*HIKAYAH KE-37 AL-NAWADIR*

الحكاية السابعة والثلاثون: في تنوير البصيرة والتوكل على الله تعالى

HIKAYAH YANG KE TIGA PULUH TUJUH: [“BERSINARNYA BASHIRAH (MATA HATI) DAN BERTAWAKKAL KEPADA ALLAH SWT”]

 

حکی: أنه كان في زمن مالك بن دینار مجوسيان يعبدان النار، فقال الأصغر لأخيه الأكبر: أيها الأخ إنك عبدت هذه النار ثلاثا وسبعين سنة و أنا عبدتها خمسا وثلاثين سنة، فتعال ننظر هل تحرقنا كما تحرق غيرنا ممن لم يعبدها؟ فإن لم تحرقنا ان عبدناها وإلا فلا،

Dikisahkan bahwa pada zaman Malik bin Dinar, ada dua orang Majusi bersaudara yang menyembah api. Sang adik berkata kepada kakaknya, “Wahai Kakak, engkau telah menyembah api ini selama tujuh puluh tiga tahun, sedangkan aku telah menyembahnya selama tiga puluh lima tahun. Mari kita lihat, apakah api ini akan membakar kita sebagaimana ia membakar orang lain yang tidak menyembahnya? Jika ia tidak membakar kita padahal kita telah menyembahnya, berarti benar. Jika tidak, berarti keliru.”

فأوقدا نارا ثم قال الأصغر لأخيه الأكبر: هل تضع يدك قبلي أم أنا قبلك؟

Maka keduanya menyalakan api. Lalu sang adik berkata kepada kakaknya, “Apakah engkau yang akan meletakkan tanganmu lebih dulu, ataukah aku yang lebih dulu?”

،فقال له: ضع أنت، فوضع الأصغر يده فأحرقت أصبعه فنزع يده وقال: آه أعبدك كذا وكذا سنة وأنت تؤذينني

Maka ia berkata kepada saudaranya, “Letakkanlah tanganmu di sini.” Lalu yang lebih muda meletakkan tangannya, hingga api itu membakar jarinya. Ia pun menarik tangannya seraya berkata, “Aduh, aku telah menyembahmu sekian dan sekian tahun lamanya, namun engkau justru menyakitiku.”

.ثم قال: يا أخي تعال نعبد من لو أذنبنا وتركناه خمسمائة سنة لتجاوز عنا بطاعة ساعة واحدة و استغفار مرة واحدة

Kemudian ia berkata lagi, “Wahai saudaraku, marilah kita menyembah Dzat yang apabila kita berbuat dosa lalu meninggalkan-Nya selama lima ratus tahun, Dia tetap akan mengampuni kita hanya dengan satu jam ketaatan dan satu kali istighfar saja.”

.فأجابه أخوه إلى ذلك وقال: نذهب لمن يدلنا على الصراط المستقيم، فاجتمع رأيهما أن يذهبا إلى مالك ابن دينار فقصداه فوافياه في سواد البصرة قد جلس للعامة يعظمهم

Saudaranya pun menyetujui ajakan itu dan berkata, “Marilah kita pergi mencari orang yang dapat menunjukkan kepada kita jalan yang lurus.” Maka sepakatlah keduanya untuk pergi menemui Malik bin Dinar. Keduanya pun mendatanginya, dan mendapatinya sedang duduk di pinggiran kota Basrah, memberikan nasihat kepada khalayak ramai.

.فلما وقع بصرهما عليه قال الأخ الأكبر لأخيه: قد بدا لي أن لا أسلم وقد مضى اكثر عمري في عبادة النار فإذا أسلمت عيرني اهل بيتي والنار أحب إلي من أن يعيروني

Maka ketika pandangan keduanya tertuju kepada Malik bin Dinar, berkatalah sang kakak kepada adiknya, “Sungguh telah jelas bagiku untuk tidak masuk Islam. Sebagian besar umurku telah berlalu dalam menyembah api. Jika aku masuk Islam, keluargaku pasti akan mencelaku, padahal api lebih aku cintai daripada dicela oleh mereka.”

،فقال له الأصغر: لا تفعل، فإن تعييرهم وقتا يزول وإن النار أبدا لا تزول، فلم يستمع، فقال له: شأنك وما تريد يا شقي

Adiknya pun menjawab, “Janganlah engkau lakukan itu. Celaan mereka hanya sementara dan pasti akan hilang, sedangkan api itu tidak akan pernah hilang selamanya.” Namun sang kakak tetap tidak mau mendengarkan. Ia berkata, “Terserah engkau dengan apa yang engkau kehendaki, wahai orang yang celaka.”

،فرجع الأكبر وجاء الأصغر إلى مالك بن دینار مع أولاده وامرأته وجلسوا عنده حتى فرغ من مجلسه فقام إليه وأخبره بالقصة وسأله أن يعرض عليه الإسلام وعلى أولاده وامرأته فعرض عليهم الإسلام

Sang kakak pun pergi kembali, sedangkan sang adik datang menemui Malik bin Dinar bersama anak-anak dan istrinya. Mereka duduk menunggu hingga beliau selesai dari majelisnya. Kemudian ia bangkit menghampiri beliau, menceritakan kisahnya, dan memohon agar beliau menawarkan Islam kepadanya, kepada anak-anaknya, dan kepada istrinya. Maka beliau pun menawarkan Islam kepada mereka.

،ثم أراد الشاب أن يرجع بأهله فقال له مالك: حتى أجمع لك شيئا من أصحابي فقال: لا أريد شيئا

Kemudian pemuda itu hendak kembali membawa keluarganya. Maka Malik berkata kepadanya, “Tunggulah, aku akan mengumpulkan sesuatu untukmu dari sahabat-sahabatku.” Pemuda itu menjawab, “Aku tidak menginginkan apa pun.”

،ثم انصرف ودخل الخربة فوجدها بيتا معمورا فنزل فيه، فلما أصبح قالت امرأته: اذهب إلى السوق واطلب عملا واشتر لنا بأجرتك شيئا نأكله

Lalu ia pun pergi dan masuk ke sebuah bangunan tua (khirbah), dan ia mendapati tempat itu sebagai rumah yang layak huni, maka ia pun tinggal di sana. Ketika pagi tiba, istrinya berkata, “Pergilah ke pasar dan carilah pekerjaan, lalu belikan untuk kita sesuatu untuk dimakan dari upahmu.”

.فذهب إلى السوق فلم يستأجره أحد، فقال في نفسه: أعمل لله تعالى فدخل خربة أخرى وصلى فيها إلى المغرب، ثم ذهب إلى منزله صفر اليد

Maka ia pun pergi ke pasar, namun tidak seorang pun mempekerjakannya. Ia pun berkata dalam hatinya, “Aku akan bekerja untuk Allah Ta’ala.” Lalu ia masuk ke bangunan tua yang lain dan shalat di dalamnya hingga waktu Maghrib. Kemudian ia pulang ke rumahnya dengan tangan kosong.

،فقالت له امرأته لم تأتنا بشئ؟ فقال لها: قد عملت للملك اليوم فلم يعطني شيئا

Istrinya pun berkata kepadanya, “Mengapa engkau tidak membawakan kami sesuatu?”

وقال: أعطيك غدا فباتوا جياعا، فلما أصبح ذهب إلى السوق فلم يجد عملا ففعل كما فعل بالأمس وذهب إلى امرأته صفر اليد

Ia menjawab, “Aku telah bekerja untuk raja hari ini, namun ia tidak memberiku apa-apa, dan ia berkata akan memberiku besok.” Maka mereka pun bermalam dalam keadaan lapar. Ketika pagi tiba, ia pergi ke pasar namun tidak mendapatkan pekerjaan, maka ia melakukan seperti yang ia lakukan kemarin, dan ia pulang kepada istrinya dengan tangan kosong,

.وقال لها: إن الملك وعدني إلى يوم الجمعة

lalu berkata kepadanya, “Sesungguhnya raja telah berjanji kepadaku hingga hari Jumat.”

فلما أصبح يوم الجمعة ذهب إلى السوق فلم يجد عملا ففعل كما سبق، فلما كان آخر النهار صلى ركعتين ورفع يديه إلى السماء وقال: يا رب، لقد أكرمتني بالإسلام وتوجتني بتاج الهدى، فبحرمة هذا الدين وبحرمة هذا ،اليوم المبارك، ارفع نفقة العيال عن قلبى وأنا أستحي من عيالي وأخاف من تغير حالهم لحداثة عهدهم بالإسلام

Ketika tiba hari Jumat, ia pergi ke pasar, namun tidak mendapatkan pekerjaan. Maka ia melakukan seperti yang telah ia lakukan sebelumnya. Ketika hari telah menjelang sore, ia shalat dua rakaat, lalu mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Ya Tuhanku, Engkau telah memuliakanku dengan Islam dan memahkotaiku dengan mahkota hidayah. Maka demi kehormatan agama ini dan demi kehormatan hari yang penuh berkah ini, angkatlah beban nafkah keluarga dari hatiku. Sesungguhnya aku malu kepada anak-anakku, dan aku khawatir keadaan mereka akan berubah karena mereka baru saja memeluk Islam.”

فلما أصبح ودخل وقت الظهر ذهب إلى الجامع فغلب على أولاده الجوع فجاء إلى بيته شخص وقرع عليهم الباب فخرجت المرأة فإذا هي بشاب حسن الوجه على يده طبق من ذهب مغطى بمنديل من ذهب. فقال لها: خذي هذا وقولي لزوجك هذه أجرة عملك في يومين وإن زدت زدناك.

Ketika pagi tiba dan masuk waktu Zuhur, ia pergi ke masjid. Sementara itu, rasa lapar telah menguasai anak-anaknya. Lalu datanglah seseorang ke rumahnya dan mengetuk pintu. Sang istri pun keluar, dan ternyata di hadapannya berdiri seorang pemuda berwajah tampan, membawa sebuah nampan emas yang tertutup sapu tangan dari emas. Pemuda itu berkata kepadanya, “Ambillah ini, dan katakan kepada suamimu, ini adalah upah kerjanya selama dua hari. Jika engkau menambah usaha, kami pun akan menambah balasan.”

فأخذت الطبق، فإذا فيه ألف دينار فأخذت دینارا واحدا وذهبت إلى الصيرفي وكان ذلك الصيرفي نصرانيا فوزن الدينار فزاد على المثقال والمثقالین فنظر إلى نقشه فعرف أنه من هدايا الآخرة

Maka ia pun mengambil nampan itu, ternyata di dalamnya terdapat seribu dinar. Ia lalu mengambil satu dinar saja dan pergi menemui seorang penukar uang (sarraf). Penukar uang itu seorang Nasrani. Ia menimbang dinar tersebut dan ternyata beratnya melebihi satu mitsqal, bahkan dua mitsqal. Ia pun memperhatikan ukirannya dan mengetahui bahwa dinar itu berasal dari hadiah-hadiah akhirat (yakni bukan hasil usaha duniawi biasa).

فقال لها: من أين لك هذا، وفي أي محل وجدت هذا؟ فقصت عليه لقصة. فقال لها: اعرضي علي الإسلام فأسلم، ثم دفع لها ألف درهم قال : أنفقيها وإذا فرغت فأعلميني فأخذتها منه

Ia bertanya kepada perempuan itu, “Dari mana engkau memperoleh ini, dan di tempat mana engkau menemukannya?” Perempuan itu pun menceritakan kisahnya kepadanya. Penukar uang itu berkata, “Jelaskanlah kepadaku tentang Islam.” Maka ia pun masuk Islam. Kemudian ia memberikan kepada perempuan itu seribu dirham seraya berkata, “Belanjakanlah uang ini, dan jika telah habis, beritahukanlah kepadaku.” Perempuan itu pun menerimanya darinya.

،وأصلحت طعاما لما صلى زوجها المغرب وأراد أن ينصرف إلى منزله صفر اليد بسط منديلا وصلي ركعتين وملأ المنديل من التراب وقال في نفسه إذا سألتني قلت لها: هذا دقیق عملت به

Ia lalu menyiapkan makanan. Ketika suaminya selesai menunaikan shalat Maghrib dan hendak pulang ke rumah dengan tangan hampa, ia membentangkan sehelai sapu tangan lalu shalat dua rakaat. Setelah itu ia memenuhi sapu tangan tersebut dengan tanah, seraya berkata dalam hatinya, “Jika ia bertanya kepadaku, akan kukatakan bahwa ini adalah tepung yang telah kuolah.”

،ثم جاء إلى منزله، فلما دخل إليه وجد مفروشا مهيئا ووجد رائحة الطعام، فوضع المنديل عند الباب کیلا تشعر امرأته به

Kemudian ia pulang ke rumahnya. Ketika ia masuk, ia mendapati rumah telah tertata rapi dan mencium aroma makanan. Maka ia meletakkan bungkusan kain itu di dekat pintu agar istrinya tidak menyadarinya.

ثم سألها عن حالها وعما رآى في المنزل، فقصت عليه القصة فسجد شكرا لله

Kemudian ia bertanya kepada istrinya tentang keadaannya dan tentang apa yang dilihatnya di rumah. Maka istrinya pun menceritakan kisahnya, lalu ia sujud syukur kepada Allah.

فسألته عما جاء به في المنديل فقال لها: لا تسألينى عنه ثم ذهب إلى المنديل و أراد أن يرمي التراب الذي فيه

Istrinya kemudian bertanya kepadanya tentang apa yang dibawanya dalam bungkusan itu, maka ia berkata kepadanya, “Jangan engkau tanyakan hal itu kepadaku.” Kemudian ia pergi menuju bungkusan itu dan hendak membuang tanah yang ada di dalamnya.

.ففتحه فرآه دقیقا بإذن الله تعالى فسجد ثانيا شكرا لله عز وجل على ما أكرمه به وعبد الله حتى توفاه، رحمه الله تعالى

Lalu ia membukanya dan mendapatinya telah berubah menjadi tepung dengan izin Allah Ta’ala. Maka ia sujud sekali lagi sebagai ungkapan syukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas karunia yang telah diberikan kepadanya. Ia pun terus beribadah kepada Allah hingga ajal menjemputnya. Semoga Allah Ta’ala merahmatinya.