KEMERDEKAAN (الْحُرِّيَّة)

الحرية

إن للامم آجالا واجل كل أمة يوم تفقد حريتها.

Sesungguhnya setiap bangsa memiliki ajalnya sendiri, dan ajal suatu bangsa tiba pada hari ia kehilangan kemerdekaannya.

الحرية هبة من الخالق للمخلوق، يصرفها فيما يعود على نفسه وعلى غيره بالسعادة والخير.

Kemerdekaan (al-hurriyyah) adalah anugerah dari Sang Khalik kepada makhluk-Nya, yang dipergunakannya untuk hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan dan kebaikan, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

وتدل فى اللغة على معنى الخلوص، فالحر: خلاف العبد، لخلوصه من الرق. وحر كل شيئ خياره. والحر من الطين والرمل: هو الطيب منهما. ورملة حرة، أي: صالحة للإنبات. وحر كل أرض: أطيبها.

Kata ini (الحرية) secara bahasa menunjukkan makna kemurnian dan kebebasan. Al-ḥurr (orang merdeka) adalah lawan dari al-‘abd (budak), karena ia bebas dari ikatan perbudakan. Ḥurru kulli syai’ (yang terbaik dari segala sesuatu) berarti pilihan terbaiknya. Al-ḥurr dari tanah liat dan pasir adalah bagian yang paling baik di antara keduanya. Ramlatun ḥurrah (pasir yang murni) artinya pasir yang subur, layak untuk ditanami. Dan ḥurru kulli arḍ (tanah terbaik dari setiap tanah) adalah tanah yang paling subur di antaranya.

.فأنت ترى أن هذه المادة تدل على الطهارة والجودة وخلوص الشيئ مما يكدر صفائه وجودته

Maka engkau melihat bahwa materi (akar kata) ini menunjukkan makna kesucian, kebaikan, dan kemurnian sesuatu dari segala hal yang mengeruhkan kejernihan dan kebaikannya.

.والحر- بالمعنى المدني الصحيح – من كان خالص التربية، نقي النفس، متمسكا بالفضائل، نافرا من الرذائل، كاسرا عنه قيود العبودية، عاملا بما يطلبه منه الواجب

Dan orang merdeka –dalam makna madani (sipil) yang benar– adalah orang yang murni pendidikannya, bersih jiwanya, teguh berpegang pada keutamaan, menjauh dari kehinaan, melepaskan diri dari belenggu perbudakan, serta menunaikan apa yang dituntut oleh kewajiban atasnya.

إن الإنسان لم يخلق ليكون عبد غيره، ولا ليكون كرة  تتقاذفها الاهواء وتعمل على تحريكها أيدي الزعماء، وتصرفها حسب رغائبها نفوس الكبراء؛ بل خلق ليعمل منفردا ومجتمعا بمقتضى السنة الالهية العامة وهي الحرية.

Sesungguhnya manusia tidak diciptakan untuk menjadi budak bagi orang lain, dan bukan pula untuk menjadi bola yang dilempar-lemparkan oleh hawa nafsu, yang digerakkan oleh tangan-tangan para pemimpin, dan diarahkan sesuai keinginan jiwa-jiwa para pembesar; akan tetapi ia diciptakan untuk berkarya, baik secara individu maupun bersama-sama, sesuai dengan sunnatullah yang bersifat umum, yaitu kemerdekaan.

ولم تسلب هذه النعمة الربانية الكبرى – من كثير من الناس – إلا بسبب ما أفسده الظالمون من نفوسهم؛ فلم يَدَعوا إلى تنوير أذهانهم بالعلم سبيلا، لأن الظالمين يعلمون يقينا أن العلم الصحيح يهدى إلى معرفة الحقوق، فهو الشررة التي توقد في النفوس الهمم؛ وتربأ بالعاقل أن يكون آلة تديرها المحركات الاستبدادية.

Kenikmatan Rabbani yang agung ini tidaklah tercabut dari kebanyakan manusia, kecuali disebabkan oleh kerusakan yang ditimbulkan oleh para penindas terhadap jiwa mereka sendiri. Mereka tidak membiarkan jalan menuju pencerahan akal melalui ilmu itu terbuka, sebab para penindas mengetahui dengan yakin bahwa ilmu yang benar akan menuntun kepada pengenalan hak-hak. Ilmu itu ibarat percikan api yang menyalakan semangat dalam jiwa, serta menjauhkan orang yang berakal dari menjadi alat yang digerakkan oleh mesin-mesin tirani.

وقد قال عمر ابن الخطاب لعمرو بن العاص، يوم ضرب ولده القبطي: “متى استعبدتم الناس، وقد ولدتهم أمهاتهم أحرارا؟”.

Umar bin Khattab pernah berkata kepada Amr bin Ash, pada hari puteranya memukul seorang Qibti (warga Mesir Kristen): “Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu-ibu mereka melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”

ألا إن الحر لايكون حرا إلا إذا تهذبت نفسه، ونمت فيها ملكة الإرادة وحظي من العلم الصحيح بحظ غير قليل؛ ثم أَقدمَ على تحرير نفسه من رِبَق من يملكها بالقوة والجبروت فمن لم يكن كذلك فقدشسعت بينه وبين الحرية المساوف، وكان بينهما مفاوز جمة المخاوف.

Ketahuilah, sesungguhnya orang yang merdeka tidaklah disebut merdeka kecuali apabila jiwanya telah terdidik dan tersucikan, tumbuh di dalamnya kekuatan kehendak, serta ia memperoleh bagian yang tidak sedikit dari ilmu yang benar. Kemudian ia berani melangkah membebaskan dirinya dari belenggu orang yang menguasainya dengan kekuatan dan kesewenang-wenangan. Maka barangsiapa yang tidak demikian keadaannya, sungguh telah jauh jarak antara dirinya dengan kemerdekaan, dan di antara keduanya terbentang padang-padang tandus yang dipenuhi ketakutan.

ليس بالحر من اتخذ الحرية عنوانا للرذائل، وطريقا للمفاسد، وسيفا يجتاب به أردية العفة، ورمحا يطعن به الفضيلة، وسهما يمزق أعراض الناس.

Bukanlah disebut orang merdeka, siapa saja yang menjadikan kemerdekaan sebagai panji bagi segala kehinaan, dan jalan menuju segala kerusakan; pedang yang dengannya ia merobek jubah kesucian, tombak yang dengannya ia menikam keutamaan, dan anak panah yang mencabik-cabik kehormatan sesama manusia.

وليس من الحرية أن يفعل الانسان ما يضربه وبغيره من إسراف في الأموال، وإضاعة للإنسانية، وإباحة للمنكرات، وسعي في إفساد الهيئة الاجتماعية، بها يأتيه من ضروب الإيذاء والنميمة والغيبة والعدوان، وغير ذلك من نقائص الأخلاق.

Bukanlah termasuk kemerdekaan, apabila manusia melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain, berupa pemborosan harta benda, penyia-nyiaan nilai-nilai kemanusiaan, penghalalan segala kemungkaran, serta upaya merusak tatanan kehidupan sosial, yang dengannya akan mendatangkan berbagai bentuk gangguan, adu domba, ghibah, permusuhan, dan berbagai kekurangan akhlak lainnya.

إن كثيرا من الناس يدَّعى الحرية، وقد لبس لبوس العبودية، فهو أسير لشهواته، عبد لزعامائه وأمرائه مملوك لنفسه الأمارة تدفعه إلى الموبقات فيجيب وتحفزه إلى السعاية بغيره والضرر به، فيطير إلى تلبيتها.

Sesungguhnya banyak orang yang mengaku dirinya merdeka, padahal ia telah mengenakan jubah perbudakan. Ia adalah tawanan hawa nafsunya sendiri, budak bagi para pemimpin dan penguasanya, serta milik nafsu ammarah-nya yang selalu menyuruh kepada keburukan. Nafsu itu mendorongnya kepada perbuatan-perbuatan yang membinasakan, dan ia pun segera menurutinya. Nafsu itu pula yang menggerakkannya untuk mengadu domba dan mencelakakan orang lain, maka ia pun bergegas memenuhi ajakannya.

وإن دعاه داعي العقل إلى ما يحييه، وأهاب به حادى الوجدان إلى ما يعليه، وناداه منادى الشهامة إلى ما ينهض بشعبه ويقويه، تَصامَّ عن النداء.

Namun apabila seruan akal memanggilnya kepada apa yang dapat menghidupkannya, dan panggilan nurani menyerukannya kepada apa yang dapat mengangkat derajatnya, serta seruan keluhuran budi memanggilnya kepada apa yang dapat membangkitkan dan menguatkan bangsanya, ia justru berpura-pura tuli terhadap seruan-seruan tersebut.

ثم هو بعد ذلك يدَّعى أنه إنسان حر وما الانسانية والحرية إلا عاملان للعمران، وركنان للإجتماع.

Kemudian, setelah semua itu, ia tetap mengaku sebagai manusia yang merdeka. Padahal, kemanusiaan dan kemerdekaan itu sejatinya tidak lain adalah dua unsur bagi tegaknya peradaban, dan dua pilar bagi terbentuknya masyarakat.

.أيَّةُ أمة أرادت أن تكون في ذروة من الحضارة سامية ومكانة من السعادة عالية، فعليها أن تربي أفرادها على الحرية الصحيحة، وتغذي أبناءها بدرها الطهور الخالص

Bangsa mana pun yang ingin berada di puncak peradaban yang luhur dan kedudukan kebahagiaan yang tinggi, maka ia wajib mendidik setiap individunya dengan kemerdekaan yang benar, serta menyusui putra-putrinya dengan air susu yang suci lagi murni.

.فانهضوا، أيها الناشئون، إلى الحرية الخالصة، الخالية من شوائب المدلسين فإنها سبيل النجاح، وهي الحياة السعيدة

Maka bangkitlah, wahai para generasi muda, menuju kemerdekaan yang murni, yang bersih dari noda-noda kaum pendusta. Sesungguhnya kemerdekaan itu adalah jalan menuju kesuksesan, dan ia adalah kehidupan yang berbahagia.