HIKMAH KE-21 AL-HIKAM AL-‘ATHAIYAH

الحكمة: ۲۱

.طَـلَـبُكَ مِنْهُ اتِّهامٌ لَـهُ، وَطَـلَـبُـكَ لَـهُ غَـيْبَةٌ مِـنْـك عَـنْهُ، وَطَـلَـبُـكَ لِغَـيْرِهِ لِـقِـلَّـةِ حَـيائِـكَ مِنْهُ، وَطَـلَـبُـكَ مِنْ غَـيْرِهِ لِـوُجـودِ بُـعْـدِكَ عَـنْهُ

يين سيرا ۑوون أڨا۲ سڠكيڠ الله إيكو برارتي سيرا چوريڮا مراڠ الله، يين سيرا ۑوون مراڠ الله إيكو برارتي سيرا أورا أنا إڠ ڠرساني الله، يين سيرا ۑوون كڨرلوان دنيا سيرا مراڠ لياني الله إيكو كرانا سيرا إيكو  كوراڠ إيسين مراڠ الله، يين سيرا ۑوڨريه أڨا۲ سڠكيڠ سألياني الله إيكو كرانا أدوه سيرا سڠكيڠ الله

Permintaanmu dari-Nya adalah suatu tuduhan bagi-Nya, dan permintaanmu bagi-Nya adalah suatu ketidaklihatan bagimu dari-Nya, dan permintaanmu bagi selain-Nya adalah karena sedikitnya rasa malumu kepada-Nya, dan permintaanmu dari selain-Nya adalah karena kejauhanmu dari-Nya.

.قلت: طلبك منه يكون بالتضرع والإبتهال، وطلبك له يكون بالبحث والأستدلال، وطلبك لغيره يكون بالتعرف والأقبال، وطلبك من غيره يكون بالتملق والسؤال

Aku berkata: Permintaanmu kepada-Nya hendaklah dengan tadlarru’ (merendahkan diri) dan ibtihal (memohon dengan sungguh-sungguh). Permintaanmu untuk mencari-Nya hendaklah dengan pencarian (bahts) dan penalaran/pembuktian (istidlal). Permintaanmu untuk selain-Nya hendaklah dengan pengenalan (ta’arruf) dan kecenderungan hati (iqbal). Dan permintaanmu dari selain-Nya hendaklah dengan merayu (tamalluq) dan meminta-minta (su’al).

.وحاصلها أربعة: طلب الحق، ومنه طلب الباطل، وكلها مدخولة عند المحققين

Dan kesimpulannya ada empat: mencari kebenaran (thalab al-haqq), dan termasuk di dalamnya mencari kebatilan (thalab al-bathil), dan semuanya itu cacat (mengandung kekurangan) menurut para muhaqqiqin (ulama yang mendalam ilmunya).

:أما طلبك منه، فلوجود تهمتك له، لأنك إنما طلبته مخافة أن يهملك أو يغفل عنك، فإنما ينبه من يجوز منه الإغفاء، وإنما يذكر من يمكن منه الأهمال

Adapun permintaanmu kepada-Nya, itu karena adanya prasangkamu terhadap-Nya. Sebab, engkau memintanya semata-mata karena takut Dia akan melalaikanmu atau lupa kepadamu. Padahal, peringatan hanya diberikan kepada orang yang mungkin lalai, dan teguran hanya ditujukan kepada orang yang mungkin alpa.

﴾وَمَا االلهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ، البقرة: ۱٤۹﴿

“Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. AlBaqarah: 149)

﴾أَلَيْسَ االلهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ، الزمر: ۳٦﴿

“Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya?” (QS. Al-Zumar: 36)

وقال صلى االله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه: ((من شغله ذكري عن مسألتي أعطيته أفضل ما أعطي السائلين))

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits qudsi yang diriwayatkan dari Tuhannya: “Barangsiapa yang disibukkan oleh dzikir kepada-Ku sehingga lupa memohon kepada-Ku, maka Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih utama daripada apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang memohon.”

.فالسكون تحت مجاري الأقدار أفضل عند العارفين من التضرع والأبتهال

Diam (tenang) di bawah aliran takdir itu lebih utama menurut pandangan para ‘ārifīn (ahli makrifat) daripada tadlarru’ (merendahkan diri dalam doa) dan ibtihāl (memohon dengan sungguh-sungguh).

.وكان شيخ شيوخنا مولاي العربي -رضي االله عنه- يقول: ((الفقير الصادق لم تبق له حالة يطلبها وإن كان ولا بد من الطلب فليطلب المعرفة)) اهـ

Guru dari para guru kami, Maulai al-‘Arabi –radhiyallahu ‘anhu– pernah berkata: “Seorang faqir yang sejati tidak lagi memiliki hal (keadaan spiritual) yang ia cari. Namun jika memang harus mencari sesuatu, hendaklah ia mencari ma‘rifat.” Selesai.

.قلت: وإذا ورد منهم الدعاء، فإنما هو عبودية وحكمة، لا طلبًا للقسمة؛ إذا ما قسم لك واصل إليك، ولو سألته أن يمنعكه ما أجابك

Aku berkata: Apabila doa muncul dari mereka, maka doa itu sesungguhnya adalah bentuk penghambaan diri (‘ubûdiyyah) dan hikmah, bukan untuk meminta pembagian rezeki. Sebab, apa yang telah ditetapkan bagimu pasti akan sampai kepadamu, sekalipun engkau memohon kepada-Nya agar mencegahnya darimu, Dia tidak akan mengabulkan permintaanmu itu.

.وفي المسألة خلاف بين الصوفية، هل السكوت أولى أو الدعاء؟ والتحقيق أن ينظر ما يتجلى فيه وينشرح له الصدر، فهو المراد منه

Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan kaum sufi, apakah diam lebih utama ataukah berdoa? Yang tepat (al-tahqiq), hendaknya seseorang melihat apa yang tersingkap baginya dan melapangkan dadanya, itulah yang dimaksud baginya.

:وأما طلبك له، فهو دليل على غيبتك عنه بوجود نفسك، فلو حضر قلبك، وغبتَ عن نفسك ووهمك، لما وجدت غيره

Adapun permohonanmu kepada-Nya, itu justru menjadi bukti atas keghaibanmu dari-Nya, sebab masih adanya wujud dirimu. Sekiranya hatimu benar-benar hadir, dan engkau lenyap dari dirimu sendiri serta dari wahammu, niscaya engkau tidak akan mendapati selain Dia:

أَرَاكَ تَسْأَلُ عَنْ نَجْدٍ وَأَنْتَ بِهَا # وَعَنْ تِهَــــــــــــامَةَ هٰذَا فِعْلُ مُتَّهِم

Kulihat engkau bertanya tentang Najd, padahal engkau berada di dalamnya. Dan bertanya pula tentang Tihamah, inilah perbuatan orang yang patut dicurigai.

:-وقال ابن المرحَّل السبتي -رضي االله عنه

Ibnul Murahhal As-Sabti -raḍiyallāhu ‘anhu- berkata:

وَمِنْ عَجَبٍ أَنِّيْ أَحِنُّ إِلَـــــــــيْهِمُ # وَأَسْأَلُ شَــــــــــــوْقًا عَنْهُمُ وَهُمُ مَعِي

Sungguh mengherankan, aku rindu kepada mereka, dan bertanya dengan rindu tentang mereka, padahal mereka bersamaku.

وَتَبْكِيْهِمْ عَيْنِي وَهُمْ بِسَــــوَادِهَا # وَيَشْكُو النَّوٰى قَلْبِيْ وَهُمْ بَيْنَ أَضْلُعِي

Mataku menangisi mereka, padahal mereka bersemayam di dalam kehitamannya (manik matanya). Hatiku mengadukan derita perpisahan, padahal mereka berada di antara tulang rusukku

:-وللرفاعي -رضي االله عنه

Dan bagi al-Rifa’i -radhiyallahu ‘anhu-:

قَالُوْا أَتَنْسٰى الَّذِيْ تَهْوٰى فَقُلْتُ لَهُمْ # يَا قَوْمِ مَنْ هُوَ رُوْحِيْ كَيْفَ أَنْسَاهُ

Mereka berkata, ‘Apakah engkau akan melupakan orang yang kau cintai?’ Maka kujawab kepada mereka, ‘Wahai kaumku, dialah ruhku. Bagaimana mungkin aku melupakannya?’

وَكَيْفَ أَنْسَاهُ وَالْأَشْـيَاءُ بِهٖ حَسُنَتْ # مِنَ الْعَــجَائِبِ يَنْسَى الْعَبْدُ مَوْلَاهُ

Bagaimana aku bisa melupakan-Nya, padahal segala sesuatu menjadi indah karena-Nya. Termasuk di antara keajaiban, seorang hamba melupakan Tuannya.

مَا غَابَ عَنِّيْ وَلٰكِنْ لَسْتُ أُبْصِــرُه # إِلَّا وَقُلْتُ جِـــــــهَارًا قُلْ هُوَ االلهُ

Tiada sesuatu pun yang gaib dariku, namun aku tak mampu melihatnya kecuali aku pun berkata dengan lantang: ‘Katakanlah, Dialah Allah.

.وأما طلبك لغيره: أي: لمعرفة غيره، فلقلة حيائك منه، وعدم أُنْسِك بِهٖ

Adapun permintaanmu akan selain-Nya -yakni untuk mengenal selain-Nya- maka hal itu disebabkan oleh kurangnya rasa malumu kepada-Nya, dan tidak adanya keakraban (uns)-mu dengan-Nya.

أما وجه قلة حيائك منه، فلأنه يناديك إلى الحضرة، وأنت تفر منه إلى الغفلة، ومثال ذلك كمن كان في حضرة الملك، والملك مقبل عليه، ثم يجعل هو يريد الخروج منها، ويلتفت إلى غيره، فهذا يدل على قلة حيائه وعدم أعتنائه بالملك، فهو حقيق بأن يطرد إلى الباب، أو إلى سياسة الدواب، وقد قالوا: أنكرْ من تعرف، ولا تتعرف لمن لا تعرف.

Adapun sebab kurangnya rasa malumu kepada-Nya adalah karena Dia memanggilmu untuk hadir di hadirat-Nya, sedangkan engkau justru lari darinya menuju kelalaian. Perumpamaannya seperti seseorang yang berada di hadapan raja, sementara sang raja tengah menghadapkan wajahnya kepadanya, namun orang itu justru hendak keluar dari majelis tersebut dan menoleh kepada selain sang raja. Hal ini menunjukkan kurangnya rasa malu dan tiadanya perhatian terhadap sang raja. Maka pantaslah baginya diusir ke pintu, atau diserahkan kepada urusan mengurus binatang ternak. Sungguh telah dikatakan: “Ingkarilah orang yang telah kau kenal, dan janganlah kau berkenalan dengan orang yang tak kau kenal.”

.وأما وجه عدم أنسك به فلأنك لو أنست به، لأستوحشت من خلقه، فلا يُتصور منك طلب معرفتهم وأنت تفرُّ منهم، فإذا آنسك به، أوحشك من خلقه، وبالعكس، والأستئناس بالناس من علامة الأفلاس

Adapun sebab engkau tidak merasa akrab dengan-Nya, itu karena seandainya engkau merasa akrab dengan-Nya, niscaya engkau akan merasa asing dari makhluk-Nya. Maka tidak mungkin timbul darimu tuntutan untuk mengenal mereka, sementara engkau justru lari dari mereka. Jika Dia menganugerahkan keakraban kepadamu dengan-Nya, maka Dia akan menjadikanmu asing dari makhluk-Nya, dan demikian pula sebaliknya. Dan merasa akrab dengan manusia termasuk salah satu tanda kebangkrutan (al-iflas).

.إقبالك على الحق أدبارك عن الخلق، وإقبالك على الخلق إدبارك عن الحق

Condongmu kepada al-Haq adalah berpalingmu dari makhluk, dan condongmu kepada makhluk adalah berpalingmu dari al-Haq.

.وقد عدوا من أصول الطريق الأعراض عن الخلق في الأقبال والأدبار

Mereka memasukkan sikap berpaling dari makhluk -baik ketika mereka datang mendekat maupun ketika mereka pergi menjauh- sebagai salah satu pokok dasar dalam menempuh jalan (thariqah).

.وأما طلبك من غيره، فلوجود بعدك عنه؛ إذ لو تحققت بقربه منك وهو كريم، ما أحتجت إلى سؤال غيره وهو لئيم، وسيأتي في المناجاة: ((أم كيف يطلب من غيرك وأنت ما قطعت عادة الأمتنان؟))

Adapun permintaanmu kepada selain-Nya, hal itu disebabkan oleh jauhnya dirimu dari-Nya. Sebab, sekiranya engkau benar-benar merasakan kedekatan-Nya denganmu, padahal Dia Maha Pemurah, niscaya engkau tidak akan membutuhkan untuk meminta kepada selain-Nya yang hina. Dan akan disebutkan dalam munajat: “Ataukah bagaimana mungkin diminta kepada selain-Mu, sedangkan Engkau tidak pernah memutus kebiasaan pemberian-Mu?”

وفي بعض الكتب المترلة: يقول االله -تبارك وتعالى-: ((إذا أنزلتُ بعبدي حاجة، فرفعها إليَّ أعلم ذلك من نيته، لو كادته السموات السبع والأرضون السبع لجعلتُ من أمره فرجًا ومخرجًا وإذا أنزلتُ بعبدي حاجة، فرفعها إلى غيري، أطحت الأرض من تحته، أسقطت السماء من فوقه، وقطعت الأسباب فيما بيني وبينه))، أو كما قال لطول العهد به.

Dan di dalam sebagian kitab yang diturunkan (al-kutub al-munazzalah) disebutkan: Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

“Apabila Aku menurunkan suatu hajat kepada hamba-Ku, lalu ia mengangkatnya (mengadukannya) kepada-Ku, maka Aku mengetahui hal itu dari niatnya. Sekiranya langit yang tujuh dan bumi yang tujuh bersekongkol untuk memperdayakannya, niscaya Aku jadikan baginya jalan keluar dan kelapangan dari urusannya. Dan apabila Aku menurunkan suatu hajat kepada hamba-Ku, lalu ia mengangkatnya kepada selain-Ku, maka Aku jatuhkan bumi dari bawahnya, Aku runtuhkan langit dari atasnya, dan Aku putuskan segala sebab (hubungan) antara Aku dengan dirinya.”

Atau sebagaimana yang beliau sabdakan, karena telah lama masa berlalu sejak (perawi) menghafalnya.

فتحصّل: أن الأدب هو الأكتفاء بعلم االله، والتحقق بمعرفة االله، والأستغناء به عما سواه، واالله تعالى أعلم.

Maka dapat disimpulkan, bahwa adab adalah mencukupkan diri dengan ilmu Allah, merealisasikan makrifat kepada Allah, serta merasa cukup dengan-Nya dari selain-Nya. Wallahu Ta’ala A’lam.

:ثم ذكر الأدب السادس، وهو التسليم والرضى بما يجري به القدر والقضاء، فقال

Kemudian beliau menyebutkan adab yang keenam, yaitu penyerahan diri (taslîm) dan rida terhadap apa yang berlaku dari qadar dan qadha, lalu beliau berkata: