
الحكمة: ۲۲
.مَا مِنْ نَفَسٍ تُبْدِيهِ إِلاَّ وَلهُ قَدَرٌ فِيكَ يُمْضِيهِ
تڮسي: سبن۲ أمبكان كڠ متو سڠكيڠ أواء سيرا إيكو مسطي اڠڮاوا كتتڨان سڠكيڠ الله أنا إڠ .أواء سيرا كڠ دي لاڠسوڠاكي دينيڠ الله أنا إڠ أمبكان إيكو
“Tidak ada nafas yang engkau hembuskan kecuali memiliki takdir yang Allah tentukan bagimu.”
قلت: النفس -بفتح الفاء-: عبارة عن دقيقة من الزمان قدر ما يخرج النفس ويرجع، وهو أوسع ،من الطرفة، والطرفةُ أوسع من اللحظة، وهي رمقُ البصر وردُّه
Aku berkata: an-nafas –dengan harakat fathah pada huruf fa– adalah ungkapan tentang satu bagian singkat dari waktu, yaitu sekadar waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan napas lalu mengembalikannya. Ukuran waktu ini lebih luas daripada ath-tharfah, sedangkan ath-tharfah lebih luas daripada al-lahzhah, yaitu sekali kejapan mata dan kembalinya kelopak mata tersebut.
والقَدَرُ: هو العِلْم السابق للأشياء قبل أن تظهر، وهو أعلم أوقاتها وأماكنها ومقاديرها وعدد .أفرادها، وما يعرِض لها من الكيفيات، وما يترل بها من الآفات
Adapun al-qadar adalah ilmu yang telah mendahului segala sesuatu sebelum ia tampak wujudnya. Ilmu itu mencakup pengetahuan tentang waktu-waktunya, tempat-tempatnya, kadar-kadarnya, jumlah satuan-satuannya, keadaan-keadaan yang menyertainya, serta musibah-musibah yang akan menimpanya.
فإذا علمت أيها الأنسان أن أنفاسك قد عمها القدر، ولا يصدر منك ولا من غيرك إلا ما سبق به علمُه، وجرى به قلمه، لزمك أن ترضى بكل ما يجري به القضاء، فأنفاسك معدودة، وطرفاتك ولحظاتك محصورة، فإذا أنتهى آخر أنفاسك، رحلت إلى آخرتك، وإذا كانت الأنفاس :معدودة، فما بالك بالخطوات والخطوات وغير ذلك من التصرفات، والله در القائل
Maka ketahuilah, wahai manusia, bahwa napas-napasmu telah diliputi oleh takdir. Tidak ada yang terjadi darimu maupun dari selainmu, kecuali apa yang telah didahului oleh ilmu-Nya dan telah dituliskan oleh pena-Nya. Karena itu, wajib bagimu untuk rida terhadap segala apa yang berlaku dari qada. Sesungguhnya napas-napasmu terhitung jumlahnya, dan kedipan mata serta sekejap pandanganmu pun terbatas adanya. Apabila napasmu yang terakhir telah berakhir, maka engkau pun berpindah menuju akhiratmu. Jika napas saja sudah terhitung jumlahnya, maka bagaimana pula dengan langkah-langkah kaki dan perbuatan-perbuatan lainnya? Sungguh benar apa yang dikatakan oleh seorang penyair:
مَشَيْنَاهَا خُطًّا كُتِبَتْ عَلَيْنَا # وَمَنْ كُتِبَتْ عَلَيْهِ خُطًّا مَشَاهَا
Kami berjalan menempuh garis yang telah tertulis bagi kami, dan siapa yang telah tertulis baginya suatu garis, pasti ia akan menjalaninya.
وَمَنْ قُسِمَتْ مَنِيَّتُهُ بِأَرْضٍ # فَلَيْسَ يَمُوْتُ فِيْ أَرْضٍ سِوَاهَا
Barang siapa yang ajalnya telah ditetapkan di suatu bumi, maka ia tidak akan mati di bumi selain bumi itu.
وحقيقةُ الرضا: هو تلقَّي المهالك بوجه ضاحك، وحقيقة التسليم: أستواء النِّقْمة والنعيم، بحيث ،لا يختار في أيهما يقيم، وهذا هو مقام أهل الكمال الذين تحققوا بالزوال، نفعنا االله بذكرهم .وخرطنا في سلكهم، أمين
Hakikat ridha adalah menyambut segala kebinasaan dengan wajah yang tersenyum. Hakikat taslim (penyerahan diri) adalah kesetaraan antara nikmat dan siksa, sehingga seseorang tidak lagi memilih hendak menetap pada yang mana di antara keduanya. Inilah maqam ahli kesempurnaan, yaitu mereka yang telah merealisasikan hakikat kefanaan. Semoga Allah memberi kita manfaat dengan mengingat mereka, dan memasukkan kita ke dalam untaian golongan mereka. Amin.
:ثم ذكر الأدب السابع، وهو دوام المراقبة ومواصلة المشاهدة، فقال
Kemudian beliau menyebutkan adab yang ketujuh, yaitu senantiasa muraqabah dan terus-menerus musyahadah. Beliau berkata:


Saran, kritik, masukan, arahan, dan bimbingan sangat diharapkan dari segenap pembaca yg budiman. Mugio dados ilmu ingkang manfaat, amiiin ya Robbal ‘alamiiin, 🤲