah hanya dapat diketahui melaluinya. Tidak ada fikih tanpa tasawuf, karena tidak ada amal tanpa ketulusan orientasi spiritual. Keduanya tidak akan ada tanpa iman, karena masing-masing tidak sah tanpanya. Maka, penggabungan keduanya menjadi wajib karena keterikatan hukum keduanya, seperti keterikatan antara roh dan jasad. Roh tidak akan ada kecuali di dalam jasad, sebagaimana jasad tidak akan sempurna kecuali dengan adanya roh.
Termasuk dalam hal ini adalah perkataan Imam Malik —semoga Allah merahmatinya—: ‘Barangsiapa mempelajari tasawuf tanpa memahami fikih, maka ia telah zindik. Barangsiapa memahami fikih tanpa mempelajari tasawuf, maka ia telah fasik. Dan barangsiapa memadukan keduanya, maka ia telah mencapai hakikat.’
Saya menyatakan: Orang pertama dianggap ‘zindik’ karena ia menganut paham fatalisme (jabar) yang menegaskan hikmah dan hukum. Orang kedua dianggap ‘fasik’ karena ilmunya kosong dari ketulusan niat yang membentengi diri dari maksiat kepada Allah, serta sepi dari keikhlasan yang menjadi syarat dalam beramal. Orang ketiga mencapai ‘hakikat’ karena ia menegakkan kebenaran esensial (al-haqiqah) di dalam kepatuhannya pada syariat (al-haqq). Pahamilah hal itu, karena hakikat tidak akan ada tanpa syariat, sebagaimana syariat tidak akan sempurna tanpa hakikat. Maka mengertilah. Selesai kutipan.
Objek kajian ilmu tasawuf:
Sebab Dia adalah Zat Yang Mahatinggi. Dia dikaji untuk makrifat kepada-Nya, baik melalui dalil burhani maupun melalui penyaksian batin dan indra. Jalur pertama bagi para pencari, dan jalur kedua bagi mereka yang telah sampai.
Dan dikatakan: objek kajiannya adalah jiwa, hati, dan roh. Hal itu karena ilmu ini membahas tentang penyucian dan pembersihannya. Pendapat ini dekat dengan yang pertama. Karena barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.
Pencetus/Pendiri cabang ilmu ini:
Dialah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah mengajarkan ilmu kepadanya melalui wahyu dan ilham. Maka, Malaikat Jibril ‘alaihis salam turun pertama kali membawa syariat. Ketika syariat telah ketat ketetapannya, Jibril turun untuk kedua kalinya membawa hakikat. Lalu Nabi mengkhususkan ilmu hakikat tersebut bagi sebagian sahabat, bukan untuk seluruhnya.
Orang pertama yang membahas dan menyebarkannya adalah Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah. Hasan al-Bashri mengambil ilmu tersebut darinya. Ibu Hasan bernama Khairah, seorang hamba sahaya yang telah dimerdekakan oleh Ummu Salamah, istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sementara itu, ayah Hasan adalah hamba sahaya yang telah dimerdekakan oleh Zaid bin Tsabit.
Hasan wafat pada tahun seratus sepuluh Hijriah.
Dan Hasan Al-Bashri menurunkan ilmu ini kepada Habib Al-Ajami. Habib Al-Ajami menurunkan ilmu ini kepada Abu Sulaiman Dawud Ath-Tha’i, yang wafat pada tahun 160 Hijriah. Dawud Ath-Tha’i menurunkan ilmu ini kepada Abu Mahfuzh Ma’ruf bin Fairuz Al-Karkhi—semoga Allah meridtainya.
Ma’ruf Al-Karkhi menurunkan ilmu ini kepada Abu Al-Hasan Sari bin Mughallis As-Saqati, yang wafat pada tahun 151 Hijriah. Sari As-Saqati menurunkan ilmu ini kepada pemimpin tarekat ini sekaligus penjelas panji-panji kebenaran, yaitu Abu Al-Qasim Muhammad bin Al-Junaid Al-Khazzar.
Al-Junaid berasal dari Nihawand dan tumbuh besar di Irak. Beliau mempelajari fikih dari Abu Tsaur dan berguru kepada Imam Asy-Syafi’i. Beliau memberikan fatwa berdasarkan mazhab Abu Tsaur. Beliau kemudian berguru kepada pamannya, Sari As-Saqati, serta Abu Al-Harits Al-Muhasibi, dan ulama lainnya. Pemikiran dan hakikat ruhaninya tercatat rapi di dalam berbagai kitab. Beliau—semoga Allah meridtainya—wafat pada tahun 297 Hijriah. Makamnya di Baghdad sangat masyhur dan sering dikunjungi peziarah.
Setelah masa Al-Junaid, ajaran tasawuf tersebar luas melalui para muridnya, dan begitu seterusnya. Ajaran tasawuf tidak akan pernah terputus hingga agama ini berakhir.
Dan dari riwayat lain: Kutub pertama, Sayyidina Al-Hasan, mengambil (sanad) ini dari ayahnya, Sayyidina Ali—radhiyallahu ‘anhu—. Kemudian dari beliau (Sayyidina Hasan) kepada Abu Muhammad Jabir. Kemudian kepada Al-Quthb Said Al-Ghazwani. Kemudian kepada Al-Quthb Fathus Su’ud. Kemudian kepada Al-Quthb Sa’ad. Kemudian kepada Al-Quthb Said. Kemudian kepada Al-Quthb Sayyidi Ahmad Al-Marwani. Kemudian kepada Ibrahim Al-Bashri. Kemudian kepada Zainuddin Al-Qazwini.
Kemudian kepada Al-Quthb Syamsuddin. Kemudian kepada Al-Quthb Tajuddin. Kemudian kepada Al-Quthb Nuruddin Abul Hasan. Kemudian kepada Al-Quthb Fakhruddin. Kemudian kepada Al-Quthb Taqyuddin Al-Fuqayyir—keduanya dalam bentuk tashghir—. Kemudian kepada Al-Quthb Sayyidi Abdurrahman Al-Madani. Kemudian kepada Al-Quthb Al-Kabir Mulay Abdussalam bin Masyisy. Kemudian kepada Al-Quthb Asy-Syahir Abul Hasan Asy-Syadzili. Kemudian kepada khalifahnya, Abu Abbas Al-Mursi.
Kemudian kepada Al-Arif Al-Kabir Sayyidi Ahmad bin Athaillah. Kemudian kepada Al-Arif Al-Kabir Sayyidi Dawud Al-Bakhili. Kemudian kepada Al-Arif Sayyidi Muhammad Bahrus Shafa. Kemudian kepada Al-Arif putranya, Sayyidi Ali ibn Wafa. Kemudian kepada Al-Wali Asy-Syahir Sayyidi Yahya Al-Qadiri. Kemudian kepada Al-Wali Asy-Syahir Sayyidi Ahmad bin Uqbah Al-Hadhrami. Kemudian kepada Al-Wali Al-Kabir Sayyidi Ahmad Zarruq. Kemudian kepada Sayyidi Ibrahim Afham. Kemudian kepada Sayyidi Ali Ash-Sanhaji yang terkenal dengan julukan Ad-Dawwar.
Kemudian kepada Al-Arif Al-Kabir Sayyidi Abdurrahman Al-Majdzub. Kemudian kepada Al-Wali Asy-Syahir Sayyidi Yusuf Al-Fasi. Kemudian kepada Al-Arif Sayyidi Abdurrahman Al-Fasi. Kemudian kepada Al-Arif Sayyidi Muhammad bin Abdullah. Kemudian kepada Al-Arif Sayyidi Qasim Al-Khashashi. Kemudian kepada Al-Arif Sayyidi Ahmad bin Abdullah. Kemudian kepada Al-Arif Sayyidi Al-Arabi bin Abdullah. Kemudian kepada Al-Arif Al-Kabir Sayyidi Ali bin Abdurrahman Al-Umrani Al-Hasani.
Kemudian kepada Al-Arif Asy-Syahir Syaikhul Masyaikh Sayyidi wa Mulay Al-Arabi Ad-Darqawi Al-Hasani. Kemudian kepada Al-Arif Al-Kamil Al-Muhaqqiq Al-Washil Syaikhuna Sayyidi Muhammad bin Ahmad Al-Buzidi Al-Hasani. Kemudian kepada hamba-Nya yang hina dan paling rendah, Ahmad ibn Muhammad bin Ajibah Al-Hasani. Kemudian dari beliau, sanad ini diambil oleh banyak makhluk. Segala puji dan karunia milik Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Nama ilmu: Ilmu Tasawuf:
Nama ilmu imi terdapat perbedaan pendapat yang luas mengenai asal-usul kata Tashawuf, yang merujuk pada lima pendapat utama.
Pertama: bahwa kata Tashawuf berasal dari kata ash-shufah (gumpalan wol), karena dia bersama Allah bagaikan gumpalan wol yang terlempar tanpa daya mengatur dirinya sendiri.
Kedua: dari kata shufat al-qafa (rambut halus di tengkuk), karena kelembutannya. Maka seorang Sufi adalah orang yang tenang lagi lembut.
Ketiga: Bahwa hal itu termasuk sifat, karena esensinya adalah menyandang segenap pujian dan meninggalkan segala sifat tercela.
Keempat: Bahwa kata tersebut berasal dari kata al-shafa (kemurnian). Pendapat ini dinilai sahih, bahkan Abu al-Fatah al-Busti —semoga Allah merahmatinya— berkata tentang sufisme:
Manusia berbeda faham tentang sufi, dan berselisih (karena) tidak mengetahui, disangkanya adalah kata yang musytaq (derivasi, red.) dari kata shuf (kain wol)
Dan aku tidak menempatkan nama ini (sufi) kecuali pada seorang yang tulus, maka demikianlah sehingga dinamakan sufi.
Kelima: Bahwa kata tersebut diambil dari sifat Masjid Nabawi yang menjadi tempat tinggal bagi para Sahabat Ahlus Shuffah. Hal ini karena seorang sufi mengikuti mereka dalam hal sifat yang telah Allah tetapkan untuk mereka. Allah berfirman:
“Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya”. (Al-Kahf: 28)
Dan ia merupakan dasar acuan bagi setiap pendapat di dalamnya yang dinyatakan oleh Syekh Zarruq —rahimahullah—.
Sumber pengambilan:
Ia bersumber dari Al-Qur’an, As-Sunnah, ilham para orang saleh, dan keterbukaan spiritual (futuhat) para arif. Mereka memasukkan beberapa hal dari ilmu fikih ke dalamnya karena kebutuhan mendesak dalam ilmu tasawuf. Al-Ghazali menyusunnya dalam kitab Al-Ihya yang terbagi menjadi empat bagian: kitab ibadah, kitab adat kebiasaan, kitab hal-hal yang membinasakan, dan kitab hal-hal yang menyelamatkan. Di dalamnya terdapat kesempurnaan, bukan syarat, kecuali hal-hal yang memang harus ada dalam bab ibadah. Wallahu ta’ala a’lam.
Hukum syariat tentang hal ini: Al-Ghazali menyatakan bahwa hukumnya adalah fardu ain. Sebab, tidak ada seorang pun yang luput dari cacat atau penyakit, kecuali para nabi —alaihimussalam—.
Asy-Syadzili berkata: Barangsiapa yang tidak mendalami ilmu kami ini, ia mati dalam keadaan terus-menerus melakukan dosa besar tanpa ia sadari. Karena ilmu ini hukumnya fardhu ain, seseorang wajib melakukan perjalanan menuju guru yang menguasainya jika guru tersebut dikenal mampu mendidik ruhani. Sang guru juga harus masyhur dalam memberikan obat penawar jiwa. Kewajiban ini tetap berlaku meskipun harus menyelisihi orang tua, sebagaimana ditegaskan oleh banyak ulama seperti Al-Bilali, As-Sanusi, dan ulama lainnya.
Syekh As-Sanusi berkata: Jiwa manusia ketika dominan bagaikan musuh yang menyerang secara tiba-tiba. Wajib memerangi jiwa tersebut dan memohon pertolongan untuk menghadapinya, meskipun harus menyelisihi kedua orang tua, sebagaimana halnya musuh ketika menampakkan diri. Hal ini beliau sampaikan dalam Syarh Al-Jaziri.
Betapa indahnya apa yang dikatakan oleh penyair:
Demi cintaku padamu, kurtaruhkan jiwaku. Kucondongkan diriku, arungi samudramu, apa pun yang kan berlalu.
Dan ‘kan kuseberangi setiap celah demi cintaku padamu, Serta ‘kan kuminum cawanmu walau berisi racun bersamamu.
Dan aku tidak mendengarkan orang yang melarangku, karena telingaku telah tuli bagi para pencela.
Kutaruhkan nyawa demi cintaku padamu. Dan kutinggalkan demi ridamu ayah dan ibu
Masalah-masalah pokoknya: yaitu mengetahui istilah-istilah teknis dan kosakata yang beredar di antara kaum (sufi). Contohnya seperti ikhlas, jujur (sidik), tawakal, zuhud, warak, rida, pasrah (taslim), cinta (mahabah), fana, baka. Contoh lain seperti zat, sifat, kuasa (kodrat), hikmah, ruhani, basyariah (kemanusiaan). Contoh lainnya lagi seperti mengetahui hakikat hal, warid, makam, dan sebagainya.
Al-Qusyairi telah menyebutkan penjelasan yang memuaskan pada bagian awal kitab Risalah-nya. Saya juga telah menyusun sebuah kitab yang memuat seratus hakikat dari hakikat-hakikat tasawuf. Saya menamai kitab itu: Mi’rajat Tasawwuf ila Haqa’iqit Tasawwuf (Tangga Kerinduan Menuju Hakikat Tasawuf). Siapa saja yang menghendakinya silakan membaca kitab tersebut. Kitab itu dapat membantu pembaca untuk memahami ucapan kaum sufi.
Kemudian saya katakan: Justru kajian mendalam mengenai masalah-masalah ilmu ini menunjukkan bahwa masalah tersebut merupakan persoalan yang dicari oleh seorang penempuh jalan spiritual (salik) dalam perjalanan ruhaninya untuk diamalkan. Contohnya adalah keikhlasan sebagai syarat dalam beramal, zuhud sebagai rukun dalam jalan spiritual, serta khalwat dan diam sebagai hal yang dianjurkan. Persoalan-persoalan sejenis ini merupakan pembahasan utama dalam seni ilmu ini. Oleh karena itu, seseorang seyogianya memahami konsep-konsep tersebut sebelum mulai mendalami ilmu ini secara teori maupun praktik. Wallahu ta’ala a’lam (Dan Allah Yang Maha Tinggi lebih mengetahui).
Keutamaan Ilmu Keilahian (Fadhilahnya)
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa objek kajian ilmu ini adalah Zat Yang Mahatinggi. Zat tersebut adalah zat yang paling utama secara mutlak. Oleh karena itu, ilmu yang berkaitan dengan-Nya merupakan ilmu yang paling utama secara mutlak.
Sebab, ilmu ini menunjukkan beberapa hal secara bertahap:
- Bagian awal ilmu ini menunjukkan rasa takut kepada Allah Ta’ala.
- Bagian tengah ilmu ini menunjukkan tata cara berinteraksi dengan-Nya.
- Bagian akhir ilmu ini menunjukkan makrifat (pengenalan) kepada-Nya serta ketulusan beribadah hanya untuk-Nya.
Imam Al-Junayd berkata: Seandainya kami mengetahui ada ilmu di bawah kolong langit ini yang lebih mulia daripada ilmu yang sedang kami diskusikan bersama para sahabat kami, niscaya aku pasti akan berusaha keras untuk mengejarnya.
Syekh Ash-Shaqalli —radhiyallahu ‘anhu— berkata dalam kitabnya yang berjudul Anwar al-Qulub fi al-‘Ilm al-Mauhub:
‘Setiap orang yang membenarkan ilmu ini, maka ia termasuk kelompok khusus. Setiap orang yang memahaminya, maka ia termasuk kelompok yang sangat khusus. Dan setiap orang yang mampu mengungkapkannya serta membicarakannya, maka ia adalah bintang yang tidak terjangkau, dan samudra yang tidak akan pernah kering.’
Orang lain berkata: Jika Anda melihat seseorang terbuka hatinya untuk memercayai jalan ini, berilah ia kabar gembira. Jika Anda melihat seseorang terbuka akalnya untuk memahami jalan ini, ikut berbahagialah untuknya. Jika Anda melihat seseorang terbuka lidahnya untuk membicarakan jalan ini, agungkanlah ia. Namun, jika Anda melihat seseorang mengkritik jalan ini, larilah darinya seperti Anda lari dari singa, dan tinggalkanlah ia. Tiada satu ilmu pun melainkan manusia bisa tidak membutuhkannya pada suatu waktu, kecuali ilmu tasawuf. Tidak ada seorang pun yang bisa lepas dari ilmu tasawuf pada setiap waktu.
Kedudukannya di antara ilmu-ilmu lain: ia bersifat universal bagi seluruh ilmu dan menjadi syarat di dalamnya. Sebab, tidak ada ilmu maupun amal tanpa kesungguhan niat karena Allah Ta’ala. Ikhlas adalah syarat bagi semuanya, jika ditinjau dari keabsahan syariat serta pemberian balasan dan pahala.
Adapun berdasarkan keberadaan faktualnya, ilmu-ilmu lain dapat tegak tanpa tasawuf, namun ia menjadi tidak sempurna atau cacat. Oleh karena itu, Al-Suyuthi menyatakan: ‘Nisbah tasawuf terhadap ilmu-ilmu lain ibarat ilmu bayan terhadap ilmu nahwu.’ Artinya, tasawuf berfungsi sebagai penyempurna dan penghias bagi ilmu-ilmu tersebut.
Kedudukan tasawuf dalam agama sama seperti kedudukan ruh dalam jasad. Hal ini karena tasawuf merupakan makam ihsan, yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jelaskan kepada Jibril: ‘Kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya’ hingga akhir hadis. Tidak ada makna lain bagi tasawuf selain hal tersebut. Inti ajaran tasawuf bertumpu pada kesadaran merasa diawasi Allah (muraqabah) setelah penyaksian hati (musyahadah), atau penyaksian hati setelah kesadaran merasa diawasi. Jika kedua hal ini tidak ada, tasawuf tidak akan pernah wujud, dan hakikatnya tidak akan pernah tampak. Maka pahamilah hal ini. Selesai.
Mungkin beliau mengartikan muraqabah (pengawasan diri) setelah Musyahadah (penyaksian) sebagai jalan kembali menuju baqa’ (kelestarian). Seorang hamba mencapai tingkatan ini dengan menyaksikan jejak kekuasaan Allah.
Manfaatnya: menyucikan hati dan mengenal Zat Yang Maha Mengetahui hal-hal gaib.
Atau Anda katakan: buahnya adalah kelapangan jiwa, kedamaian hati, dan akhlak yang baik kepada setiap makhluk.
Ketahuilah bahwa ilmu yang kami sebutkan ini bukanlah sekadar ucapan di lisan. Ilmu ini adalah rasa (kemantapan hati) dan keyakinan dalam sukma. Ilmu ini tidak diambil dari lembaran kertas, melainkan diperoleh dari para pemilik rasa (ahli makrifat). Ia tidak dicapai dengan perdebatan, melainkan diraih dengan berkhidmat kepada para guru, serta bersahabat dengan kaum yang telah sempurna. Demi Allah, tidaklah beruntung orang yang beruntung kecuali karena bersahabat dengan orang yang telah beruntung. Dan hanya dari Allah segala pertolongan.
Adapun biografi Syekh: Beliau adalah Syekh Al-Imam Tajuddin, penerjemah kaum makrifat, Abu Al-Fadhil Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdurrahman bin Abdullah bin Ahmad bin Isa bin Al-Husain bin Athaillah. Beliau bernasab Al-Judzami, bermadzhab Maliki, bertempat tinggal di Iskandariyah, dimakamkan di Al-Qarafah, penganut sufisme hakiki, dan pengikut tarekat Syadziliyah. Beliau merupakan keajaiban pada zamannya, serta sosok terpilih pada masanya. Beliau wafat pada bulan Jumadil Akhir tahun tujuh ratus sembilan Hijriah. Demikian pernyataan Syekh Zarruq.
Dia berkata dalam kitab Ad-Dibaj al-Mudhabhab: Beliau menguasai berbagai macam disiplin ilmu; mulai dari tafsir, hadis, fikih, nahu, usul, dan bidang ilmu lainnya.
Beliau—rahimahullah—adalah seorang ahli kalam yang meniti jalan ahli tasawuf, sekaligus seorang pemberi nasihat. Banyak orang mengambil manfaat dari ilmu beliau dan mengikuti tarekatnya.
Saya berkata: Guru beliau, Abu al-Abbas al-Mursi, telah mengakui keutamaannya. Al-Mursi menyatakan dalam kitab Lathaif al-Minan: Syekh berkata kepadaku: Menetaplah. Demi Allah, jika engkau menetap, engkau pasti akan menjadi mufti dalam dua mazhab.
Yang dia maksud adalah: mazhab ahli syariat yaitu ahli ilmu zahir (lahiriah), dan mazhab ahli hakikat yaitu ahli ilmu batin (batiniah).
Ia juga berkata عن نفسه/عنه: ‘Demi Allah, pemuda ini tidak akan wafat sebelum ia menjadi seorang dai yang menyeru kepada Allah.’
Dia juga berkata عنه: ‘Demi Allah, kamu benar-benar akan memiliki kedudukan yang agung. Demi Allah, kamu benar-benar akan memiliki kedudukan yang agung.’
Dia berkata: ‘Maka demi pujian bagi Allah, itu adalah hal yang tidak aku pungkiri.’
Beliau memiliki lima karya tulis:
1- At-Tanwir fi Isqat at-Tadbir, 2- Lathaif al-Minan fi Manaqibi Syaikhihi Abil ‘Abbas wa Syaikhihi Abil Hasan, 3- dan Taj al-‘Arus yang merupakan karya gabungan dari keduanya, 4- serta Miftah al-Falah fi adz-Dzikr wa Kaifiyyat as-Suluk. Beliau juga menulis: 5- Al-Qaul al-Mujarrad fi al-Ism al-Mufrad, dan 6- Al-Hikam, kitab yang hendak kita bahas saat ini.
Dan di dalamnya terkandung empat macam ilmu kaum tersebut:
Pertama: Ilmu pengingatan dan nasihat (tadzkiir dan wa’zh). Beliau telah meraih bagian yang paling melimpah darinya. Ilmu ini ditujukan untuk tingkat kaum awam. Materi-materinya digali dari kitab-kitab karya Ibnu al-Jauzi, sebagian karya al-Muhasibi, bagian awal kitab al-Ihya, al-Qut, Tahbir al-Qusyairi, dan kitab-kitab lain yang sejenis. Wallahu a’lam (dan Allah lebih mengetahui).
Kedua, menjernihkan amal dan memperbaiki keadaan spiritual, dengan menghiasi batin melalui akhlak terpuji serta menyucikannya dari sifat-sifat tercela. Ini merupakan bagian bagi para pencari kebenaran yang jujur dan para pemula yang menempuh jalan spiritual. Ia telah meraih bagian yang besar dari hal tersebut, di mana rujukan utamanya berasal dari kitab-kitab Al-Ghazali, As-Suhrawardi, dan ulama sejenisnya.
Ketiga: Merealisasikan kondisi spiritual (ahwal) dan kedudukan rohani (maqamat), serta hukum-hukum rasa (adzwaq) dan perjumpaan spiritual (munazalat). Ini adalah bagian bagi para penempuh jalan spiritual (murid) pemula yang memiliki pandangan tajam di antara para ahli makrifat (arifun). Jenis ini merupakan bagian yang paling banyak ia tulis dan menjadi materi utamanya, seperti buku-buku karya Al-Hatimi tentang Al-Mu’amalat, dan karya Al-Buni tentang Al-Munazalat, serta karya-karya lainnya.
Keempat, pengetahuan dan ilmu-ilmu ilham. Di dalamnya terdapat hal-hal yang jelas. Namun, buku-bukunya dipenuhi penjelasan ilmu tersebut. Terutama kitab al-Tanwir dan Lathaif al-Minan. Dua kitab ini menjadi penjelasan menyeluruh bagi buku ini.
Kesimpulannya, kitab ini menghimpun seluruh isi kitab-kitab sufi yang panjang maupun yang ringkas. Kitab ini menyajikan kejelasan yang lebih mendalam serta uraian kata yang lebih padat. Metode yang digunakan adalah metode tauhid. Tidak ada seorang pun yang dapat mengingkari atau mencela metode tersebut. Kitab ini membekali pembaca yang bersungguh-sungguh dengan setiap sifat terpuji. Kitab ini juga menghilangkan setiap sifat tercela dari diri pembaca dengan izin Allah. Hal ini sejalan dengan pernyataan Syekh Ibnu Abbad saat memuji kitab At-Tanwir. Kedua kitab tersebut bagaikan dua saudara kandung dari satu ayah dan satu ibu. Pernyataan ini disampaikan oleh Sayyidi Ahmad Zarruq dalam salah satu kitab syarahnya.
Karena ilmu tasawuf merupakan hasil dari amal yang sahih dan buah dari ihwal yang jernih: ‘Barang siapa mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui’.
Wallohu A’lam.


Mugio dados ilmu ingkang manfaat, amiiin ya Robbal ‘alamiiin 🤲 ❤❤❤