
Oleh: Abu Atiq
Setiap Agustus, Indonesia seperti kembali menemukan wajahnya. Merah putih berkibar, lagu-lagu perjuangan terdengar, upacara digelar. Kita merayakan keberanian sebuah bangsa yang 81 tahun lalu menyatakan: kami ingin menentukan nasib sendiri.
Semua itu layak dirayakan. Tetapi perayaan yang jujur semestinya juga memberi ruang untuk bertanya: kemerdekaan bukan hanya tentang apa yang telah kita tinggalkan, melainkan tentang manusia seperti apa yang sedang kita bentuk hari ini.
Kita membutuhkan negara yang kuat dan kehidupan yang sejahtera. Namun di balik semua itu ada sesuatu yang tidak mudah diukur dengan angka: kepekaan manusia terhadap manusia lainnya. Sebab sebuah bangsa mungkin tumbuh secara material, tetapi belum tentu tumbuh secara moral.
Matinya Daya Kejut
Kepekaan tidak hilang secara tiba-tiba. Ia berkurang sedikit demi sedikit. Dulu, melihat ketidakadilan membuat kita gelisah. Kini, yang dahulu membuat kita bertanya “Mengapa ini terjadi?” cukup dijawab dengan “Memang begitulah.”
Kita bisa melihatnya dalam hal-hal yang sudah biasa. Seorang pekerja migran meninggal di luar negeri, beritanya ramai sehari, lalu hilang. Banjir merendam pemukiman padat, warganet menggalang bantuan selama tagar masih trending, kemudian lupa. Seorang anak putus sekolah karena biaya, videonya viral, donasi mengalir tetapi sistem yang memproduksi kemiskinannya tidak pernah kita pertanyakan. Kita merespons peristiwa, tetapi semakin jarang mempertanyakan pola.
Kita hidup dalam zaman ketika penderitaan datang begitu dekat melalui layar telepon. Kita melihat, kita prihatin, kita berkomentar, kemudian kita berpindah. Berita berikutnya datang, dan penderitaan yang baru saja kita saksikan tenggelam dalam arus informasi.
Elie Wiesel, penyintas Holocaust, pernah mengingatkan bahwa ketidakpedulian bukanlah permulaan, ia adalah akhir. Ketidakpedulian selalu menguntungkan penindas, bukan korbannya.¹ Peringatan itu semakin relevan: kita tahu terlalu banyak. Pertanyaannya justru, apakah pengetahuan itu masih membuat kita peduli?
Rasa sebagai Tanggung Jawab
Apa yang membuat manusia tetap menjadi manusia? Dalam Islam, jawabannya melampaui kecerdasan. Manusia dipanggil untuk menegakkan keadilan dan menghadirkan kebaikan:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”²
Keadilan dan kebajikan membutuhkan manusia yang masih mampu merasakan bahwa perlakuan terhadap sesama memiliki nilai moral. Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam memberikan ruang bagi hati dalam menghadapi kemungkaran:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.”³
Tidak semua orang memiliki kekuasaan untuk mengubah keadaan. Tetapi ada satu wilayah yang tetap menjadi tanggung jawab kita: apa yang kita biarkan menjadi benar di dalam hati. Jangan sampai ketidakadilan yang sering kita lihat akhirnya terasa wajar. Di situlah kepekaan berubah menjadi tanggung jawab.
Satu Tubuh, Satu Takdir
Martin Luther King Jr. pernah menulis bahwa ketidakadilan di mana pun adalah ancaman bagi keadilan di mana-mana, karena manusia terjerat dalam jaringan mutualitas yang tak terhindarkan.⁴ Kita sering membagi hidup menjadi “urusan saya” dan “urusan mereka.” Selama masalah belum menyentuh keluarga kita, kita merasa aman. Padahal kehidupan bersama tidak bekerja seperti itu.
Islam menegaskan keterhubungan ini:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan merasakan adalah seperti satu tubuh; apabila satu anggota merasakan sakit, seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”⁵
Inilah makna gotong royong yang lebih dalam: bukan sekadar bekerja bersama, tetapi memiliki kesadaran bahwa kesulitan orang lain tetap menyentuh kemanusiaan kita bersama.
Peka, tetapi Bukan Gaduh
Kepekaan tidak berarti selalu bereaksi. Tidak semua diam berarti tidak peduli. Ada diam karena sedang berpikir, karena memilih cara yang lebih bijaksana. Al-Ghazali menegaskan syarat-syarat bertindak dalam menghadapi kemungkaran:
وَاعْلَمْ أَنَّ الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ يَحْتَاجُ إِلَى الْعِلْمِ وَالْوَرَعِ وَالرِّفْقِ
“Ketahuilah bahwa amar makruf nahi mungkar membutuhkan ilmu, sikap wara (kehati-hatian), dan kelembutan.”⁶
Al-Qur’an sendiri mengingatkan agar kita tidak tergesa-gesa dalam menyikapi informasi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”⁷
Kita dapat kritis tanpa merendahkan. Berbeda tanpa membenci. Membela yang lemah tanpa merasa paling benar. Kepekaan bukan hati yang mudah terbakar, melainkan hati yang tidak mudah mati rasa.
Bahaya Berhenti Bertanya
Hannah Arendt memperkenalkan gagasan tentang bagaimana kejahatan dapat tumbuh dari ketidakberpikiran: “The sad truth is that most evil is done by people who never make up their minds to be good or evil. […] The manifestation of the wind of thought is not knowledge; it is the ability to tell right from wrong, beautiful from ugly.”⁸ Bahwa kebenaran yang menyedihkan adalah bahwa sebagian besar kejahatan dilakukan oleh orang-orang yang tidak pernah memutuskan untuk menjadi baik atau jahat. […] Perwujudan dari angin pemikiran bukanlah pengetahuan; melainkan kemampuan untuk membedakan yang benar dari yang salah, yang indah dari yang buruk.
“Memang begitulah” menjadi cara kita berdamai dengan hal-hal yang seharusnya tidak pernah kita terima. Dalam tradisi Islam, hati yang berhenti bertanya adalah hati yang telah mati fungsinya. Al-Qur’an menggambarkan kondisi ini:
لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا
“Mereka memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk memahami, memiliki mata tetapi tidak digunakan untuk melihat, dan memiliki telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar.”⁹
Maka salah satu bentuk kemerdekaan yang paling penting adalah kemerdekaan untuk bertanya ulang. Apakah yang sudah biasa selalu benar? Apakah yang dilakukan banyak orang otomatis dapat dibenarkan? Dari pertanyaan sederhana itulah nurani tetap terjaga.
Merdeka Bukan Hanya Bebas
Kemerdekaan tidak berhenti pada terbebasnya bangsa dari penjajahan. Ia juga tentang bebas untuk peduli, berkata benar, mempertanyakan ketidakadilan, dan menjaga nurani ketika lingkungan mengajak kita menjadi masa bodoh.
Delapan puluh satu tahun adalah waktu yang panjang. Kita punya banyak alasan untuk bersyukur. Tetapi pendidikan yang tinggi tidak otomatis melahirkan empati. Teknologi tidak otomatis membuat manusia lebih manusiawi. Kebebasan tidak otomatis membuat kita bertanggung jawab.
Tulisan ini bukan nasihat untuk orang lain. Saya pun bisa kehilangan kepekaan. Kita semua bisa. Maka pertanyaan yang paling jujur di usia 81 tahun Indonesia bukan “Mengapa orang lain semakin tidak peduli?” melainkan “Apakah saya sendiri masih peka?”
Masihkah hati kita tidak nyaman melihat seseorang diperlakukan tidak adil? Masihkah kita tergerak melihat orang lain kesusahan? Dan ketika kita tidak mampu melakukan banyak hal, apakah hati masih mampu berkata: “Ini tidak benar.”
Jika suara itu masih ada, nurani belum hilang. Ia hanya perlu lebih sering kita dengarkan.
Maka barangkali perjuangan kemerdekaan yang paling sederhana hari ini dimulai dari hal-hal kecil: menolak untuk ikut tertawa ketika seseorang dipermalukan, memilih untuk tidak meneruskan berita yang belum kita verifikasi, meluangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan ketika seseorang bercerita tentang kesulitannya, atau sekadar berhenti sejenak sebelum menggulir layar ke berita berikutnya, dan bertanya: apa yang bisa saya lakukan untuk ini?
Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi bangunannya atau seberapa maju teknologinya. Ia juga ditentukan oleh satu hal yang jauh lebih sunyi: apakah manusia di dalamnya masih mampu merasa ketika manusia lainnya terluka.
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA
Semoga setelah 81 tahun merdeka, kita bukan hanya semakin maju sebagai bangsa, tetapi juga semakin manusiawi sebagai manusia.
Catatan Kaki:
- Elie Wiesel, “The Perils of Indifference,” pidato di hadapan Kongres Amerika Serikat, Washington D.C., 12 April 1999.
- An-Nahl [16]: 90.
- Muslim, Kitāb al-Īmān, no. 49a, dari Abu Sa’id al-Khudri raḍiyallāhu ‘anhu.
- Martin Luther King Jr., Letter from Birmingham Jail, 16 April 1963.
- Muslim, no. 2586, dari an-Nu’man ibn Bashir raḍiyallāhu ‘anhu.
- Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Jilid II, Kitāb al-Amr bi al-Ma’rūf wa al-Nahy ‘an al-Munkar, Rukun Ketiga: al-‘Ilm.
- Al-Ḥujurāt [49]: 6.
- Hannah Arendt, The Life of the Mind (New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1978), Vol. I: Thinking, hlm. 180.
- Al-A’rāf [7]: 179.

